Alkitab vs Qur'an,  Isu-Isu Terkini,  Keselamatan dalam Kristen vs Islam,  Komparasi

Proklamasi Kemerdekaan – Seri 1

Yesus Kristus memproklamirkan “pembebasan kepada orang-orang tawanan, dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas” (Lukas 4:19). Pernyataan kemerdekaan lainnya berbunyi, “Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka” (Yohanes 8:36). Jelas sekali bahwa Mesias mengklaim bahwa Ia memberikan kemerdekaan yang sejati.

Di dalam Alkitab kita dapat menemukan banyak pernyataan yang memproklamasi dan menegaskan kemerdekaan. Tetapi dalam Qur’an pernyataan-pernyataan seperti itu tidak ada sama sekali. Muhammad tidak dikenal sebagai orang yang berbicara soal kemerdekaan. Penekanan pengajarannya lebih pada menaati Allah, sebagai hamba-Nya. Seperti yang dapat anda perkirakan, jarang kita mendengar para penceramah Muslim mengemukakan gagasan mengenai kemerdekaan bagi semua orang – contoh yang paling jelas mengenai pengecualian akan hal ini adalah perjuangan kemerdekaan orang-orang Palestina. Pengecualian lainnya terhadap generalisasi hal ini adalah Raheel Raza, seorang reformis Muslim di Kanada dan pendiri Kongres Muslim Kanada. Raza mengatakan (Raza says), “kebebasan berbicara adalah hak terpenting yang kita miliki. Dan saya secara total mendukung kebebasan berekspresi, walaupun itu bertentangan dengan keyakinan saya”.    

Ada lagi pengecualian lainnya, dan saya percaya, yang satu ini merupakan dukungan yang berarti untuk kebebasan. Yang satu ini mencakup suara kolektif dari 5 Imam dari seluruh Kanada. Pada tanggal 13 Agustus 2010 mereka menandatangani sebuah deklarasi (declaration) yang berisi penolakan keras mereka terhadap tindakan-tindakan kekerasan dan memalukan yang dilakukan atas nama agama. Mereka juga mengafirmasi hak-hak mendasar manusia, termasuk “kebebasan bagi semua orang”. Suatu laporan utama di CNN mengemukakan (noted) bahwa pernyataan yang bersejarah ini “ditujukan pada…memperbaiki citra publik agama” (yaitu Islam).   

Namun demikian, kita bertanya-tanya apakah ini hanyalah bermulut manis oleh karena pihak-pihak yang membubuhkan tanda tangan tidak terlalu memahami realita di akar rumput yaitu di mayoritas negara-negara Muslim kebebasan religius sangat dikerangkeng, yaitu dengan hukum-hukum mengenai penghujatan dan pemurtadan. 

Pada jaman dialog dan toleransi ini kita dapat dicobai untuk mengurungkan diri dari berbicara secara terus terang dan memberi kritik yang membangun. Teguran seperti itu ditakutkan akan mengancam persahabatan antar umat beragama. Namun jika kita benar-benar mempunyai sikap saling peduli bukankah semestinya kita dapat berbicara mengenai kebenaran dalam kasih?  

Beberapa pengkritik Islam akan bersikap sinis terhadap mereka yang menandatangani deklarasi tersebut, mencurigai mereka semua sedang menipu (yaitu menggunakan manuver taktis yang dalam bahasa Arab disebut taqiyya). Sebagai tanggapan untuk hal ini, saya mengakui bahwa kita harus waspada terhadap semua rancangan licik pihak-pihak tertentu, namun demikian, tidaklah adil jika memandang semua Imam dengan cara berpikir demikian. Usul saya adalah berikanlah peluang untuk ragu (untuk pribadi-pribadi), memberi ruang untuk saling menghormati. Segala sesuatu harus dipertimbangkan, karena kita memang harus menguji segala sesuatu ketika kita mendiskusikan topik kemerdekaan yang mempunyai banyak sisi, penuh intrik, dan mempesona  ini.    

Seringkali, banyak orang Muslim yang telah berimigrasi ke Kanada (dan negara-negara Barat lainnya) nampaknya sangat menjunjung kebebasan, seperti yang dapat terlihat dari maksud kedatangan mereka untuk mencari tempat yang lebih baik, yaitu dimana hak-hak azasi manusia dan kebebasan nampaknya lebih berjaya.  

Merdeka untuk taat

Rasul Petrus berbicara secara paradoks mengenai dimerdekakan namun menjadi hamba Tuhan. Ia berkata, “Dan sebagai orang-orang merdeka, janganlah seperti orang yang memakai kemerdekaan sebagai tudung kejahatan, melainkan seperti hamba-hamba Elohim” (1 Petrus 2:16). Rasul Paulus dan Yakobus juga mengakui paradoks ini, mereka mengatakan, “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih…  2 Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan bukan hanya pendengar saja; sebab jika tidak demikian kamu menipu diri sendiri.  23 Sebab jika seorang hanya mendengar firman saja dan tidak melakukannya, ia adalah seumpama seorang yang sedang mengamat-amati mukanya yang sebenarnya di depan cermin.  24 Baru saja ia memandang dirinya, ia sudah pergi atau ia segera lupa bagaimana rupanya.  25 Tetapi barangsiapa meneliti hukum yang sempurna, yaitu hukum yang memerdekakan orang, dan ia bertekun di dalamnya, jadi bukan hanya mendengar untuk melupakannya, tetapi sungguh-sungguh melakukannya, ia akan berbahagia oleh perbuatannya” (Galatia 5:13 dan Yakobus 1:22-25).

Menurut saya banyak orang akan menyetujui pernyataan ini – apapun keyakinan dan budaya mereka. Demikian pula, semua orang yang takut kepada Tuhan – termasuk orang Muslim – setuju dengan ayat yang berkata: “dan kamu akan mengetahui kebenaran, dan kebenaran itu akan memerdekakan kamu” (Yohanes 8:32). 

Mendengar hal ini orang-orang Yahudi menyadari bahwa Yesus sedang mengungkapkan sesuatu yang lebih dalam, maka mereka mendebat-Nya,  “Kami adalah keturunan Abraham dan tidak pernah menjadi hamba siapapun. Bagaimana Engkau dapat berkata: Kamu akan merdeka?34 Kata Yesus kepada mereka: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya setiap orang yang berbuat dosa, adalah hamba dosa.  35 Dan hamba tidak tetap tinggal dalam rumah, tetapi anak tetap tinggal dalam rumah.  36 Jadi apabila Anak itu memerdekakan kamu, kamupun benar-benar merdeka” (Yohanes 8:33-36). 

Kita tidak usah terkejut jika Yesus banyak kali berbicara mengenai kebebasan. Ingatlah bahwa Ia adalah ‘Firman Tuhan’ (dalam Alkitab dan juga Qur’an). Kita juga harus tetap ingat bahwa menurut Yakobus, perkataan Tuhan (‘hukum yang sempurna’) membebaskan kita. Oleh karena itu, sangatlah masuk akal jika kebebasan merupakan suatu tema yang penting dalam pengajaran Yesus Kristus!   

Pada suatu kesempatan Yesus membaca sebuah nubuat mengenai membebaskan orang-orang yang tertindas. Ia dengan sungguh-sungguh mengatakan kepada para pendengar-Nya bahwa Ia tengah menggenapi nubuat ini. Yesaya 61:1-2 yang dikutip-Nya berbunyi sebagai berikut, “Roh YAHWEH  ada pada-Ku, karena Dia telah menurapi Aku, untuk menginjil kepada orang-orang miskin, Dia telah mengutus Aku, untuk menyembuhkan orang-orang yang hancur hati, untuk mengkhotbahkan pembebasan bagi para tawanan, dan pemulihan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk mengutus dalam kebebasan orang-orang yang tertindas” (Lukas 4:18).

Mungkin kita bertanya, “Siapakah orang-orang yang ditawan dan ditindas itu sehingga Mesias datang untuk membebaskan mereka?” Penindasan dapat mempunyai berbagai wujud namun tentu saja mencakup orang-orang yang diperbudak oleh dosa  seperti yang dikatakan Yesus dalam Yohanes 8:34. Para penulis Injil mencatat beberapa contoh mengenai orang-orang yang mempunyai dosa yang besar dan mereka diampuni Yesus – dibebaskan dari beban mereka yang sangat berat dan perbudakan dosa (Lukas 19:1-10; Lukas 7:36-48; Lukas 23:40-43; Yohanes 4:16-19,42) dengan melakukannya, Yesus menggenapi apa yang telah dinubuatkan para nabi.    

Berbicara mengenai para nabi, mari kita memperhatikan tulisan-tulisan mereka untuk melihat, jika memang benar, mereka mengkonfirmasi aspek kebebasan ini, yaitu dalam hal pengampunan dosa.

Merdeka dari dosa

Dengan berbicara secara figuratif, Yesaya mengundang orang untuk mendapatkan makanan dan minuman tanpa membayar sepeserpun. Undangannya terbuka untuk siapapun,  “Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran!  Mengapakah kamu belanjakan uang untuk sesuatu yang bukan roti, dan upah jerih payahmu untuk sesuatu yang tidak mengenyangkan? Dengarkanlah Aku maka kamu akan memakan yang baik dan kamu akan menikmati sajian yang paling lezat” (Yesaya 55:1,2). Yesaya menutup paragraf ini dengan berkata, “Carilah YAHWEH selagi Dia berkenan ditemui, panggillah Dia selagi Dia dekat. Biarlah orang fasik meninggalkan jalannya, dan orang jahat meninggalkan rancangan-rancangannya, dan biarkanlah dia kembali kepada YAHWEH, dan Dia akan berkemurahan kepadanya dan kepada Elohim kita, karena Dia akan melimpahkan pengampunan” (Yesaya 55:6-7).

Yesaya 55 dimulai dengan sebuah undangan untuk minum dengan bebas dan paragraf itu diakhiri dengan mengundang orang-orang fasik untuk menerima anugerah Tuhan yang mengampuni dengan penuh kemurahan. Seorang Muslim yang membaca nubuat ini akan menemukan bahwa mau tidak mau ia harus menyetujuinya karena, di atas segala sesuatu, Allah itu Maha Pemurah dan Maha Mengampuni.    

Namun demikian, ada satu kata kecil yang akan membangkitkan keraguan dalam pikiran seorang pembaca Muslim – yaitu ‘bebas’ (= tanpa bayaran). Jika direnungkan dengan seksama kata ini nampaknya tidak selaras dengan gagasan bekerja keras untuk mendapatkan pahala pada hari penghitungan – sebagai suatu modal untuk menawar, jika bolah dikatakan demikian (bandingkan 61:10-11 dan 9:111 dimana gambaran ‘tawar-menawar’ sangatlah jelas).

Merdeka dari perbudakan

Eksodus massal  bangsa Israel keluar dari perbudakan di Mesir adalah sebuah kisah epik penyelamatan yang dicatat baik dalam Qur’an dan juga di dalam Alkitab. Kenyataanya, kisah itu diulangi beberapa kali oleh para nabi dan setiap tahun diperingati oleh orang Israel pada hari raya Paskah (Pesakh) mereka. Jika kita memperhatikan kisah ini dengan teliti, kita akan melihat bahwa kisah ini lebih dari sekadar penyelamatan fisik; kisah ini mempunyai makna spiritual.   

Catatan Alkitab menjelaskan bahwa oleh karena kekerasan hati Firaun, Tuhan mendatangkan tulah maut atas orang-orang Mesir. Tidak hanya itu, musibah ini merupakan tumpahan murka kudus Tuhan terhadap orang-orang Mesir yang pada dasarnya sama dengan Firaun dalam hal menindas budak-budak mereka. Timbullah pertanyaan, “Mengapa Tuhan tidak hanya memfokuskan murka-Nya pada orang Mesir saja? Mengapa Ia juga memberi ancaman pada keluarga-keluarga orang Israel? Mengapa Ia mewajibkan orang Israel untuk mengurbankan Anak Domba Paskah?” 

Menyediakan binatang pengganti untuk mati menggantikan putra-putra sulung mereka merupakan suatu tanda kemurahan Tuhan. Pada titik ini, semua orang Yahudi, Muslim dan Kristen akan setuju. 

Tidak hanya itu, jika kita dengan cermat memperhatikan hukuman mati yang dijatuhkan atas orang Israel dan orang Mesir maka kita akan menyadari bahwa hal itu menandakan sesuatu yang penting bagi Musa dan kaumnya. Orang-orang Ibrani itu dapat dikatakan tidak lolos begitu saja. Pada malam saat malaikat maut menjelajahi negeri itu, orang-orang Israel menyadari adanya ancaman mengerikan yang sedang menyapu negeri itu. Tapi oleh karena kemurahan Tuhan, mereka tidak termasuk ke dalam bilangan orang-orang yang menjadi korban. Hasil akhir dari semua ini adalah meyakinkan bahwa setelah mereka berhasil keluar dari Mesir, orang-orang Israel tidak akan berpikir bahwa Tuhan membebaskan mereka karena mereka benar dan tidak berdosa.   

Musa menantang umatnya tepat pada hal ini tidak lama sebelum orang-orang Israel memasuki tanah perjanjian. Ia mengingatkan mereka, “…janganlah berkata dalam hatimu dengan mengatakan: YAHWEH membawa aku masuk untuk memiliki negeri ini karena kebenaranku. Tetapi, katakanlah: YAHWEH menghalau mereka dari hadapanmu karena kefasikan bangsa-bangsa itu. Itu bukan karena kebenaranmu atau karena ketulusan hatimu sehingga engkau pergi untuk memiliki negeri mereka. Namun, YAHWEH Elohimmu menghalau mereka dari hadapanmu karena kefasikan bangsa-bangsa itu dan supaya meneguhkan firman yang YAHWEH telah bersumpah kepada leluhurmu, Abraham, Ishak dan Yakub. Dan ketahuilah bahwa YAHWEH, Elohimmu memberikan negeri yang baik ini kepadamu untuk memilikinya bukan karena kebenaranmu, karena kamu adalah bangsa yang tegar tengkuk” (Ulangan 9:4-6). 

Ratusan tahun setelah jaman Musa, nabi Maleakhi menggarisbawahi peringatan Musa terhadap orang Israel dengan berkata, “Sejak zaman nenek moyangmu kamu telah menyimpang dari ketetapan-Ku dan tidak memeliharanya. Kembalilah kepada-Ku, maka Aku akan kembali kepadamu” (Maleakhi 3:7).

Saat kita mengakhiri bagian ini, marilah kita menyimpulkan kisah epik eksodus tersebut. Dalam Keluaran 6:6-7 kita membaca, “Aku-lah YAHWEH, dan Aku akan membawamu keluar dari kerja paksa orang Mesir, dan akan melepaskan kalian dari perbudakan mereka, dan aku akan menebusmu dengan tangan yang terentang, dan dengan penghakiman yang dahsyat. Dan Aku akan mengangkat kamu menjadi umat-Ku sendiri, dan Aku akan menjadi Elohim bagimu, dan supaya kamu mengetahui bahwa Aku-lah YAHWEH Elohimmu yang membawa kamu keluar dari penindasan Mesir”.

Bersambung ke Seri 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *