Alkitab vs Qur'an,  Isu-Isu Terkini,  Keselamatan dalam Kristen vs Islam,  Yesus Kristus vs Isa Almasih

Mengenal Tuhan Secara Pribadi Pesan Kristiani bagi Dunia Muslim

Introduksi : Iman Sejati atau Monoteisme Formal?

Orang-orang Kristen dan Muslim memiliki banyak hal yang mirip. Mereka percaya kepada satu Tuhan, beribadah di tempat suci (Gereja dan Mesjid), memiliki kalender keagamaan tahunan yang mirip (Natal, Jumat Agung, Paskah bagi orang Kristen, Idul Fitri, Idul Adha, Laylatu’l Miraj dan Laylatu’l Qadar bagi orang-orang Muslim), dan mengkhususkan satu hari dalam seminggu bagi komunitas umum untuk melakukan ibadah bersama (masing-masing hari Minggu dan Jumat). Jika dilihat dari luar, kedua agama ini bisa terlihat sangat mirip. Ibadah mereka bisa menjadi sesuatu yang sangat formal dan merupakan pengulangan-pengulangan. Shalat bagi Muslim, secara khusus, mengikuti pola yang sama hari lepas hari, tahun lepas tahun, dekade lepas dekade, tanpa variasi. Azan, panggilan untuk sembahyang, juga tidak pernah berubah. Ibadah Haji mengabadikan sebuah rangkaian yang sifatnya pasti dan merupakan praktek-praktek keagamaan yang telah dilakukan tanpa perubahan selama empat belas abad. Tidak berbeda dengan banyak gereja-gereja Kristen. Para imam Katolik dan Ortodoks mengucapkan doa-doa yang sama yang telah disusun sedemikian rupa, minggu lepas minggu, sama seperti yang dilakukan para imam Muslim.

Beberapa tahun lalu ada seorang wanita Muslim yang berkata kepada saya, “Kapan saja saya pergi ke pekuburan, saya melihat semua kuburan Muslim berada di satu sisi dan kuburan-kuburan Kristen di sisi lainnya, dan saya berkata kepada diri saya sendiri, apa bedanya?” Respon saya adalah,”Jika anda mencari yang hidup di antara orang mati, maka anda tidak akan menemukan banyak hal.” Yudaisme pun tidaklah berbeda. Ketiga agama monoteisme telah melembagakan sistem-sistem keagamaan mereka, berjalan berkeliling sementara mereka kembali setiap tahun kepada rutinitas perayaan-perayaan dan hari-hari suci yang sama; semuanya didasarkan pada apa yang cocok pada bagian luar dari ibadah formal. Seorang penjaga toko di Yerusalem suatu kali berkata, “Hanya ada tiga bisnis besar di Yerusalem. Yang pertama adalah mengumpulkan uang pada hari Jumat, yang kedua pada hari Sabtu, dan ketiga pada hari Minggu.” (Kutipan ini diambil dari video Discovery Jerusalem: City Of Heaven).

Apakah ini yang Tuhan inginkan? Sebuah komitmen seperti budak terhadap pengulangan-pengulangan seremonial selama kita hidup? Sebuah ayat dari Alkitab memperlihatkan bagaimana monoton dan sia-sianya hal ini. Saya akan menonjolkan kata-kata kunci untuk memberikan penekanan pada intinya: ‘Dan sesungguhnya setiap imam terus menerus berdiri tiap-tiap hari untuk menyelenggarakan pelayanan dan dengan berulang-ulang mempersembahkan kurban-kurban yang sama, yang tidak pernah dapat menghapuskan dosa-dosa’ (Ibrani 10:11 – KSILT*). Hal yang ironis tampak nyata di sini ketika anda membandingkan pengulangan-pengulangan dengan ketidakmampuan mereka untuk meraih apa pun: setiap – tiap-tiap hari – berulang-ulang – yang sama – tidak pernah dapat!

Islam menempatkan sebuah penekanan yang luar biasa terhadap ibadah formal yang dilaksanakan berulang-ulang. Tidak ada ruang bagi Dia (Tuhan) atau pujian yang bersifat spontan ketika mereka melakukan setiap rakaat. Seorang Muslim sejati tidak hanya memelihara janggut, tetapi mereka akan mengguntingnya sedemikian rupa hingga bentuk dan panjangnya sesuai dengan sunnah Muhammad. Sebuah topi dengan model tertentu harus dikenakan ketika sembahyang di sebuah mesjid. Sepatu harus dilepaskan. Gerakan yang sama saat mencuci anggota-anggota tubuh tertentu (wudhu) haruslah selalu mengikut apa yang sudah digariskan oleh Qur’an: ‘Cucilah mukamu, dan tanganmu hingga ke sikut, dan seka kepala dan kakimu hingga ke tumit’ (Sura 5:6). Setiap rakaat (membungkuk) dan sajdah (sujud) harus dilakukan secara berbarengan dengan jemaat lainnya yang hadir di mesjid itu, dengan cara yang sama, waktu yang sama, setiap hari. Selama qa’dah (posisi duduk), taslim yang sama harus diucapkan oleh setiap jemaat dimana mereka mengucapkan salam ke sebelah kiri dan kanannya. Sama sekali tidak diijinkan membuat variasi bagi seremoni ini.

Islam mengklaim bahwa mereka sebenarnya hanya mempraktekkan kembali agama yang aslinya merupakan penundukan kepada Allah, sebagaimana yang telah diikuti dan dipraktekkan oleh semua nabi-nabi sebelumnya. Qur’an mengatakan bahwa ia datang hanya sebagai sebuah tasdiq, sebuah ‘konfirmasi’ (penegasan) dari apa yang ada sebelumnya (Sura 10:37), dan bukan sebagai sebuah bentuk agama yang baru. Jika demikian, agama sejati dari Tuhan harus selalu berfokus pada hal yang formal, penundukan yang berulang-ulang, penghormatan dari seorang hamba kepada sesosok Tuan yang ilahi, yang tidak bisa dikenal dan dikasihi secara personal berdasarkan siapa Dia sesungguhnya.

Alkitab menggambarkan sebuah lukisan yang sama sekali berbeda. Ia tidak melihat agama Tuhan sebagai sesuatu yang selalu sama, hanya sebagai sesuatu yang cocok dengan pola-pola ibadah tertentu yang tidak pernah dan tidak akan pernah berubah. Sebagaimana ia mencakup sejarah dari hubungan Tuhan dengan umatNya, ia memperlihatkan sebuah kemajuan dan ekspansi bagaimana Tuhan menarik diriNya lebih dekat lagi dengan umat kepunyaanNya, dan menyelesaikannya dengan sebuah klimaks yang penuh kemuliaan ketika Ia mengambil inisiatif untuk menebus umatNya dengan mengundang mereka kepada sebuah hubungan yang hidup, personal dengan diriNya. Bukan sebagai para pelayanan yang harus melakukan kewajiban-kewajiban mereka, tetapi sebagai anak-anak yang dilahirkan dari RohNya yang Kudus, yang dosa-dosanya diampuni, dan disimpan untuk kemuliaan yang kekal. Bergabunglah dengan saya dalam sebuah perjalanan dimana kami telah menemukan pesan Kristiani kepada dunia Muslim.

Kain dan Habel: Satu-Satunya Korban Yang Bisa Diterima

Ada banyak agama di bumi kita ini. Termasuk di dalamnya Yudaisme yang ditemukan oleh Musa, Kekristenan oleh Yesus, Islam oleh Muhammad, Budhisme oleh Sidharta Budha Gautama, dan masih banyak yang lain seperti Hinduisme yang tidak diketahui siapa yang memulainya. Namun demikian, surga hanya melihat tiga hal. Yang pertama adalah anti-theisme. Ini adalah penyembahan kepada segala sesuatu selain Tuhan, menyembah ciptaan dan bukannya Sang Pencipta. Apakah itu penghormatan terhadap berhala-berhala pagan, roh-roh leluhur atau makhluk-makhluk lainnya, semua itu tidak ada bedanya. Semuanya sama saja dengan malaikat-malaikat di surga – penyembahan terhadap sesuatu dan segala sesuatu selain dari penyembahan kepada Tuhan yang sejati. Alkitab menggambarkan anti-theis (orang-orang yang anti kepada Tuhan) dengan sempurna: ‘Sebab sekalipun telah mengenal Elohim, mereka tidak memuliakan Dia sebagai Elohim atau mengucap syukur, sebaliknya mereka diserahkan kepada kesia-siaan oleh pikiran-pikiran mereka, dan hati mereka yang tanpa pengertian telah digelapkan. Dengan mengaku diri bijak, mereka telah dibuat bodoh dan menukar kemuliaan Elohim yang tidak fana dengan keserupaan gambaran manusia yang fana dan burung-burung dan binatang berkaki empat dan binatang melata’ (Roma 1:21-23). Definisi itu disimpulkan demikian: ‘yang telah menukar kebenaran Elohim dengan kepalsuan, dan telah menyembah serta beribadah kepada makhluk ciptaan, selain yang menciptakan, yaitu yang terberkati sampai selamanya. Amin’ (Roma 1:25).

Hanya ada dua agama di bumi, menurut pandangan surga, yang merupakan agama-agama yang tertua yang pernah eksis. Kedua agama itu didirikan pada hari yang sama oleh dua bersaudara, dan pada penampakan luarnya kedua agama itu terlihat sangat mirip. Kedua bersaudara itu adalah Kain dan Habel, anak-anak Adam dan Hawa. Pada hari dilangsungkannya upacara religius yang pertama di muka bumi, Kain dan Habel masing-masing membawa persembahan kepada Tuhan. Kain telah menjadi seorang petani, seorang yang mengusahakan tanah. Maka ia membawa sebagian hasil kerjanya dan mempersembahkannya kepada Tuhan. Tetapi Habel menjadi seorang gembala, maka ia membawa persembahan yang berbeda, ia mempersembahkan anak dombanya dan bagian-bagian yang berlemak. Nampaknya tidak ada perbedaan yang jelas antara kedua jenis persembahan itu, namun Alkitab berkata ‘Dan YAHWEH berkenan kepada Habel dan pada persembahannya. Dan kepada Kain dan pada persembahannya Dia tidak berkenan’ (Kejadian 4:4-5). Apa yang kemudian terjadi adalah peristiwa yang sangat tidak terlupakan: Kain menjadi marah dan memusuhi adiknya, membunuhnya di ladang.

Qur’an mengkonfirmasi kisah tersebut: ‘Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Kabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Kabil). Ia berkata (Kabil): Aku pasti membunuhmu’ (Sura 5:27). Kedua kitab suci (Alkitab dan Qur’an) tidak mengatakan mengapa persembahan Kain ditolak, tetapi Alkitab terus menunjukkan mengapa Habel disukai Tuhan. Alkitab mengatakan ‘Dengan iman Habel telah mempersembahkan kepada Elohim kurban yang lebih baik daripada Kain; olehnya dia telah dijadikan kesaksian sebagai orang yang benar ketika Elohim memberi persetujuan atas persembahannya itu, dan melalui hal itu ia masih berbicara sesudah ia meninggal’ (Ibrani 11:4). Kata-kata kuncinya adalah dua kata pertama: Dengan iman Habel mendapatkan perkenanan Tuhan.

Kurban Habel mengatakan pada anda apa itu iman. Ia mencurahkan darah anak dombanya. Habel mengasihi Tuhan, tetapi ia sangat menyadari bahwa ada kalanya ia pun dapat bersikap sedingin Kain abangnya. Ia menyadari bahwa ia juga termasuk ke dalam dosa orangtuanya di Taman Eden dan bahwa ia tidak dapat memberikan sesuatu kepada Tuhan dari hasil keringatnya untuk menebus dirinya sendiri. Bagaimanapun ia juga tahu, bahwa Tuhan telah memperingatkan si ular di Taman: ‘Dan Aku akan mengadakan permusuhan antara engkau dengan perempuan ini, dan antara keturunanmu dan keturunannya. Keturunannya akan meremukkan kepalamu dan engkau akan meremukkan tumitnya’ (Kejadian 3:15). Pernyataan ini jelas mengatakan bahwa suatu hari Tuhan akan membangkitkan seorang Juruselamat dari keturunan Hawa yang akan sangat menderita demi keselamatan manusia, namun pada saat yang sama akan mencederai si ular dengan sangat fatal dan membebaskan keturunannya dari kuasa si ular. Ini adalah harapan Habel. Kurbannya membawa pesannya sendiri: “Aku tahu dosaku dan dengan sarana religius apapun aku tidak dapat mendekatkan diriku kepada-Mu, tapi aku mengembalikan kepada-Mu sesuatu yang adalah milik-Mu sendiri, dibantai dalam darahnya sendiri, karena aku merasa bahwa penebusanku akan mempunyai harga yang pantas di hadapan-Mu”. Habel adalah orang pertama yang memberikan iman yang sejati kepada Tuhan. Ini adalah agama kedua yang dilihat surga, dan inilah satu-satunya agama yang benar. Itu adalah agama Iman Habel.

Namun Kain tidak mempunyai kasih yang sejati kepada Tuhan. Ia tidak percaya bahwa ia termasuk ke dalam dosa orang-tuanya. Ia juga mengatakan kepada Tuhan bahwa ia tidak percaya bahwa ia juga adalah penjaga saudaranya (Kejadian 4:9). Ia membunuh Habel dengan tangan dingin. Namun Kain telah disiapkan untuk mengakui Tuhan sebagai Penciptanya maka ia juga membawa persembahan, tetapi persembahannya tidak lahir dari hati, melainkan merupakan persembahan yang diberikannya dari kelimpahan hasil kerjanya. Kadang-kala mungkin saja ia juga ingin menyembah Tuhan, tetapi ia memandang hidupnya sebagai miliknya sendiri dan ia percaya bahwa ia bebas untuk mengeksploitasi bumi hanya untuk keuntungannya sendiri. Sebentar-sebentar ia akan datang untuk menghormati Tuhan, mungkin sekali seminggu atau untuk melakukan upacara panen sekali setahun, tapi tidak lebih dari itu. Kain adalah pendiri monoteisme formal, menyembah Tuhan tanpa sungguh-sungguh mengasihi-Nya. Inilah Agama Kain, agama ketiga yang dilihat surga, dan surga menganggap agama ini salah secara keseluruhan. Ini adalah agama terbesar di bumi saat ini dan meliputi semua ekspresi dari monoteisme formal, apakah itu Yudaisme, Kekristenan atau Islam. Tuhan sendiri meringkaskannya dalam kalimat berikut: ‘…bangsa ini mendekat dengan mulutnya, dan mereka menghormati Aku dengan bibirnya, tetapi hatinya menjauh daripada-Ku, dan rasa takutnya kepada-Ku adalah perintah yang diajarkan manusia’ (Yesaya 29:13).

Kemarahan Kain menunjukkan perbedaan antara dirinya dan adiknya. Boleh jadi ia berkata: “Aku mau saja datang sesering mungkin untuk menghormati-Mu, sekali seminggu jika memang harus demikian. Mengapa Engkau sangat menolak persembahanku yang pertama?” Jawaban Tuhan padanya kemungkinan besar seperti ini: ‘Habel hanya memberikan satu kali persembahan, tetapi itu adalah sebuah komitmen hidupnya yang seutuhnya kepada-Ku, ia mempercayai-Ku untuk keselamatannya. Satu hari nanti dengan satu kali persembahan yang Kulakukan sendiri, Aku akan sekaligus menyempurnakan semua orang yang sudah dikuduskan dari segala waktu’ (Ibrani 10:14). Iman Habel adalah satu-satunya agama yang benar yang pernah dikenal dunia atau akan dikenal dunia. Inilah agama yang hidup yang berlawanan dengan kenyamanan yang tampak dari luar saja dan (keberagamaan) yang kering. Agama ini tidak mempersembahkan kepada Tuhan apa-apa yang adalah miliknya sendiri, tapi mempercayakan diri sepenuhnya kepada Tuhan demi keselamatannya. Agama ini tidak memperhatikan penampilan luar dan berkata Apakah saya? (Apakah saya) seorang Muslim, Yahudi atau Kristen diidentifikasi melalui pakaian saya, janggut, kerudung, kehadiran tiap minggu dalam ibadah, dan sebagainya, menandakan keterlibatan saya pada suatu agama tertentu? Tidak, agama ini menanyakan pertanyaan yang mendasar Siapakah saya? Seberapa dalamnya jiwaku mengasihi Tuhan dan seberapa rela saya mengejar kejujuran-Nya yang sempurna, kekudusan, kasih dan kebenaranNya? Setelah pakaian keagamaan saya disingkirkan, janggut saya dicukur habis, jubah keimaman saya dibuang, apa yang masih tertinggal? Apa yang saya miliki dalam diri saya sendiri untuk dapat menghubungkan saya dengan Tuhan? Hanya ada satu agama yang sejati di bumi – itulah iman manusia yang merespon kesetiaan Tuhan. Ini adalah tema yang akan banyak kita bicarakan selanjutnya.

Bersambung ke seri 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *