Alkitab vs Qur'an,  Isu-Isu Terkini,  Kesaksian Kristen,  Keselamatan dalam Kristen vs Islam,  Yesus Kristus vs Isa Almasih

Mengenal Tuhan Secara Pribadi Pesan Kristiani bagi Dunia Muslim – seri 4

Daud: seorang yang ada dalam hati Tuhan

Ketika Daud menjadi raja Israel, Tuhan berkata: ‘Aku telah menemukan Daud, anak Isai, seorang yang sesuai dengan hati-Ku, yang akan melakukan segala kehendak-Ku’ (Kisah Para Rasul 13:22). Ia tidak sedang berbicara mengenai religiositas Daud, penampilan luar, atau penghormatan kepada hari-hari raya agama, Ia sedang berbicara mengenai manusia batinnya – jiwanya yang benar, kasih kepada Tuhan, karakter yang murni, ketulusan pribadi dan iman yang dalam. Daud mengekspresikan pengabdiannya kepada Tuhan dalam banyak mazmur yang ditulisnya. Ia adalah seorang yang mempunyai kelemahan dan kegagalan yang besar, namun di balik semua ini ia merindukan Tuhan dan senantiasa mengarahkan hatinya kepada-Nya. Ia berdoa: ‘Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau ya Elohim. Jiwaku haus kepada Elohim, kepada Elohim yang hidup’ (Mazmur 42:2-3).

Dalam lagu pujian lainnya, Daud menyatakan: ‘Aku mengasihi-Mu ya YAHWEH kekuatanku. YAHWEH adalah batu karangku, dan bentengku dan penyelamatku, Elohimku batu karangku, aku berlindung pada-Nya, perisaiku dan tanduk keselamatanku, menaraku yang tinggi. Aku akan berseru kepada YAHWEH, yang layak dipuji, maka aku diselamatkan dari musuh-musuhku’ (Mazmur 18:2-4). Ia tidak sedang membaca dari sebuah buku doa, ia sedang mengekspresikan kedalaman keyakinannya kepada Tuhan. Ia mengetahui bahwa iman yang sejati berasal dari dalam jiwa yang berpaling kepada Tuhan. Ia tidak memproyeksikan penampakan luar kesalehannya kepada dunia di sekitarnya sedangkan di dalam dirinya ia tidak bersih. Ia rindu menjadi murni dalam pikirannya, perkataannya dan perbuatannya. Ia berseru: ‘Selidikilah aku ya Elohim, dan kenalilah hatiku; ujilah aku dan ketahuilah pikiranku; dan lihatlah apakah ada jalan yang jahat dalam diriku; dan bimbinglah aku di jalan yang kekal’ (Mazmur 139:23-24).

Ketika ia benar-benar gagal ia menguji hatinya dan berdoa: ‘Lihatlah Engkau menyukai kebenaran di dalam batin; dan di dalam bagian yang tersembunyi Engkau menyatakan hikmat kepadaku’ (Mazmur 51:8). Dan ia terus memohon: ‘Ya Elohim ciptakanlah bagiku hati yang bersih, dan baruilah dalam diriku roh yang diteguhkan. Jangan membuang aku dari hadirat-Mu, dan jangan mengambil Roh-Mu yang kudus daripadaku. Pulihkanlah padaku sukacita keselamatan-Mu, dan topanglah aku dengan roh kerelaan’ (Mazmur 51:12-14).

Sikap rendah hati yang sejati di hadapan Tuhan juga muncul saat doanya berlanjut: ‘Kurban bagi Elohim adalah roh yang remuk, hati yang remuk dan patah ya Elohim, tidaklah Engkau pandang hina’ (Mazmur 51:19). Daud dipilih untuk memimpin Israel karena hatinya lurus di hadapan Tuhan. Ia memahami iman yang sejati. Ia tahu bahwa iman yang sejati adalah keinginan untuk mengejar pembaharuan batin, suatu tanggapan kepada kesetiaan Tuhan yang sempurna. Ketika Tuhan memerintahkan Samuel untuk mengurapi Daud menjadi raja Israel, Ia berkata kepadanya: ‘Sebab manusia tidak melihat apa yang Dia lihat. Sebab manusia memandang penampilan lahiriah, tetapi YAHWEH memandang hati’ (1 Samuel 16:7). Daud mengetahui dan memahami hal ini.

Selama hidupnya Daud berjuang untuk mempersatukan bangsa Israel dalam penyembahan kepada satu Tuhan yang benar. Ketika ia dapat beristirahat setelah mengalahkan musuh-musuhnya, Daud berkata kepada nabi Natan: ‘Lihatlah sekarang aku tinggal di sebuah rumah yang terbuat dari kayu aras, dan tabut Elohim ditempatkan dalam kemah. Lalu Natan berkata kepada raja, Semua yang ada dalam hatimu, pergi, berbuatlah! Sebab YAHWEH akan bersamamu’ (2 Samuel 7:2-3). Daud mengusulkan untuk membangun rumah yang besar bagi Tuhan, untuk membawa orang Israel senantiasa bersama-sama menyembah Tuhan dimana kemuliaan-Nya berdiam. Tetapi Tuhan mengatakan kepada Natan untuk berbicara kepada Daud dan berkata: ‘Apabila umurmu sudah genap dan engkau berbaring bersama dengan leluhurmu, maka Aku akan membangkitkan benihmu sesudah engkau, yang akan keluar dari kandung benihmu, dan Aku akan mengukuhkan kerajaannya. Aku akan menjadi Bapa baginya dan dia akan menjadi anak bagi-Ku’ (2 Samuel 7:12-14). Tuhan mengatakan padanya bahwa anaknya akan membangun rumah yang dia usulkan dan mengakhiri dengan janji: ‘Dan keluargamu serta kerajaanmu akan dikukuhkan di hadapanmu selamanya. Tahtamu akan dikukuhkan untuk selamanya’ (2 Samuel 7:16).

Sebagaimana Tuhan telah menjanjikan seorang anak kepada Abraham, Kini Ia juga berbuat yang sama kepada Daud. Salomo adalah anak yang dijanjikan dan setelah kematian ayahnya ia bersiap untuk membangun bait suci Yahudi yang pertama. Dalam generasi-generasi berikutnya, orang Israel menyadari bahwa Salomo adalah anak yang dijanjikan. Nubuat juga berbicara mengenai seorang Putra yang masih akan datang. Tuhan telah meyakinkan Daud bahwa anak yang dijanjikan akan memerintah atas kerajaannya untuk selamanya. Ketika Salomo wafat orang mulai menyadari bahwa nubuat itu hanya akan digenapi sepenuhnya ketika Putra Daud yang lebih besar tiba dan mereka menantikan hari itu. Tuhan telah mengatakan kepada Daud bahwa putra Daud yang lebih besar yang akan datang adalah putra kandungnya sendiri. Tuhan juga menambahkan bahwa ‘Aku akan menjadi Bapanya, dan ia akan menjadi anak-Ku’.

Nubuat ini ditemukan dalam kitab suci orang Yahudi (Perjanjian Lama), bukan dalam kitab-kitab orang Kristen yang muncul kemudian. Sama seperti orang Muslim, orang Yahudi tidak pernah percaya bahwa Tuhan mempunyai Anak, tapi disini, dalam salah-satu kitab mereka sendiri (2 Samuel) yang dihormati sebagai Firman Tuhan oleh semua orang Yahudi dari generasi ke generasi sejak kitab itu ditulis, janji Tuhan bahwa anak-Nya sendiri akan datang ke dalam dunia untuk menegakkan kerajaan-Nya yang abadi dengan jelas dinubuatkan. Janji itu ditegaskan dalam bagian lain dalam kitab suci: ‘Dia akan berseru kepada-Ku, ya Bapaku, Engkaulah Elohimku, dan gunung batu keselamatanku. Dan Aku akan menjadikannya anak sulung, lebih tinggi daripada raja-raja di bumi. Untuk selamanya Aku akan memelihara baginya kebaikan-Ku dan perjanjian-Ku yang diteguhkan kepadanya. Dan aku telah menetapkan keturunannya selamanya, dan tahtanya seperti umur langit’ (Mazmur 89:27-30). Kutipan ini juga berasal dari kitab-kitab inti yang lain dari Kitab Suci Yahudi, yang ditulis seribu tahun sebelum kekristenan dimulai.

Keduanya menjanjikan seorang anak yang akan datang, kepada Abraham dan Daud, yang akan datang tiba-tiba tanpa disangka-sangka atau diantisipasi. Ketika anda membaca Kitab Suci Yahudi anda akan terpesona melihat betapa dahsyatnya kedua nubuat itu karena apa yang ada di depan mata mereka tidak mereka sadari sebagai petunjuk akan apa yang akan datang. Tuhan memilih satu saat yang tepat untuk menyampaikan hal-hal yang akan datang sebagai tujuan-Nya untuk umat manusia dan rencana penebusan yang akan diungkapkan-Nya.

Ketika Salomo telah menyelesaikan pembangunan Bait Suci dan para imam keluar dari dalamnya setelah menempatkan tabut perjanjian di ruang maha kudus: ‘awan memenuhi bait YAHWEH, dan para imam itu tidak dapat berdiri untuk melayani oleh karena awan itu, sebab kemuliaan YAHWEH telah memenuhi bait YAHWEH’ (1 Raja-raja 8:10-11). Sekali lagi Tuhan memanifestasikan hadiratNya di depan mata bangsa itu seperti yang telah dilakukan-Nya ketika Musa telah menyelesaikan pembangunan tabernakel di padang belantara. Islam tidak mempunyai apapun yang dapat dibandingkan dengan hal ini.

Selama 40 tahun, saat orang Israel berkelana di padang gurun oleh karena ketidakpercayaan mereka, bangsa itu diambil dari lingkungannya yang subur dan tidak diberikan apa-apa selain manna untuk dimakan dan air minum. Orang-orang bersungut di bawah tekanan Tuhan saat Tuhan menguji mereka dengan keras untuk melihat apakah mereka akan setia kepada-Nya atau tidak. Ia memproyeksikan kebenaran-Nya dengan kuat pada mereka, ketika mereka tidak menaati-Nya, Ia langsung bereaksi dengan mengirim tulah dan api ke perkemahan mereka.

Namun kini, Tuhan memberikan bangsa itu 40 tahun kedamaian dan kesejahteraan yang tidak ada bandingnya. Kali ini Ia membiarkannya, Ia bersukacita karena perjanjian yang telah dibuat-Nya dengan Musa akhirnya akan terwujud. Harapan-Nya terhadap bangsa itu telah memuncak dan Ia mengijinkan mereka untuk mengalami sukacita besar. Bahkan musuh-musuh Israel berdamai dengan Israel. Ini adalah masa keemasan, sebuah simbol damai dan kemuliaan surgawi yang akan datang. ‘Dan raja membuat perak di Yerusalem seperti banyaknya batu-batu, dan dia membuat pohon aras seperti pohon ara yang ada di dataran rendah banyaknya’ (1 Raja-raja 10:27).

Sayangnya bulan madu tidak berlangsung lama. Salomo gagal untuk memfokuskan imannya kepada Tuhan dan berpaling kepada kehebatan materi. Ia menikahi wanita-wanita asing yang memperkenalkan kebiasaan penyembahan berhala kepada bangsa itu. Salomo ‘telah berpaut kepada mereka dengan cinta’ (1 Raja-raja 11:2). Ketika ia menjadi tua, istri-istrinya ‘membelokkan hatinya kepada ilah-ilah lain, dan hatinya tidak sepenuhnya berpaut kepada YAHWEH, Elohim, seperti Daud ayahnya’ (1 Raja-raja 11:4). Setelah kematian Salomo, bangsa itu segera terbagi menjadi dua karena orang Yehuda mengikuti Rehabeam, anak Salomo, sebagai raja mereka, sedangkan suku-suku Israel di utara mengikuti Yerobeam yang menempatkan dua patung anak lembu emas di Dan dan Bethel untuk mengalihkan orang dari menyembah Tuhan di Yerusalem (1 Raja-raja 12:28-29).

Tuhan berkata kepada Yerobeam: ‘engkau telah melakukan yang jahat lebih dari semua orang yang mendahului engkau dan telah pergi dan membuat bagimu ilah lain dan patung-patung tuangan sehingga membangkitkan amarah-Ku, bahkan engkau telah membelakangi Aku’ (1 Raja-raja 14:9). Sederetan raja-raja jahat memimpin suku-suku Israel dalam semua bentuk penyembahan berhala dan kejahatan. Sejarah Yehuda juga memprihatinkan – beberapa rajanya seperti Ahaz sama jahatnya dengan raja-raja Israel sementara yang lainnya seperti Yosafat tetap menjaga umat itu setia kepada Tuhan, tetapi tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Yehuda untuk juga mengalami kejatuhan dan membuat Tuhan sangat marah.

Harapan-Nya untuk bangsa itu telah sirna. Ia sangat murka pada mereka. Bisa saja Ia memanggil Israel dan semua bangsa di dunia, yang telah lama meninggalkan penyembahan kepada Tuhan untuk menjalani hari penghakiman terakhir. Tetapi Ia tidak melakukannya. Tuhan yang maha setia, yang kasih-Nya kepada umat-Nya juga telah memuncak, mempertimbangkan kemungkinan untuk membawa umat-Nya ke dalam hubungan pribadi yang lebih mendalam dengan-Nya. Ia mencari alternatif lain selain penghukuman. Apa yang harus dilakukan-Nya – menghakimi atau menebus? Kasih-Nya yang membara membuat-Nya memilih penebusan, tapi tidak setelah mempertimbangkan dengan mendalam harga yang Ia sendiri harus bayar untuk mencapai tujuan-Nya.

Bersambung ke seri 5

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *