Alkitab vs Qur'an,  Isu-Isu Terkini,  Kesaksian Kristen,  Keselamatan dalam Kristen vs Islam,  Yesus Kristus vs Isa Almasih

Mengenal Tuhan Secara Pribadi Pesan Kristiani bagi Dunia Muslim – seri 2

Abraham: Bapa orang beriman

Semua orang Muslim menghormati Ibrahim alayhis-salam. Ia dipandang sebagai salah-satu dari utusan-utusan Tuhan yang terbesar. Orang-orang Kristen juga menghormatinya sebagai prototipe orang percaya sejati dan bapa orang beriman. Ia menganut iman yang sejati, yakni Iman Habel, dan orang-orang Kristen sejati dikatakan sebagai ‘mereka yang memiliki iman Abraham karena ia adalah bapa kita semua’ (Roma 4:16). Qur’an juga berbicara mengenai millata abikum Ibrahim, yaitu ‘iman bapa Abraham’ (Sura 22:78). Tetapi mengapa Abraham lebih dikenal dengan imannya dan bukan karena penyerahan/tunduknya dia kepada Tuhan?

Qur’an melihat millah Abraham tidak lebih dari mempertanyakan kepasrahan kepada kehendak Allah. Dikatakan bahwa ia adalah salah-seorang muslimin, seorang yang ‘tunduk’ (Sura 3:67) dan dikatakan bahwa ‘ketika Tuhannya berkata kepadanya Tunduk!, ia berkata aku tunduk kepada Tuhan atas dunia ini’ (Sura 2:131). Perintah untuk ‘tunduk’ dalam teks itu adalah Aslim! Dan ia menjawab aslamtu, ‘aku telah tunduk’. Ketiga kata ini berasal dari akar yang sama yaitu islam dan muslim. Namun demikian ini bukanlah iman yang sejati. Ini tidak lebih daripada kepasrahan kepada kehendak Tuhan. Ini tidak mengandung iman sang nabi kepada kesetiaan Tuhan.

Alkitab menunjukkan bahwa Tuhan memanggil Abraham ke dalam sebuah hubungan yang jauh lebih intim dengan-Nya daripada hanya sekadar tunduk kepada kehendak-Nya. Itu dimulai dengan sebuah janji sederhana yang Tuhan buat dengannya ketika ia mengeluh bahwa ia tidak mempunyai ahli waris untuk harta bendanya: ‘Dan Dia membawanya keluar dan berfirman, ‘Lihatlah ke langit dengan seksama, dan hitunglah bintang-bintang itu seandainya engkau dapat menghitungnya. Dan Dia berfirman kepadanya, Demikianlah kelak keturunanmu’ (Kejadian 15:5). Yang berikutnya hanyalah menyatakan bahwa: ‘Lalu percayalah dia kepada YAHWEH dan Dia memperhitungkan hal itu kepadanya sebagai kebenaran’ (Kejadian 15:6). Nampaknya itu terlalu mudah – Abraham hanya berpegang pada janji Tuhan, dan karena ia percaya kepada Tuhan, ia dibenarkan di hadapan Tuhan. Ia tidak harus berdoa beberapa kali sehari, berpuasa berbulan-bulan, pergi berziarah atau menyumbangkan sejumlah besar uang kepada orang miskin untuk mendapatkan perkenanan Tuhan. Ia hanya percaya pada janji Tuhan dan langsung ditempatkan pada tempat yang dekat dengan Tuhan.

Namun demikian imannya harus diuji berulangkali. Bertahun-tahun berlalu dan tidak terjadi apa-apa. Sarah istrinya, yang tidak pernah dapat melahirkan anak dan semakin hari semakin menjadi tua, mengatakan padanya untuk mendapatkan keturunan melalui Hagar budaknya (Kejadian 16:2). Ketika Ismail lahir, Abraham yakin bahwa dialah ahli waris yang dijanjikan Tuhan. Tetapi 13 tahun kemudian ketika Abraham berusia 99 tahun dan Sarah yang telah berusia 90 tahun masih mandul, Tuhan berkata kepadanya: ‘Dan Aku telah memberkatinya dan Aku juga telah memberikan kepadamu seorang anak laki-laki daripadanya, dan Aku telah memberkatinya, dan dia akan menjadi bangsa-bangsa; raja-raja banyak bangsa berasal daripadanya’ (Kejadian 17:16). Pada mulanya Abraham menertawakan kemungkinan itu, tapi kemudian ia menyadari bahwa Ismail bukanlah anak perjanjian. Maka ia berseru kepada Tuhan ‘sekiranya Ismail dapat hidup di hadapan-Mu!’ Tetapi Tuhan menjawab: ‘…Sara, istrimu, pasti akan melahirkan anak laki-laki bagimu, dan engkau harus memanggil namanya Ishak, dan Aku telah membangun perjanjian-Ku dengannya, untuk suatu perjanjian yang kekal bagi keturunannya sesudah dia’ (Kejadian 17:18-19).

Ketika Ishak akhirnya dilahirkan, Sarah menuntut agar Abraham mengusir Hagar dan Ismail. Sang patriarkh ini sangat tertekan, tetapi Tuhan berpihak pada keinginan Sarah, dan menasehati Abraham pada saat yang sama bahwa Ia tetap akan membuat keturunannya menjadi bangsa yang besar. Abraham tetap diuji dengan berat ketika ia menyadari bahwa Ismail telah ditolak oleh Tuhan. Ketika Ismail berusia 14 tahun ia dibuang ke padang belantara.

Bilamana Abraham melihat putranya yang kedua, setidaknya ia yakin bahwa inilah anak yang telah dijanjikan. Ia menantikan hari dimana Ishak akan bangkit sebagai penggenapan janji Tuhan bahwa ia akan menjadi bapa banyak bangsa. Tetapi, ketika Ishak telah mencapai usia yang hampir sama dengan Ismail ketika ia dibuang, Tuhan akhirnya berbicara kepada sang patriarkh sekali lagi. ‘Abraham!’ tiba-tiba Ia memanggil (Kejadian 22:1). Abraham menjawab dengan segera, berharap untuk mendengar Tuhan menegaskan betapa anaknya akan menjadi berkat untuk generasi mendatang. Namun Tuhan berkata padanya: ‘Dan Dia berfirman, bawalah sekarang anak laki-lakimu yang tunggal, yang engkau kasihi, yakni Ishak, dan pergilah engkau ke tanah Moria, dan persembahkanlah dia disana sebagai persembahan bakaran di atas salah-satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu’ (Kejadian 22:2). (Qur’an mencatat insiden ini tapi tidak menyebutkan atau mengidentifikasi anak yang akan dikurbankan – Sura 37:102. Namun demikian, Qur’an mengkonfirmasi bahwa garis nubuwwah – kenabian, dan kitab, akan mengikuti garis keturunan Ishak – Sura 29:27).

Ini adalah ujian yang jauh lebih berat bagi sang patriarkh. Ketika Ismail mulai menjadi seorang pemuda, Tuhan mengatakan pada Abraham untuk menolaknya, tapi sekarang, saat Ishak mencapai saat yang menentukan dalam hidupnya, Tuhan berkata pada Abraham untuk membantai anaknya itu! Ini adalah ujian terbesar terhadap kasih seorang manusia kepada Tuhan – mempersembahkan anaknya sendiri kepada Tuhan. Jika ia tidak menyayangkan anaknya sendiri, tentu ia akan memberikan pada-Nya semua yang ia miliki (bandingkan dengan Roma 8:32). Itu adalah persembahan terbaik yang dapat diberikan manusia kepada Tuhan.

Tetapi Abraham masih akan menghadapi ujian yang jauh lebih dahsyat lagi. Tuhan telah berjanji padanya bahwa ia akan mempunyai keturunan sebanyak bintang di langit melalui Ishak anaknya itu. Bagaimana mungkin janji ini dapat digenapi jika ia harus mengurbankan anaknya sebagai kurban bakaran? Abraham pasti telah membayangkan kejadiannya – anaknya dikremasi hingga menjadi debu setelah ia dikurbankan, dan datanglah angin lalu meniup abu jenazah anaknya itu, dan ia membayangkan dirinya dalam kesedihan besar ‘janji Tuhan sudah hilang oleh tiupan angin’.

Namun demikian, saat ini Abraham telah jauh melewati tahap sekadar tunduk kepada kehendak Tuhan tanpa bertanya apa-apa. Ketika Tuhan, pada suatu peristiwa belum lama dari kejadian ini, telah mengancam untuk menghancurkan kota Sodom dan Gomora oleh karena kejahatan mereka, sang patriarkh keberatan: ‘Lalu Abraham datang mendekat dan berkata, “Apakah Engkau juga akan membinasakan orang benar bersama orang jahat? Seandainya ada limapuluh orang benar di tengah-tengah kota itu, apakah Engkau juga akan membinasakan dan tidak memperdulikan tempat itu demi kelimapuluh orang benar yang ada di tengah-tengahnya? Jauhlah kiranya dari Engkau untuk melakukan hal seperti demikian, yaitu untuk menghukum mati orang benar bersama orang durhaka, dan seolah-olah orang benar menjadi sama dengan orang durhaka; jauhlah kiranya dari Engkau. Apakah yang menghakimi seluruh bumi tidak akan memberlakukan keadilan?”‘ (Kejadian 18:23-25).

Bagaimana bisa seorang nabi mempertanyakan keputusan Tuhan? Ini bukanlah sikap menundukkan diri dengan kerendahan. Tetapi Tuhan menghormatinya, bahkan akhirnya berjanji untuk tidak menghancurkan kota-kota itu jika ada 10 orang benar ditemukan disana. (Namun ternyata tidak ada, hanyalah Lot dan kedua putrinya yang akhirnya diselamatkan dari penghancuran itu).

Masih ada lebih banyak lagi yang dapat dilihat. Abraham meminta Tuhan untuk jujur pada diri-Nya sendiri. Sambil percaya bahwa Tuhan itu setia, ia menaruh seluruh imannya dalam kesetiaan Tuhan. ‘Semua perkataan Tuhan adalah benar’ kata Alkitab (Amsal 30:5), dan Abraham menghadapi perintah untuk mengurbankan anaknya dengan dilema yang sama. Bagaimanakah janji Tuhan dapat digenapi jika ia harus mengurbankan Ishak? Mungkin saja ia berkata kepada dirinya sendiri: “Aku tidak tahu, tapi tak apalah. Tuhan telah memerintahkan aku untuk membunuhnya, maka aku akan melakukannya. Tanpa bertanya-tanya aku akan tunduk kepada kehendak-Nya. Masalah janji yang tidak digenapi adalah masalah Dia, bukan masalahku.”

Tetapi Abraham tidak berkata demikian. Ia tahu bahwa imannya, yang telah memberinya kebenaran di hadapan Tuhan, hanyalah sebuah refleksi dari kesetiaan Tuhan. Matahari memberikan sinarnya yang sangat terang. Bulan tidak dapat melakukan sesuatu yang lebih selain dari memantulkannya, tetapi saat bulan berhadapan dengan matahari, ia memantulkan cahaya matahari dengan sepenuhnya. Singkirkanlah bulan, maka akan terlihat bahwa cahaya matahari yang berkilauan itu sama sekali tidak terpengaruh oleh hilangnya bulan, namun jika matahari yang disingkirkan maka bulan sama sekali tidak akan bersinar. Jadi Tuhan menyinarkan kesetiaan sama seperti matahari yang memberikan cahayanya, tetapi iman Abraham bagaikan cahaya bulan – tidak lebih dari sekadar sebuah refleksi dari kesetiaan Tuhan yang penuh kemuliaan.

Namun Abraham berpegang kepada iman seperti itu. Sama seperti Habel, ia terus mengikuti satu-satunya agama sejati di dunia: ‘iman yang sejati, dan juga seperti halnya Habel ia mengakuinya bahwa dengan iman, ketika diuji, Abraham telah mempersembahkan Ishak, dia yang mempersembahkan anak tunggalnya yang telah menerima janji-janji itu pula, yang tentangnya telah dikatakan, ‘Di dalam Ishaklah, benihmu akan disebutkan’, karena menganggap bahwa Elohim itu sanggup untuk membangkitkan pula dari antara yang mati, dari sanalah juga secara kiasan dia telah menerimanya kembali’ (Ibrani 11:17-19).

Tuhan menghormati Abraham dan mengembalikan anaknya kepadanya. Ia telah lulus dari ujian maha berat. Ia telah dengan rela hati mengembalikan berkat terbesar dalam hidupnya kembali kepada Tuhan, anak kandungnya satu-satunya, dan dengan ini ia menyempurnakan imannya, sambil percaya kepada Tuhan bahwa Tuhan akan menggenapi janji-Nya kepadanya dengan menghidupkan kembali anaknya. Untuk hal ini Abraham menerima sebuah gelar istimewa. Ia disebut Sahabat Tuhan. Yosafat, seorang raja Yehuda yang hidup benar berabad-abad lalu berdoa kepada Tuhan: ‘Bukankah Engkau Elohim kami? Engkau menghalau penduduk negeri ini dari depan umat-Mu, Israel, dan memberikannya kepada keturunan Abraham, sahabat-Mu selama-lamanya’ (2 Tawarikh 20:7). Tuhan sendiri pernah berkata mengenai bangsa Israel sebagai ‘keturunan Abraham, sahabatku’ (Yesaya 41:8). Yakobus, seorang murid Yesus dan saudara kandungnya, juga menulis tentang iman Abraham dan menambahkan ‘ia disebut sahabat Tuhan’ (Yakobus 2:23).

Qur’an mengkonfirmasi gelar itu: ‘Dan Allah mengambil Ibrahim menjadi kesayangan-Nya’ (Sura 4:125). Kata bahasa Arab yang digunakan disini adalah khalilan, ‘seorang sahabat’, dan oleh karena itu dalam Islam Abraham telah dikenal sebagai khalilullah, Sahabat Tuhan. Namun demikian, Qur’an tidak memberikan penjelasan lebih lanjut.

Bagaimanapun, menurut catatan Alkitab, kita dapat melihat lebih banyak mengenai apa sebenarnya iman yang sejati itu. Tuhan ingin mempunyai hubungan yang hidup dengan umat-Nya. Ia lebih menginginkannya daripada ketaatan yang ketat terhadap rutinitas keagamaan, pelaksanaan seremoni-seremoni dan pengulangan pembacaan doa-doa, berapa kali harus berdoa, dan sebagainya. Dalam pembahasan kita selanjutnya hal ini akan menjadi lebih jelas. Namun saat ini, marilah kita memperhatikan simbol pengakuan Abraham – iman yang sejati. Tuhan tidak dengan keras memproyeksikan kebenaran-Nya kepadanya, mengharapkannya untuk merespon dengan kebenaran sempurna dan ketaatan terhadap semua tuntutan-Nya. Tak peduli betapa religius, saleh, atau mengabdinya seseorang, ia tidak dapat mengimbangi kebenaran Tuhan yang sempurna. Dosanya akan menariknya turun jauh ke bawah.

Tuhan memilih untuk memproyeksikan kesetiaan-Nya kepada Abraham dan bersukacita ketika nabi-Nya berespon secara konsisten dengan iman, dan akhirnya menyempurnakannya ketika ia diperintahkan untuk mengurbankan anaknya sebagai persembahan. Kita akan lebih banyak membicarakan hal itu ketika kita tiba pada klimaks yang telah kita sebutkan sebelumnya. Kita akan melihat bagaimana persembahan iman Abraham hanyalah merupakan bayangan dari persembahan kasih Tuhan yang masih akan dinyatakan. Namun untuk saat ini, marilah kita belajar dari patriarkh besar berikutnya dalam sejarah Israel, yaitu Musa, dan melihat bagaimana rencana dan tujuan-tujuan Tuhan untuk umatNya terus berkembang dan bertumbuh.

Bersambung ke seri 3

Leave a Reply

Your email address will not be published.