Alkitab vs Qur'an,  Isu-Isu Terkini,  Kesaksian Kristen,  Keselamatan dalam Kristen vs Islam,  Yesus Kristus vs Isa Almasih

Mengenal Tuhan Secara Pribadi Pesan Kristiani bagi Dunia Muslim – seri 6

Yesus Kristus: Anak Daud, Anak Abraham

Kekristenan memiliki pandangan yang sangat pesimistik tentang keberadaan manusia berdasarnya naturnya – bahwa manusia diikat dengan dosa dan diperhamba olehnya sampai pada tingkatan dimana mereka tidak sanggup membebaskan diri mereka – tetapi pada sisi yang lain, kekristenan memiliki pandangan yang sangat optimistik mengenai bisa menjadi seperti apakah pria dan wanita – anak-anak Tuhan, yang dilahirkan dari Roh KudusNya, ditransformasikan ke dalam gambar diriNya, dan mewarisi kemuliaanNya dalam kekekalan. Namun ketika penebusan Tuhan yang dahsyat itu datang untuk meraih kesemuanya ini, manusia ciptaanNya itu salah mengartikanNya dan misiNya yang hingga hari ini masih terus-menerus ditolak oleh jutaan orang yang hidup dalam dunia.

Ke 17 karya profetis ditulis pada masa ketika Tuhan menjanjikan datangnya Perjanjian Baru yang merupakan klimaks dari pewahyuan Tuhan kepada orang-orang Yahudi. Janji akan kedatangan seorang Mesias, seorang Penebus, akan menjadi pengharapan akhir dan yang paling tinggi dimana tujuan Tuhan bagi manusia akan digenapi. Setelah kitab-kitab ini, tak ada yang baru yang mengikutinya. Semuanya diam selama masa 400 tahun. Pada saat Yesus dilahirkan, bangsa Israel tengah menantikan dengan kerinduan yang sangat besar akan datangnya seorang Mesias. Periode diam yang sama, yaitu sekitar 400 tahun, juga mengikuti janji Tuhan kepada Abraham sebelum Perjanjian yang Pertama diperkenalkan melalui Musa. Masa bagi pemberlakuan Perjanjian Baru sekarang telah tiba. Israel menanti-nanti dengan cemas dan berharap bahwa Mesias akan datang pada saat itu. Namun ketika Ia datang, hanya sedikit orang yang mengakuiNya sementara bangsa itu secara keseluruhan tidak memahamiNya dan yang paling buruk lagi, menentang dan menolakNya.

Tuhan telah menjanjikan kepada Daud seorang anak yang akan memerintah atas kerajaannya untuk selama-lamanya. Ketika suatu hari Yesus bertanya kepada orang Yahudi: ‘Menurutmu siapakah Kristus itu? Anak siapakah Dia?” Mereka menjawab “anak Daud’ (Matius 22:42). Salomo, anak Daud, merupakan raja yang paling kaya dan berkuasa. Pada masa ia memerintah, Israel menguasai dunia yang ada di sekelilingnya. Juga ada damai pada masa itu. Bangsa itu sekarang merindukan datangnya seorang raja yang baru yang akan membawa pemerintahan yang sama dan merupakan seorang yang tidak akan pernah berakhir. Mereka berharap bahwa raja Mesias mereka akan membuat bangsa Yahudi menjadi bangsa yang paling kuat dan berpengaruh di bumi. Tetapi mereka melupakan satu poin yang sangat penting – dan tidak ada kata maaf untuk kekeliruan mereka. Tuhan telah menjanjikan kepada patriakh lainnya seorang anak, lama sebelum era Daud dan Salomo, yang juga merupakan gambaran akan datangnya seorang Anak yang lebih agung – dan mereka harus memberikan perhatian yang lebih besar kepadanya – sebab ia akan muncul terlebih dahulu.

Anda tidak perlu harus melihat jauh ke dalam kitab suci Kristen (Perjanjian Baru) untuk menemukan siapakah dia. Cukup dengan membaca ayat pertama dari Injil yang pertama yaitu Matius. Dalam Teks pembuka dari semua Alkitab Kristen, ditulis: ‘Kitab silsilah YESUS Kristus, anak Daud, anak Abraham’ (Matius 1:1). Yang pertama yang harus mereka antisipasi adalah Anak Abraham. Yang pertama kita terlebih dahulu melihat anak yang dijanjikan Tuhan kepada Abraham, yang bernama Ishak, anak laki-laki dari istrinya Sarah. Ketika Abraham membawanya untuk naik ke atas gunung Moria untuk mengorbankannya, Ishak berkata kepadanya ‘Di sini ada api dan kayunya, tetapi dimanakah domba untuk persembahan bakaran itu?’ (Kejadian 22:7). Abraham menjawab ‘Elohim akan melihat domba untuk persembahan bakaran bagi-Nya, anakku’ (Kejadian 22:8). Kata yang dipakai dalam bahasa Ibrani memberikan penekanan yang lebih kuat – diterjemahkan sebagai berikut: ‘Tuhan akan memberikan dari diriNya sendiri anak domba untuk korban bakaran.’ Pada hakekatnya Abraham mengatakan kepada Ishak, ‘Anakku, sebenarnya engkaulah yang harus dikorbankan, tetapi teguhkanlah hatimu. Engkau hanyalah sebuah simbol dari sesuatu yang akan datang. Suatu hari kelak Tuhan akan memberikan dari diriNya sendiri anak domba sebagai korban bakaran.’

Yohanes Pembaptis (dalam Islam disebut Yahya), memandang kepada Yesus ketika suatu hari Yesus tengah berjalan; dan ia memproklamirkan ‘Lihatlah anak domba Elohim, yang menghapuskan dosa seluruh dunia!’ (Yohanes 1:29). Melalui kalimat ini Yohanes sedang mengidentifikasikan domba yang telah dikatakan oleh Abraham. Pada hari lainnya Yesus sendiri berkata kepada orang-orang Yahudi yang tengah berdebat denganNya: ‘Abraham, bapakmu, bergembira karena dia dapat melihat hari-Ku, dan dia telah melihatnya dan bersukacita’ (Yohanes 8:56). Ia dengan jelas memahami dalam pikirannya apa yang telah dikatakan oleh Abraham ketika ia mengatakan ‘Tuhan akan menyediakan sendiri anak domba untuk korban bakaran, ya anakku.’

Abraham telah meramalkan seluruh Injil Kristen. Ishak dilahirkan dari Roh dalam keadaan yang unik, jadi Abraham mengetahui bahwa Putra Elohim akan dilahirkan secara unik juga (Yesus dilahirkan oleh seorang perawan). Abraham merencakan untuk mempersembahkan Ishak, tahu bahwa Putra Elohim pun akan dipersembahkan juga. Abraham meyakini bahwa Ishak akan dibangkitkan dari kematian. Dengan melakukan hal ini, ia menubuatkan kebangkitan Putra Elohim. Tidak mengherankan bagaimana Alkitab mengatakan bahwa Alkitab ‘telah terlebih dahulu memberitakan Injil kepada Abraham’ (Galatia 3:8).

Ketika pertanyaan berikut ditanyakan “Apakah pemberian terbesar yang pernah Tuhan berikan untuk menunjukkan kasihNya kepada anda?” Maka seseorang mungkin akan berkata ‘kesehatanku’, yang lain ‘anak-anakku’, dan yang lainnya lagi mungkin berkata ‘Ia menjawab doa-doaku dan menolongku ketika aku ada dalam situasi yang sangat sulit.’ Semuanya itu adalah jawaban-jawaban yang baik karena mereka memperlihatkan kebaikan Tuhan dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita. Tetapi semua jawaban itu sama sekali tidak membuat Tuhan harus mengeluarkan sesuatu, karena semuanya itu tidak membuktikan kedalaman kasih di dalam hati Tuhan kepada kita. Tetapi Ia harus memberikan PutraNya untuk mati bagi kita supaya kita bisa menerima hidup yang kekal sebagai sebuah anugerah, diampuni dari dosa-dosa kita dan dimampukan untuk mengenal Tuhan secara pribadi. Inilah anugerah terbesar yang pernah Ia berikan sebab anugerah ini menyebabkan Tuhan harus mengeluarkan harga yang sangat mahal dari dalam diriNya sendiri. Dan inilah yang sesungguhnya terjadi ketika Yesus datang ke dalam dunia! Sebagai salah seorang dari murid-muridNya yang paling terkenal, rasul Paulus mengatakan demikian: ‘Dia yang sungguh-sungguh tidak menyayangkan Putra-Nya sendiri, melainkan Dia telah menyerahkan-Nya ganti kita semua, bagaimana Dia tidak akan menganugerahkan segala sesuatu kepada kita bersama dengan Dia?’ (Roma 8:32)

Inilah harga tertinggi yang harus disediakan Tuhan untuk membayar harta tertinggi yang ia cari – yaitu umat yang kudus, diampuni dosa-dosanya, dimana RohNya bisa diam di dalamnya dengan nyaman. Ketika Yesus mati di atas kayu salib, murka Tuhan terhadap dosa-dosa semua mereka yang sepenuhnya percaya kepadaNya telah dipuaskan. Masalah dosa dan kekudusan, yang menyebabkan trauma pada masa Musa dan pada masa generasi-generasi yang muncul setelah Musa, kini telah diselesaikan. Pintu telah dibukakan bagi penggenapan semua hal-hal indah yang Tuhan telah janjikan melalui Yeremia dan Yehezkiel.

Orang Kristen sejati seharusnya tidak hanya mempercayai Tuhan, sebab jika demikian maka mereka tidak memiliki pesan yang khusus bagi saudara-saudara Muslim mereka yang juga meyakini konsep monoteisme. Tetapi mereka memiliki sebuah pesan yang sangat spesial bagi semua orang yang diam di bumi termasuk orang-orang Muslim. Yesus Kristus, Putra Elohim, telah menggenapi pengharapan dari semua orang percaya sejati ketika ia menyerahkan nyawaNya bagi penebusan mereka. Habel mengorbankan darah domba miliknya sebagai simbol pengharapan pada keselamatan Tuhan yang akan datang. Abraham dipersiapkan untuk mempersembahkan putranya dan membagikan darahnya sebagai sebuah bayangan dan gambar dari kasih Tuhan yang agung yang akan melakukan hal yang sama sebagai balasan untuk apa yang telah ia perbuat. Musa memerintahkan setiap keluarga Israel untuk memercikkan darah anak domba di ambang-ambang pintu rumah mereka, sebagai simbol penyaliban Putra Elohim yang kelak akan datang membawa pembebasan yang kekal.

Pesan kita kepada orang-orang Muslim dan kepada seluruh dunia sebagai konsekuensinya adalah sebagai berikut – di dalam Yesus kita telah menerima keselamatan dari Tuhan, kepada kita juga telah diberikan pengampunan penuh dari dosa-dosa kita, kita telah menjadi anak-anak Tuhan, menerima Roh Kudus dari Tuhan, kita adalah pewaris dari kerajaanNya dan, yang paling penting, kita telah sampai pada pengenalan kita akan Tuhan sebagai umatNya yang telah diselamatkan dan ditebus.

Ketika Tuhan telah selesai berbicara kepada Musa, maka wajah Musa pun bersinar, merefleksikan hadirat Tuhan yang ada di hadapannya dan di antara umatNya. Kemuliaan Tuhan dimanifestasikan dalam Bait Suci Yahudi yang pertama, ketika Salomo mendedikasikannya kepada Tuhan, sekali lagi hal itu membuktikan bahwa Tuhan hadir di antara umatNya dalam cara yang sangat spesial. Tetapi ketika Yesus, putra Tuhan, berdiri di hadapan umatNya, manifestasi itu tiba pada sebuah dimensi yang baru. Ia mengajak tiga orang dari murid-muridNya naik ke atas gunung untuk menjauh dan tiba-tiba Ia mengalami transfigurasi di hadapan mereka. Wajahnya bersinar seperti matahari, dan jubahnya menjadi putih seperti cahaya (Matius 17:2). Saat itu kemuliaan termanifestasi jauh lebih besar dibandingkan dengan apa yang disaksikan oleh Musa dan Salomo, dan bahkan melangkah lebih jauh lagi. Yesus sendiri ditransfigurasikan. Kemuliaan bersinar melaluiNya. Ia tidak merefleksikannya atau melihatnya, ia menghadirkannya melalui diriNya sendiri dengan cara yang sangat mengagumkan. Ketika Putra Elohim mengambil tubuh manusia, maka Tuhan dan manusia menjadi satu untuk selama-lamanya. Kita akan melihatnya dengan segera bagaimana di dalam kekekalan, para pengikut Yesus juga akan memperlihatkan kemuliaan yang sama dari dalam diri mereka sendiri.

Dalam semua agama-agama monoteistik, gambaran Tuhan hampir sama. Ia menyatakan hukum-hukumNya, menuntut ketaatan dari hamba-hambaNya, dan melipat tanganNya untuk menyaksikan dan menantikan apa yang akan terjadi. Ini adalah agama Kain dan ia melahirkan monoteisme formal. Tetapi, dalam penggenapan pengharapan Habel, Abraham dan Musa, dimana Tuhan menyebut mereka sebagai sahabat-sahabatNya, Tuhan meninggalkan tahtaNya, mengulurkan lenganNya, merangkul seluruh dunia dengan lengannya itu, merendahkan diriNya dan mengunjungi dunia kita. Tuhan rela membayar harga yang teramat sangat mahal untuk menunjukkan pada kita kasihNya yang kekal dan sempurna, serta memberikan kepada kita jaminan akan tempat yang mulia di kerajaan Surga milikNya.

Orang-orang Yahudi salah dalam mengartikan anak Abraham. Mereka tidak bisa melihat bahwa Mesias harus datang terlebih dahulu sebagai anaknya, dalam kerendahan hati yang penuh, untuk dikorbankan bagi penebusan kita. Paulus menjelaskan hal itu dengan kata-kata berikut: ‘Karena apa yang ada ada di dalam Kristus YESUS, biarlah itu dipikirkan olehmu juga. Dia, yang meskipun ada dalam rupa Elohim, tidak menganggap bahwa menjadi setara dengan Elohim adalah sesuatu yang harus dirampas. Sebaliknya, Dia sudah mengosongkan diri-Nya sendiri dengan mengambil rupa seorang hamba agar berada dalam keserupaan manusia. Dan supaya didapati dalam pola seperti manusia, Dia sudah merendahkan diri-Nya sendiri dengan menjadi taat sampai pada kematian, bahkan kematian di kayu salib.’ (Filipi 2:5-8)

Nubuatan-nubuatan mengenai kematian korban dari Mesias bisa ditemukan dalam kitab-kitab suci orang Yahudi. Kebanyakan disampaikan oleh Daud dan Yesaya berabad-abad sebelum Yesus datang. Banyak yang meramalkan secara detil bagaimana Ia akan mati (Mazmur 22:1-21, 69:1-29), sementara yang lain menyampaikan apa tujuan dari pengorbananNya – yaitu untuk menebus dunia dari keberdosaannya – secara eksplisit, bahasa yang tidak bisa salah (Yesaya 53:1-12). Nabi-nabi tidak tahu persisnya apa yang sedang mereka ramalkan tetapi mereka tahu bahwa hal itu akan terjadi dalam generasi-generasi yang akan datang. Sebagaimana yang dikatakan oleh rasul Petrus: ‘Berkenaan dengan keselamatan itulah para nabi telah mencari dan menyelidiki sambil bernubuat mengenai anugerah bagi kamu, seraya memeriksa mengenai apa, atau saat mana, Roh Kristus yang ada dalam diri mereka menjelaskan yang dipersaksikan sebelumnya, mengenai penderitaan Kristus dan kemuliaan sesudah hal-hal ini. Kepada mereka hal itu telah disingkapkan, bahwa bukan bagi diri mereka sendiri, tetapi bagi kita, mereka terus melayani hal-hal yang sama, yang sekarang telah diberitahukan kepadamu melalui mereka yang telah menginjili kamu, oleh Roh Kudus yang telah diutus dari surga, yang terhadap hal-hal itu para malaikat sangat ingin menyelidikinya.’ (1 Petrus 1:10-12)

Banyak prediksi mengenai pemerintahanNya yang mulia sebagai Anak Daud yang akan datang yang juga memenuhi halaman-halaman kitab suci yang sama. Kadang-kadang prediksi mengenai kedatangan Mesias sebagai anak Abraham yang menderita dituliskan oleh mereka yang meramalkan kemuliaan surgawiNya, sehingga orang Yahudi tidak lagi memiliki alasan. Di sini ada sebuah contoh yang jelas: ‘Lihatlah! Hamba-Ku akan berlaku bijak, dia akan ditinggikan, dan disanjung, dan menjadi sangat tinggi. Ketika banyak orang tertegun atasmu, keburukan rupanya lebih daripada manusia mana pun, dan keburukan bentuknya lebih daripada anak manusia. Demikianlah dia membuat tercengang banyak bangsa. Mengenai dia, raja-raja akan menutup mulut mereka, karena mereka akan melihat apa yang tidak diberitahukan kepada mereka, dan mereka akan memahami apa yang tidak pernah mereka dengar.’ (Yesaya 52:13-15)

Setelah pertama-tama menunjukkan betapa besarnya anak Abraham itu, yaitu Yesus Kristus, yang tidak hanya telah merendahkan diriNya namun juga sedia untuk direndahkan melalui kematianNya di atas kayu salib, maka Paulus kemudian menyimpulkan sebagai berikut: ‘Oleh karena itu pula Elohim telah meninggikan Dia dan menganugerahkan kepada-Nya Nama itu, yang di atas segala nama; supaya di dalam Nama YESUS, setiap lutut, yang surgawi dan duniawi dan yang di bawah bumi, akan bertelut, dan setiap lidah mengaku bahwa YESUS Kristus adalah Tuhan bagi kemuliaan Elohim Bapa’ (Filipi 2:9-11 – penekanan ditambahkan).

Yesus memberikan setiap indikasi kepada para pemimpin Yahudi mengenai siapakah sesungguhnya Ia, bahwa kedatanganNya telah dengan jelas dinubuatkan. Musa menulis tentang Dia (Yohanes 5:46). Abraham bersukacita ketika ia menyaksikan hari-hari Anak Manusia (Yohanes 8:56). Daud, yang diinspirasikan oleh Roh Kudus, memanggilNya sebagai Tuhanku (Matius 22:43). Seharusnya mereka telah mengenal dan mengakuiNya.

Namun demikian, kepada murid-muridNya, pada malam sebelum Ia disalibkan Yesus berkata: ‘Tidak ada orang yang mempunyai kasih lebih besar daripada ini, yaitu seseorang yang telah mempertaruhkan jiwanya demi sahabat-sahabatnya. Kamu adalah sahabat-sahabat-Ku jika kamu melakukan apa saja yang Kuperintahkan kepadamu. Aku tidak lagi memanggil kamu hamba, karena seorang hamba tidak mengetahui apa yang tuannya melakukannya. Namun Aku memanggil kamu sahabat, karena Aku memberitahukan kepadamu segala sesuatu yang telah Aku dengarkan dari Bapa-Ku’ (Yohanes 15:13-15).

Sekarang lingkaran perputaran yang diadakan oleh Tuhan telah lengkap. Ia menyebut Abraham sebagai sahabatNya. Ia telah berbicara dengan Musa muka dengan muka sebagai seorang manusia yang berbicara kepada temannya. Sebab itu sekarang Yesus sanggup berbicara kepada semua murid-muridNya yang ada di situ sebagai sahabat-sahabat Tuhan yang sejati. KematianNya yang akan datang dan kebangkitanNya, pada akhirnya untuk membuka pintu bagi semua umat Tuhan agar bisa mengenalNya secara personal, supaya dosa-dosa mereka bisa diampuni, untuk mengasihiNya dengan segenap hati mereka, dan untuk pada akhirnya bisa dipermuliakan pada tingkatannya sendiri. Inilah hal yang sangat dirindukan oleh Tuhan sendiri, yang mana Tuhan bersedia mengorbankan apa pun juga.

Bersambung ke seri 7

Leave a Reply

Your email address will not be published.