Alkitab vs Qur'an,  Isu-Isu Terkini,  Kesaksian Kristen,  Keselamatan dalam Kristen vs Islam,  Yesus Kristus vs Isa Almasih

Apakah Ada Perbedaan Antara Islam dan Kristen? Seri – 2

Kesaksian Pribadi, dicuplik dari best seller: “NO GOD BUT ONE”,
by Nabeel Qureshi

CARA HIDUP: SEBUAH HUKUM ATAU SEBUAH PRIBADI?

Tapi persamaan-persamaan yang banyak itu tidaklah berarti bahwa perbedaannya tidak penting. Manusia dan chimpanse memiliki 95% DNA yang sama, tapi sisanya 5% itu ternyata sangat penting!

Begitu juga dengan Islam dan Kristen. Keduanya punya DNA yang sama, tapi karakteristiknya sangatlah berbeda. Perbedaan-perbedaan terbesar terdapat pada pesan terakhir masing-masing agama. Menurut Islam, jalan menuju surga adalah syariah, yang merupakan kode hukum yang harus diikuti untuk menyenangkan Allah dan mendapatkan ridha-Nya. Syariah secara harafiah berarti “jalan.” Menurut pesan Injil dalam kekristenan, jalan menuju keselamatan abadi adalah Yesus. Dia berkata, “Akulah Jalan, Kebenaran, dan Hidup; tiada seorang pun yang bisa datang pada Bapa kecuali melalui Aku” (Yohanes 14:6). Dia Yesus adalah sebuah Pribadi. Namun dalam Islam, syariah – yang adalah sebuah Hukum– itulah jalan yang benar, sedangkan dalam Kristianitas, Yesus adalah jalan yang benar.

Bagaimana mungkin jalan hidup di satu agama adalah sebuah perangkat hukum, sedangkan di agama yang lain adalah seorang Pribadi? Untuk mengerti hal ini, kita harus membandingkan syariah dengan Injil.

MEMBANDINGKAN SYARIAH DAN INJIL

PANDANGAN ISLAM

Kata Islam berarti “tunduk,” dan pesan Islam yang sederhana memang persis seperti itu: semua manusia harus tunduk di bawah kehendak Tuhan. Allah, yang telah menetapkan takdir dunia, membuat umat manusia dengan tujuan untuk menyembahnya (Qur’an 51:56). Untuk membimbing umat manusia, Allah mengirimkan nabi-nabi bagi semua orang untuk menuntun mereka keluar dari kesesatan (Qur’an 4:163-165).

Penting diperhatikan di sini bahwa konsep nabi dalam Islam tidaklah sama dengan nabi di Alkitab. Nabi-nabi dalam Islam memiliki status yang lebih tinggi dibandingkan semua orang, karena dipilih oleh Tuhan untuk memimpin umat manusia. Qur’an menggunakan istilah ini untuk menyatakan sosok pemimpin yang ditunjuk Tuhan, dan bukan hanya seseorang yang menyampaikan wahyu illahi.

Adam digolongkan sebagai nabi pertama, demikian juga orang-orang berikut dianggap sebagai nabi dalam Qur’an: Nuh, Abraham, Ishmael, Ishak, Yakub, Ayub, Musa, Yunus, Harun, Salomo, Daud, dan tentu saja, Yesus (Qur’an 4:163). Karena orang-orang ini tunduk semua pada Allah SWT, mereka mempraktekkan Islam. Dengan begitu, mereka termasuk orang-orang yang tunduk (Muslim). Semua orang yang mengikuti para nabi dengan bersikap tunduk pada Allah juga dianggap sebagai Muslim, bahkan mereka yang lahir di jaman sebelum Muhammad sekalipun.

Allah mewahyukan bimbingannya bagi setiap nabi sewaktu orang-orang membutuhkannya dan sebanyak yang bisa mereka menanggungnya. Contohnya, orang-orang yang dipimpin Musa perlu memberontak demi kebebasannya dengan melawan Firaun, maka lalu Allah mewahyukan ayat “mata ganti mata, gigi ganti gigi.” Tetapi para pengikut Yesus membutuhkan sikap damai, sehingga Tuhan Elohim mengajarkan mereka untuk “menawarkan pipi sebelah yang lainnya” (tatkala sebelah pipi kita sudah ditampar). Baik Musa dan Yesus, juga nabi-nabi lainnya, diberi kitab suci. Para malaikat mengimlakan firman Allah pada mereka, dan wahyu lalu ditulis menjadi Taurat, Injil, dan buku-buku lainnya (Qur’an 5:46).

Tragisnya, orang-orang tidak setia mengikuti nabi-nabi yang diutus Allah bagi mereka. Maka karena belas kasihanNya, Allah mengirim Muhammad dan memberinya Qur’an. Dengan begitu, Allah memberi umat manusia agama terakhir yang sempurna (Qur’an 5:3). Karena itu, diyakini bahwa Islam adalah puncak dari Yudaisme, Kristen, dan agama-agama dunia lainnya, yang sejalan dengan ajaran Islam.

Semua orang yang mengikuti agama lain setelah Muhammad muncul adalah orang-orang yang tersesat atau memberontak, dan tiada agama lain yang diterima Allah di hari kiamat selain Islam (Qur’an 3:81-85).

Di hari kiamat itulah para Muslim terutama melihat manfaat mengikuti Islam. Qur’an menekankan bahwa di hari itu, semua orang akan dihakimi Allah atas dosa-dosa mereka (Qur’an 6:164, 17:15, 35:18, 39:7, 53:38). Inilah pengertian yang terpatri dalam bathin Muslim: Meskipun Tuhan mungkin saja pemurah dan membebaskan umat Muslim dari dosa-dosa mereka, tiada seorang pun yang bisa memberi syafaat (menjadi perantara untuk keselamatan). Muslim harus hidup setaat mungkin agar bisa masuk surga, dan berharap atas penghakiman yang penuh rahmat pengampunan dari Tuhan agar bisa selamat.

SOLUSI ISLAMIAH: SYARIAH

Akan tetapi, Islam mengajarkan bahwa masalah utama manusia adalah ketidaktahuannya, sehingga manusia perlu dibimbing agar bisa hidup dengan baik. Begitu orang tahu apa yang harus diimani, atau aqidah, dan bagaimana cara hidup, atau syariah, maka mereka akan menerima berkat dari Allah.

Tentang bagaimana beriman dengan benar, penekanannya terdapat pada konsep Islam monotheisme: Allah itu bukan seorang Bapak, dan Allah tidak punya Anak (Qur’an 112). Dia merupakan satu kesatuan absolut, sebuah sosok yang satu saja.

Komponen dasar aqidah yang lain telah disebut di atas seperti: beriman pada para nabi, beriman kitab-kitab suci, beriman pada malaikat-malaikat dan yang tak tampak, beriman pada hari kiamat, dan beriman pada takdir Allah. Semuanya ini disebut sebagai Enam Pokok Iman. Ada banyak lainnya tentang kepercayaan Islam, tapi inilah intinya.

Cara mempraktekkan Islam secara benar dipelajari melalui Hukum Islam yang disebut syariah, yang artinya adalah “jalan menuju air.” Bagi orang-orang yang tinggal di padang pasir, konsep ini terasa sangat kuat: mengikuti syariah berarti menuju jalan kehidupan. Syariah menetapkan aturan bagi setiap aspek kehidupan Muslim, dari cara makan, penggunaan mata uang, sampai ke kata-kata yang harus diucapkan saat sholat. Dari seluruh ibadah Islam, ada lima hal yang paling utama: menyatakan motto Islam yakni syahadat: “Tiada illah lain selain Allah, dan Muhammad adalah Rasulullah”; sholat lima kali sehari; puasa di bulan Ramadan; bayar zakat; dan naik haji di Mekah. Kelima kewajiban ini disebut sebagai Lima Pilar Islam.

Baik aqidah maupun syariah bersumber pada kehidupan dan ajaran Muhammad. Dialah sosok yang menyatu dengan Islam, dan karena itulah Muslim dituntut untuk mengikutinya sebagai suri teladan nan sempurna. Perbuatan dan perkatannya sewaktu hidup dicatat dalam literatur yang besar yang disebut sebagai hadis. Begitu pentingnya kedudukan hadis ini, setelah Qur’an, sehingga mereka membentuk bagian kedua syariah.

Karena banyaknya hal yag harus dipelajari dalam Qur’an dan begitu banyaknya koleksi hadis yang ada, maka hanya pihak ahli Islam saja yang mengerti benar syariah. Para Muslim yang ahli hukum Islam mempelajari tradisi-tradisi dan aturan-aturan hukum dalam hadis sebelum mengeluarkan keputusan resmi, yang disebut fatawa (bentuk jamak dari fatwa). Orang-orang ini disebut sebagai fuqaha, tapi mereka seringkali disebut sebagai pemimpin Muslim yakni imam. Secara bersama, mufakat dari para ahli Islam ini disebut ijma dan dimengerti sebagai komponen utama syariah yang ketiga.

Akhirnya, kita sampai pada tempat untuk mengerti pesan Islam. Syariah itu lebih dari sekedar hukum Islam. Syariah merupakan jawaban bagi ketidaktahuan manusia, dan, jika diikuti, akan menghasilkan kehidupan damai bersama Allah dan menerima berkatnya yang berkelimpahan.

Syariah diambil dari Qur’an, contoh cara hidup Muhammad dalam hadis, dan dijelaskan oleh para imam. Di hari kiamat, jika umat Muslim taat dan takwa, maka Allah akan menganugerahi mereka pengampunan dan mengijinkan mereka masuk surga untuk hidup abadi. Jadi singkatnya, dalam perihal keselamatan dalam Islam, maka syariah adalah “jalan” sebenarnya, dan tunduk pada kehendak Allah merupakan ungkapan utama dalam beribadah.

PANDANGAN KRISTEN

Awal dari pandangan Kristen adalah Tuhan yang satu, yakni Yahweh. Dia yang satu dalam hakekat Ilahi hadir sebagai tiga pribadi yang mengasihi satu sama lain dengan sempurna. Dengan begitu, intisari Tuhan itu adalah cinta kasih. Melalui relasional cinta kasih itu, Tuhan menciptakan umat manusia berdasarkan citra diriNya, sehingga Tuhan mencintai manusia dan manusia mencintai Tuhan, juga relasional.

Penting diperhatikan bahwa konsep cinta kasih itu seringkali salah dimengerti oleh Muslim karena berbagai cara kata “cinta” itu digunakan. Bentuk cinta kasih yang kita bicarakan adalah kasih agape. Ini bukan cinta kasih seperti dalam hubungan romatis laki dan wanita; bentuk cinta kasih agape ini tidak menyiratkan banyak gejolak emosi. Alkitab memberi penjelasan indah tentang cinta kasih ini di 1 Korintus 13, dan intinya adalah ini: cinta kasih tanpa pamrih yang senang melayani orang lain. Begitulah siapa Tuhan itu, maha perkasa tapi juga yang paling rendah hati, pusat seluruh jagad raya tapi tidak pernah mementingkan diri sendiri. Dia menciptakan umat manusia sehingga Dia bisa menyenangkan diri dalam kita, dan kita dalam Dia, dengan cinta kasih tanpa pamrih.

Tapi agar cinta kasih bisa berarti, maka ini harus dilakukan dengan sukarela, sehingga Tuhan memberi manusia kebebasan memilih (free-will) untuk mencintai Dia atau menolak Dia. Ketika manusia menentang Tuhan, hal ini sama dengan menolak Tuhan. Sikap menolak Sumber Kehidupan mengakibatkan kematian pada diri sendiri. Dengan kata lain, akibat dosa itu adalah maut karena dosa adalah penolakan terhadap Sumber Kehidupan.

Karena itulah, dalam pandangan Kristen, dosa terhadap Tuhan itu lebih daripada sekedar melakukan hal yang salah. Dosa adalah pemberontakan terhadap Sang Penopang Jagad Raya. Dosa merupakan kekuatan yang paling menghancurkan di seluruh kosmos. Dosa adalah akar utama dari setiap hati yang menderita, setiap keluarga yang hancur, setiap peperangan tiada guna, setiap genosida yang mengerikan. Dosa menyebar dari satu generasi ke generasi berikutnya seperti kanker ganas, dan meruntuhkan kebudayaan bagaikan penyakit sampar. Akibat dosa adalah malapetaka dahsyat. Seperti sebuah palu yang menghantam sebuah cermin, dosa menghancurkan citra manusia. Ketika Adam berdosa, citra Tuhan dalam manusia menjadi rusak tanpa bisa diperbaiki.

Inilah pandangan Kristen: Dosa telah membinasakan jiwa manusia dan seluruh dunia. Tiada jalan bagi –dengankekuatan kita–  untuk tidak berdosa lagi. Kita tidak bisa hanya berbuat sedikit kebaikan demi mengutuhkan kembali jiwa kita. Tiada apapun di bumi ini yang bisa kita lakukan. Dibutuhkan kekuatan muzizat, tindakan Illahi, untuk mengutuhkan kembali keadaan kita dan menyelamatkan dunia.

SOLUSI KRISTEN: INJIL

Tapi dalam pesan Kristen terdapat kabar yang baik. Dalam bahasa Yunani, kata untuk ‘kabar baik’ adalah euangelion, yang dalam bahasa Inggris diterjemahkan sebagai “gospel” (dan dalam bahasa Arab: Injil). Dan kabar baik ini adalah: Meskipun kita tidak bisa mencapai Tuhan, tapi karena kasih karuniaNya yang begitu besar, Tuhan sendiri-lah yang datang mencapai kita dan membuka jalan bagi kita. Tuhan sendirilah yang menebus dosa kita dan memulihkan jiwa kita secara abadi. Yang hanya perlu kita lakukan adalah bertobat dari pemberon-takan kita, beriman pada apa yang telah Dia lakukan, dan mengikuti Dia.

Untuk menebus dosa kita, Tuhan – terutama pribadi kedua dari Trinitas — itu masuk ke dunia. Tanpa merubah sifat illahiNya, Tuhan muncul dalam bentuk manusia. Dia lahir sebagai manusia, tapi tidak dari keturunan Adam yang telah rusak. Dia lahir tanpa kerusakan apapun, sebagaimana mestinya keadaan umat manusia itu sebenarnya, dan itulah yang akan terjadi saat kita dibentuk kembali secara ajaib. Dia mengambil nama Yesus, yang berarti Tuhan menyelamatkan.”

Sesuai dengan sifat manusianya, dia tumbuh sebagai seorang manusia, makan seperti seorang manusia, menderita bersama manusia lainnya, dan akhirnya mati sebagai manusia. Selama seluruh proses kehidupannya, dia tidak pernah berdosa, dengan begitu dia (yang tanpa dosa) bisa menanggung dosa kita semuanya yang tervonis kematian masuk keneraka (yaitu lewat kematian diriNya yang berkurban untuk kita) . Dia menjalani kehidupan seperti seharusnya manusia hidup, agar dia bisa mati dengan kematian yang seharusnya kita layak alami. Melalui kematian-kurban demi kita, Dia menanggung dosa dunia, sehingga barang siapa yang percaya padaNya dan menerima apa yang Dia telah lakukan, akan beroleh kehidupan abadi.

Dari sudut pandang manusia yang melihat Yesus, yang tampak mungkin adalah orang biasa yang menderita kematian biasa. Karena itu, untuk membuktikan pada dunia bahwa kematianNya bukanlah sekedar kematian biasa tapi kematian yang membawa kehidupan bagi dunia, dan untuk membuktikan bahwa Dia benar-benar Tuhan seperti yang diakuiNya sendiri, maka Dia bangkit dari kematian. Di satu pihak, kebangkitan ini merupakan tanda bagi semua orang yang tidak percaya bahwa Yesus itu benar-benar memiliki kekuasaan supra-natural dan layak untuk didengarkan. Di lain pihak, kebangkitan ini merupakan simbol bagi mereka yang percaya padaNya bahwa kematian telah dikalahkan. Yesus telah mengalahkannya bagi kita.

Orang yang berharap menerima pengorbanan Tuhan demi nasibnya, harus bertobat dari segala dosanya dan bertekad mengikut Dia. Jika itu dilakukan, Tuhan – terutama pribadi ketiga dari Trinitas yakni Roh Kudus – membuat jiwa orang itu menjadi bait suci dan hidup di dalamnya. Dia mentransformasikan diri orang tersebut dari dalam keluar (from the inside out). Dengan kata lain, sewaktu seseorang mengikut Yesus, maka orang itu kian menjadi mirip dengan Dia yang tak bercacat, dan Roh Kudus perlahan-lahan mulai melakukan pekerjaan mukjizat dalam me-restorasikan jiwa kita yang tak dapat diperoleh dengan cara lainnya.

Seperti Yesus, kita dipenuhi dengan kasih yang non-egois, dan kita mulai hidup baru yang membagikan kasih kita bagi orang lain pula, sama seperti halnya Tuhan yang hidup dengan penuh kasih dan peduli kepada kita. Bahkan ada yang lebih jauh lagi hingga kepada sikap rela berkorban sampai mati bagi orang lain, sama seperti Yesus telah bersedia mati bagi umat manusia yang Dia kasihi. Mereka menjadi mirip seperti citra Tuhan: merasa sukacita dalam kasih melayani orang lain tanpa pamrih. (Ini juga yang dikatakan oleh Quran dalam idiom bahasa yang berbeda dalam QS.57:27, “dan Kami berikan kepadanya (Isa) Injil dan Kami jadikan dalam hati orang- orang yang mengikutinya rasa santun dan kasih saying”).

Akhirnya kita berada pada tempat untuk mengerti pesan Kristianitas: Masalah utama umat manusia adalah dosa, manusia sudah menjadi hamba (budak dosa), dan manusia tidak mampu menyelamatkan dirinya sendiri. Untungnya, Tuhan sangat mencintai kita manusia sedemikian rupa sehingga Dia membuka jalan bagi kita dengan membayar tebusan dosa dengan berkurban diri di atas kayu salib.

Yesus sudah membuktikan bahwa Dia adalah Penulis Kehidupan dengan kebangkitanNya dari kematian. Dan kita yang bertobat dan menjadi pengikut Yesus kini menunjukkan iman kita kepadaNya dan kepada karya keselamatanNya, dan Tuhan mulai melakukan transformasi di dalam diri kita. Sewaktu kita mengikuti Yesus, maka Roh Kudus membuat kita lebih menyerupai Yesus dan menempatkan kita di dunia ini untuk mencintai umat manusia dengan cinta kasih tanpa pamrih dari Tuhan. Orang itu bahkan bisa mengorbankan dirinya bagi orang lain, seperti yang Yesus lakukan bagi manusia. Restorasi manusia yang paling sempurna akan membuahkan hasilnya yang ajaib ketika kita telah dibentuk kembali, menjadi tak bercela, dan hidup bersama Dia dan mencintai Dia selamanya.

Jadi, untuk mendapatkan keselamatan dalam Kristianitas, maka Yesus itulah “sang jalan”, Pribadi ilahi secara harafiah, dan cinta manusia pada Tuhan merupakan ekspresi ibadahnya yang paling utama.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *