Alkitab vs Qur'an,  Isu-Isu Terkini,  Komparasi,  YHWH vs ALLAH swt

Kenapa YHWH Tidak Ada Tertulis di Alkitab PB, Kecuali Hanya di PL? (Serial ke-5b)

Signifikansi  Nama YHWH: Wajah Versus Jubah

Nama YHWH teramat jauh transcendental dan subliminal. Ia adalah beyond understanding (Hak.13:18). Karena namaNya adalah manifestasi dan implikasi  dari karakter pribadiNya, dan hanya YHWH-lah yang selalu ADA sepenuh propertiNya seperti itu. Hal ini tak mungkin bisa dimiliki dari  “TUHAN” yang secara ontologis lebih merupakan referensi untuk suatu keberadaan (being) yang namun existensi propertinya sudah tereduksi, betapapun DINIATKAN sama dalam bayang-bayang  mistis-Anda.

Itulah sebabnya YHWH berkalikali secara sengaja menekankan namaNya dalam kepenuhan dan kekuatan diriNya tatkala berfirman kepada nabi dan umatNya. Tentu saja hal demikian dimaksudkan sama untuk setiap kita, demi memberi stressing dan siratan ‘yang menggentarkan’ kepada mereka yang masih “men-TUHAN-kan” Dia secara umum dan biasa-biasa saja. Lihatlah betapa signifikannya nama diriNya yang Dia sebutkan dengan menekankan kekuatanNya diujung atau diawal kalimatNya, dan itu Dia lakukan dengan segala kesengajaan.
Dan bilamana kita menggantikannya dengan kata TUHAN (T), terasalah betapa ter-reduksi-nya dan kelayuan nuansa wibawaNya. Itu ibarat menggantikan  WAJAH dengan JUBAH untuk identitasnya Tuhan!
Lihat beberapa contoh saja:

Kel.6:1-7 “Akulah YHWH (=> TUHAN?) 
Disini ada 7 ayat ringkas dalam peristiwa Musa diutus oleh Tuhan kepada kaum Israel. Perhatikan betapa YHWH PERLU-PERLUNYA mengucapkan nama diriNya secara menyolok bak “over statement”: AKULAH YHWH!
Ini tentu bukan untuk memberi informasi atau perkenalan namaNya secara ber-ulang-ulang, melainkan untuk stressing otoritas ilahiah, yang tidak bisa dicapai dengan nama ganti ‘TUHAN’ (T).

Kel.15:3  YHWH (T?) itu pahlawan perang; YHWH (T?), itulah nama-Nya.  
[‘TUHAN’ tak perlu menerangkan namanya sampai dua kali. Tetapi 2x ulang itu memang cocok diperlukan untuk pembobotan otoritas DIRI YHWH!]

Kel.4:11  Tetapi YHWH (T?) berfirman kepadanya: “Siapakah yang membuat lidah manusia … ; bukankah Aku, yakni YHWH (T?)?
[Ditto, sama dengan atas, nama Tuhan yang ber-kata2 sudah diketahui Musa, jadi kenapa Dia masih perlu2nya mempertanyakan siapa, dan menjawabnya sendiri diakhir kalimatNya? Tiada lain tiada bukan karena itulah untuk pembobotan inferensi dan sugesti otoritas YHWH]].

Awal kata-kata  ancaman  Musa kepada Firaun, atas nama YHWH

Kel.7:17  Sebab itu beginilah firman YHWH (T?): Dari hal yang berikut akan kau (Firaun) ketahui, bahwa Akulah YHWH (T?).
[Ya, jelas maksud Tuhan kita, yaitu agar Firaun tahu bahwa Tuhan itu bernama YHWH, Dia bukan tuhan Mesir,  bukan Tuhan TUHAN manapun].

 Tulah terdahsyat kepada Firaun
Kel. 12:12
  Sebab pada malam ini Aku akan menjalani tanah Mesir, dan semua anak sulung, dari anak manusia sampai anak binatang, akan Kubunuh, dan kepada semua allah di Mesir akan Kujatuhkan hukuman, Akulah, YHWH (T?).
[Nah, inilah nama YHWH yang hendak Dia pertentangkan terhadap semua allah2 Mesir. Tentu Dia harus memakai nama diriNya yang PALING MENGGENTARKAN: ‘AKULAH YHWH satu-satunya’ dan bukan Tuhan abal-abal dengan nama apapun yang lain! Ini harus ditekankan persis  kepada Musa  dan kepada  Firaun.

Imamat pasal 18, terdapat 6x tekanan “Akulah YHWH (T?)” diakhir kalimat

Imamat pasal 19, bahkan ditekankan sebanyak 16x “Akulah YHWH” (T?)”
Kenapa sampai begitu rupa YHWH menegaskan nama diriNya yang YHWH?
Dengan penuh hentakan kekuatan? Tidakkah itu redundant yang konyol dari Elohim, jikalau itu hanya untuk memperkenalkan nama, untuk diketahui,  atau bahkan kalau itu hanya sekedar agar Musa tidak lupa?

Imamat 19:18  Hukum kedua dari Hukum Terbesar:
“… melainkan kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri;
Akulah YHWH (T?)”.
Disini jelas-jelas Tuhan menekankan satu hukum yang meletakkan KASIH tanpa limit untuk sesama. Dan itulah yang Dia nyatakan sebagai hukum terbesar, sebagaimana terbesaranNya dalam ekspresi yang dimeteraikan: “Akulah YHWH”.

Bukankah debut kedahsyatan  “Akulah YHWH!” ini sudah dimanifestasikan dan diimplikasikan pertama kalinya lewat nama YHWH itulah, yang ditujukan kepada Firaun, orang yang paling tegar tengkuk menolak Sang Nama tersebut? Perhatikan bahwa disitu sang Firaun malah menantang balik sepertinya kepada Musa, tetapi sesungguhnya langsung menentang YHWH sendiri. Firaun berkata dengan sangat hujatnya: “Siapakah  YHWH itu yang harus kudengarkan firmanNya…Tidak kenal aku YHWH itu…”

Itulah tantangan muka dengan muka terhadap “ke-Yahweh-an” YHWH yang Firaun lakukan dengan segala akibatnya! Dia telah mengingkari signifikansi dan implikasi nama dahsyat tersebut untuk mana dia harus membayar harganya hingga 10-tulah!

Sebaliknya Daud bukan hanya mencari muka Tuhan, melainkan wajahNya:
Hatiku mengikuti firman-Mu: “Carilah wajah-Ku”;
maka wajah-Mu kucari, ya YHWH”
(Maz 27:8). Ya, YHWH telah mengundang umatNya untuk mencari WAJAH-Nya,
bukan melabelkan JUBAH yang dikenakan kepada “TUHAN” (yang tekor wajah).
WajahNya itulah yang merefleksikan kedahsyatan pribadi yang mengentarkan,
“Sebab YHWH adalah El yang besar, dan Raja yang besar mengatasi segala allah”! (Mzm.95:3)

Pertanyaan kritis untuk kita: Untuk apakah YHWH berobral besar-besaran dengan penekanan namaNya—secara kwalitas dan kwantitas diseluruh Alkitab sampai 6823 kali—jikalau akhirnya manusia manusia rabbinik lebih mengikuti Firaun yang mentulikan kupingnya terhadap Nama YHWH… ketimbang mengikuti Musa?

Tuntutan Akan Kepersisan Pengucapan Nama YHWH

Penggantian nama ini telah terjadi dengan penuh kesadaran dan secara kolektif menjadikannya sebagai “tradisi keagamaan”masyarakat Yudeo-Kristiani sesudah PL, dan ini dianut oleh semua orang-orang Katolik dan mayoritas Kristen.
Tetapi cobalah tanya kepada mereka –kaum YHWH-Changer dan penentang penggunaan Nama Suci– apakah keuntungan/keunggulan penggantian namaNya diatas nama YHWH? Adakah?

Ternyata yang dikemukakan mereka BUKANLAH poin-poin keunggulan atau keuntungan nyata yang dimiliki dalam nama diri T.U.H.A.N-nya, melainkan  hanyalah beberapa butir trivial (diluar isyu kekudusan) yang “dianggap tidak dimiliki” nyata oleh nama YHWH. Seperti:


1. Nama YHWH tidak bisa dipanggil karena semuanya huruf mati.
sehingga tidak ada yang tahu persis –alias sudah hilang– pelafalan terhadap Tetragrammaton YHWH itu.
2. Yesus dan para Rasul juga tidak pernah memanggil YHWH


Tampak bahwa tidak ada keunggulan nama TUHAN (an sich) yang bisa disodorkan mereka, melainkan hanya bisa mengungkitkan anggapan akan “kekurangan” nama YHWH. Dari keharusan menyodorkan keunggulan, malah kini dibiaskan menjadi tuntutan akan pelafalan tetragrammaton ‘YHWH’ yang persis. Woww! Ada nada arogan disini. Mereka lupa bahwa Nama yang satu ini berkadar ‘Ajaib’ dalam arti yang sungguh. Tidakkah mereka teringat kepada  Yakub di Pniel dan Manoah yang juga bertanya begitu, tetapi ditolakNya mentah-mentah?! (refres kembali ke Kej.32:29 dan Hak 13:18).

Memang betul tetragrammaton dalam huruf huruf konsonan tidak bisa diucapkan secara langsung oleh orang orang asing diluar tradisi budaya Ibrani itu sendiri. Namun tidak demikian adanya dengan orang-orang Yahudi lokal sejak zaman dulu, yang tetap setia menjunjung dan menyerukan nama yang maha penting dari Tuhannya. Justru kisah-kisah yang menceritakan seolah semua orang Yahudi tidak lagi mengenal pelafalan nama suci sejak pembuangan ke Babilonia itu hanyalah kisah dramatis yang asal digeneralisir. Selama 70 tahunan (2 generasi) pembuangan mereka, itu memang bisa kehilangan  bahasa tertulis mereka dalam teks kuno Paleo Ibrani, tetapi bukan/ belum akan sampai melenyapkan pelafalan oral mereka. FAKTA bahwa dibawah penjajahan Yunani (khususnya raja Antiochus  IV Epiphanes, 175 – 164 SM) terjadi pelarangan keras pemujaan YHWH dan penindasan brutal terhadap segala bentuk ibadah Yahudi –dengan sanksi hukuman mati—itu sudah membuktikan bahwa nama YHWH tetap dipergunakan oleh orang-orang Yahudi dikala itu. (penindasan yang akhirnya mencetuskan pemberontakan Makabe, 167-160 SM diseluruh Yudea dan Galilea).

Sayang bahwa fakta-fakta historis tentang proses peralihan & pergantian nama YHWH itu kurang terdokumentasi, atau memang sengaja sudah ditiadakan. Namun satu hal yang jelas bahwa proses itu tidak terjadi secara revolusioner, melainkan bersifat evolusi, sporadis dan seleftif, yang akhirnya tetap menyisakan jejak-jejak yang dapat memperlihatkan kepada kita  sekali lagi betapa pelafalan Nama Suci tidaklah hilang samasekali!

Intervensi Manusia Keatas Nama Suci
Alkitab dan para ilmuan sama  melaporkan tentang  tradisi  orang-orang Yahudi yang sejak semula telah mengucapkan Nama Suci Tuhan dengan penuh antusias, hormat dan khidmat. Tetapi kita sering mendengar yang sebaliknya dari kaum YC, yaitu bahwa tidak ada ayat Alkitab yang memerintahkan bangsa-bangsa Non-Israel untuk menggunakan Nama Suci itu. Statemen ini tentu ngawur dan sesat.

*Dibawah Elia, semua rakyat Israel berseru gegap gempita ketika mereka menyaksikan kemenangan Tuhan YHWH atas Baal nya para nabi palsu dan raja Ahad digunung Karmel. Serentak semua rakyat bersujud serta berseru: “YHWH, Dialah Elohim! YHWH, Dialah Elohim!” (1Raj.18:39)

*“Dan bangsa-bangsa akan mengetahui bahwa Akulah YHWH”
(Yeh. 36:23).

*“Bersyukurlah kepada YHWH, panggillah nama-Nya, perkenalkanlah perbuatan-Nya di antara bangsa-bangsa!” (1Taw.16:8).

*Bahkan bangsa-bangsa yang jahat juga diminta untuk bertobat dengan bersumpah demi nama YHWH yang hidup (Yer.12:14-16).
*Dan Tuhan malahan akan memberikan bibir lain kepada bangsa-bangsa, supaya sekaliannya mereka memanggil nama YHWH. (Zep.3:9).

Bertalian dengan sejarah, kita juga tahu bahwa raja Persia yang non-Yahudi itu juga mengenal akan nama YHWH. Dialah Koresh, yang menaklukkan Babylon, yang akhirnya melepaskan orang-orang Yahudi yang ditawannya untuk pulang ke Yerusalem demi mendirikan Bait Tuhan disana. Raja Koresh memproklamasikan maklumat kerajaan – sekitar 538 SM—dengan ucapan maupun tulisan akan nama YHWH:
Segala kerajaan di bumi telah dikaruniakan kepadaku oleh YHWH, Elohim semesta langit….” (Ezr.1:2).
Akhirnya di Yerusalem,Ezra diminta oleh seluruh umat untuk membacakan Kitab Taurat. Dan ini dilakukan  seharian suntuk, bahkan hingga 7 hari, dimana nama YHWH diserukan dan disambut seluruh umat dengan “Amin, Amin” (Neh. ps.8-9).
Itu terjadi dipertengahan abad ke-5 SM, saat-saat menjelang akhir dari sejarah pewahyuan para nabi di PL. Dan sesudah itu masuk kedalam pelbagai masa tragis penganiayaan & peng-helenisasi orang-orang Yahudi yang makin menjauhkan dan mengaburkan pengucapan Nama Suci. Namun demikian, TIDAK terindikasi apapun akan adanya pewahyuan susulan di PL dan bahkan di PB (!) yang mengizinkan PELARANGAN & PENGGANTIAN PENGUCAPAN NAMA YHWH sebagaimana yang dipahami dan dipraktekkan oleh kaum YHWH-Changer! Tak ada izin ilahi untuk membatalkan pengucapan Nama SuciNya kecuali tafsir-tafsir rabinika yang ingin memperkokoh legalisasi otoritas mereka dengan ancaman kekudusan Sang Nama!

Menengok Jejak-Jejak Penghilangan Nama Suci
Aturan-pengucapan Nama Suci tidak tampak diberlakukan larangan serempak, melainkan  berkembang lewat tradisi-sekunder yang sudah kita bicarakan didepan.  Larangan pokok tadinya –yaitu tradisi –primer– mengacu kepada tradisi baku Dasa Titah YHWH, tetapi lambat laun berkembang kepelbagai arah larangan ‘tafsir rabbinik’ secara partial dan bersifat kondisional, seperti …

*Nama Suci tak boleh diucapkan dengan suara keras (namun boleh suara bisik-bisik saja)… *Tidak diucapkan ditempat umum. Ditempat umum, nama Suci diucapkan dengan nama pengganti (Adonai). Ditempat ibadat, imam-imam mengucapkan Nama Suci sebagai mana yang tertulis (YHWH)  (lihat Misnah Sotah 7:6)… *Orang awam dilarang ucap kecuali Imam-imam dan yang tertentu saja… .*hingga akhirnya hanya diizinkan kepada para Imam Besar saja, dan itupun khusus dalam Bait Suci Yerusalem dihari raya khusus…..

Kita melihat bahwa sejak Musa hingga akhir dari penaklukan Babylonia pengucapan Nama Suci masih dilakukan oleh Ahli Taurat Ezra bersama umatNya. Dan baru pada masa pemunculan Septuaginta terjemahan Yunani dari Kitab-kitab Ibrani –mulai sekitar 280 SM hingga abad ke-1 SM– tampak nyata bahwa tetragramaton (4 huruf YHWH) itu makin disembunyikan pelafalannya dan akhirnya digantikan dengan kata “Kyrios”. Namun tak ada keraguan bahwa pelafalan Nama Suci itu dikenal oleh para Imam yang harus mempertahankan nama itu bagi umat Yahudi. Nama Suci tetap  diserukan oleh pihak Imam Besar dan kalangan kudus lainnya khususnya tatkala menyampaikan Berkat Imamat (Priestly Blessings) kepada umat –seperti yang diperintahkan YHWH dalam Kitab Bilangan 6:24,25,26– yaitu dengan menyerukan Nama Suci YHWH sebanyak 3 kali. Dan lebih khusus lagi tatkala Imam Besar melaksanakan liturgi-raya di-Hari Penebusan atau Yom Kippur di Bait Yerusalem setiap tahun. Disitu Imam Besar menyerukan 10 kali nama YHWH dengan suara keras (Talmud-Mas.Yoma 39b). Belum lagi adanya keharusan bagi para imam untuk meneruskan Nama Suci ini kepada anak-anak atau para murid mereka, 1 atau 2 kali setiap 7 tahun (Babylonia Talmud, Kiddushin 71a). Bagaimanapun, pelafalan Nama Kudus itu  tidak hilang  melainkan dikenal, diajari dan diturunkan diawal masa pasca Yesus mengingat Talmud Babylonia itu baru diselesaikan secara final sekitar tahun 550 M dalam dua bahasa Aram dan Ibrani (https://www.sefaria.org/Kiddushin.71a.9?lang=bit&with=all&lang2=en) Singkatnya, Encyclopaedia Judaica menyebutkan “pelafalan Nama Suci YHWH yang asli dan benar tidak pernah hilang dari ingatan manusia” (EJ, 7, p.680). Pengucapan Nama Suci tetap berjalan paling tidak selama Bait Suci Yerusalem masih ada berfungsi. Dan dipercaya bahwa Imam Besar Kayafas dan kelompok sucinya (Luk.3:2; Yoh.11: 47-52) juga mengetahui pelafalan mulia itu. Dan itulah pada rentang zaman Yesus, hingga Bait Suci dihancurkan Romawi ditahun 70 M.

Vokalisasi tetragramaton telah dikonstruksikan oleh banyak sekali para ilmuwan dari pelbagai bidang keilmuan yang pada akhirnya menyimpulkan bahwa pengucapan tetragramaton yang paling dipercaya dan didukung paling luas oleh kalangan ilmuan dan teolog.adalah YAHWEH atau YEHOVAH atau YEHUWA (dengan beberapa bunyi pergeseran lidah lainnya) dan pelafalan transliteratif lain yang mungkin. Semuanya tidak keluar dari kerangka akar kata, vokal kata, dan makna asli dari batang tubuh “YHWH” itu sendiri.

Bahwa ada beberapa pelafalan yang dianggap tidak pasti dan persis—seperti  Yahowah, Yehovih, Yahwih dll hal itu hanyalah bentuk transliterasi didalam lingkup realm “YHWH” –-bukan varian-varian yang diambil/comot dari luar lingkupnya seperti pelabelan kata “TUHAN” atau “ALLAH”. Pelabelan demikian telah menjadikan dirinya ibarat UFO –total alien keluar dari sumber aslinya dan makna esensinya yang berdiri diatas fondasi “AKU ADA YANG AKU ADA”!

Betapapun yang kita lafalkan dari bibir kita untuk mensuarakan Tetragrammaton YHWH,  tetaplah tidak akan sama persis sounding, tarikan, dan intonasinya  seperti yang YHWH (atau Musa) sendiri ucapkan dari mulut dan bibirNya. Tidak ada bjad atau aksara dan tanda-tanda-vokal manapun yang mampu 100% menuliskan suara. Keduanya dalam dimensi yang berbeda.


Akhirnya, mengingat namaNya itu beyond understanding (Hak.13:18), maka kita justru bisa dipuaskan dengan kenyataan bahwa namaNya yang ‘beyond the exact sound and script’ itu layak menyisakan porsi misteri yang memang Tuhan SUDAH PERUNTUKAN bagi kemuliaanan DiriNya sendiri: “Kemuliaan Elohim ialah merahasiakan sesuatu, tetapi kemuliaan raja-raja ialah menyelidiki sesuatu” (Ams.25:2).


ALHASIL: Kita sungguh tidak mengerti logika dari para “penolak menggunakan nama YHWH” yang menuntut kepersisan vokalisasinya ‘YHWH’, tetapi justru mendukung penyimpangan vokalisasi kata ‘TUHAN dan ALLAH’ yang justru extrim jauh dari kepersisan nama aslinya! Apalagi ini jelas menyeret penyimpangan makna Nama Suci, dari makna aslinya yang imanen & transenden “I AM THAT I AM”, kini total tereduksi menjadi “Sang Penguasa” TUHAN!…

Keuntungan Menggantikan Nama Suci:
Mendapati Terjemahan Yang Putus Asa. 

Orang awam non-Kristen sangat tahu apa artinya kata kata “Tuhan” dan “Allah”, tetapi sungguh tak paham sedikitpun apa itu “TUHAN” dan “ALLAH” semua huruf besar yang telah dijejerkan disamping kata Tuhan dan Allah dalam Kitab- Sucinya orang Kristen. Bagaimana dengan orang Kristen awam? Mari kita simak bersama.

THE WORD-PLAY BERIKUT INI
(A). Mari baca Kitab Yesaya 61:1,
“Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena TUHAN telah mengurapi aku..”  
[The Spirit of the Lord GOD is upon me; because the LORD hath anointed me…]

NOTE: Ayat pusaka ini sengaja dicari dan dikutib oleh Yesus ketika Dia berkotbah disebuah rumah ibadat di Nazaret. Lihat Lukas 4:18-19. Yang interesting disini apakah Yesus membaca ayatnya dalam nama YHWH atau TUHAN atau ALLAH? Kita tidak singgung ini dulu disini tetapi nanti di bab Serial-6: “Apakah Yesus Tahu- Menahu Tentang Nama & Pelafalan YHWH?”.

Pertama-tama, apa makna dan maksud dari 4 jenis PANGGILAN MULIA  yang di-beda-bedakan dalam ayat tersebut. yaitu: “Tuhan, TUHAN. Allah, dan ALLAH”.  Kita yang awam hingga sarjanapun pasti melihat bahwa ada keterpaksaan pemlintiran dan pergantian istilah Tuhan dan Allah disitu. Bacaan yang lurus, gramatikal dan logik-nya tentunya harus berbunyi:
Roh Tuhan ALLAH ada padaku, oleh karena ALLAH telah mengurapi aku…”.

Bukankahkata ALLAH di-induk kalimat  harus SAMA dengan ALLAH yang di-anak kalimat? Tetapi disini ternyata prinsip yang benar dan lurus tidak bisa dijalankan. Kekonyolan dari word-game ini seharuslah dipertanggung jawabkan  dengan seksama:
(1). Apa beda TUHAN dengan ALLAH disini? Dan
(2). Kenapa sesudah menggantikan nama YHWH dengan TUHAN, kini Anda YC masih harus menggantikannya dengan ALLAH dianak kalimat kedua?
Nah, Inilah upah dari kesepakatan yang semrawut diantara para ahli Kristen yang ngotot menolak kata suci YHWH! Sebab pilihan bacaan yang TERBAIK & SEMPURNA sesungguhnya hanya se-simple back to basic Bible yaitu,
“Roh Tuhan YHWH ada padaku, oleh karena YHWH telah mengurapi aku”!
Itulah produk terjemahan akrobatik yang putus asa, hasil belat-belit semrawut terjemahan Nama Suci yang telah ditukar gulingkan demi sinkron terhadap tradisi, namun tidak sensitif terhadap relevansinya dengan hukum “Jangan menyebut nama YHWH dengan sembarangan”!

(B).  Bandingkan lagi dengan Kel.23:17 (LAI),
“Tiga kali setahun semua orangmu yang laki-laki harus menghadap
ke hadirat Tuhanmu TUHAN”.
[(… shall appear before the Lord GOD (Tuhan TUHAN)].

Apa artinya “Tuhan(mu) TUHAN”? Padahal sangatlah sederhana dan benar akurat bila diterjemahkan lurus saja menurut aslinya:
 … harus terlihat di hadapan Tuhan YHWH (Terjm.ILT).
Singkat kata, akhirnya begini saja kita berkata,
Pronoun “Tuhan” is just common, well understood, but “TUHAN”
 is never a right choice, it is man made name, unauthorized by its own…

Dengan perkataan lain, lagi lagi itu adalah produk terjemahan yang putus asa.

Ada lagi contoh menarik yang memperlihatkan absurditasnya yang tidak terlalu kentara karena kita sudah terbiasa saja membacanya begitu. Namun sesungguhnya telah terjadi pencemaran antara SOSOK dengan NAMA disini.

Re Keluaran 34:1-7, khususnya ayat 5-7, Terjm LAI:

“Turunlah TUHAN (YHWH) dalam awan, lalu berdiri di sana dekat Musa serta menyerukan nama TUHAN (YHWH). Berjalanlah TUHAN (YHWH) lewat dari depannya dan berseru: “TUHAN, TUHAN (YHWH, YHWH), Allah penyayang dan pengasih, panjang sabar, berlimpah kasih-Nya dan setia-Nya, yang meneguhkan kasih setia-Nya kepada beribu-ribu orang, yang mengampuni kesalahan, pelanggaran dan dosa; tetapi tidaklah sekali-kali membebaskan orang yang bersalah dari hukuman, yang membalaskan kesalahan bapa kepada anak-anaknya dan cucunya, kepada keturunan yang ketiga dan keempat.”


Perhatikan bahwa Tuhan bisa memanggil nama diri-Nya sendiri dengan bebasnya. Kenapa begitu? Itu karena Sosok dan NamaNya selalu menyatu (akan diperjelas nanti). Namun apabila namaNya telah diganti manusia, maka mustahil Dia bisa memanggil balik kepada diriNya sendiri dengan nama ganti yang bukan propertiNya! Perhatikan kalimat pertamanya:
“Turunlah TUHAN dalam awan, lalu… menyerukan nama TUHAN”.
Ini  versi ajaib buatan manusia, sebab Tuhan (Sosok) yang turun dari  Sorga itu mustahil menyerukan nama-diri “TUHAN” (yang manusia berikan kepadaNya secara ilegal) SAMBIL mengganti nama asliNya! Nama pengganti yang diserukan itu tidak pernah keluar dari mulutNya kepada Musa sejak tahun 1300 SM, hingga sekarangpun! Ingat, oknum dengan nama pengganti tidak dapat berseru balik kepada nama pengganti KECUALI DIA SENDIRI SUDAH MENSAHKANNYA.

Apalagi dengan ayat di kalimat kedua, terdengar seruan langsung dari mulut TUHAN sendiri yang menyerukan  “TUHAN, TUHAN” dalam bentuk nama pengganti: Berjalanlah TUHAN lewat dari depannya dan berseru:
“TUHAN, TUHAN, Allah penyayang dan pengasih,
….”.

Tuhan manakah yang Tuhan Musa itu serukan?
Apakah Tuhan Musa itu ada yang selain YHWH?
Tidakkah ini suatu skenario dari umat Tuhan yang kebablasan ketika Sosok YHWH sesudah digantikan namaNya oleh manusia), lalu diskenariokan lagi dengan memproklamirkan nama pengganti ini –oleh mulutNya sendiri– seolah ABSAH bagi diriNya? Teks aslinya menyatakan secara lurus bahwa “YHWH berseru: YHWH, YHWH…” dan  itu adalah keseluruhan AKULAH yang berseru; “AKULAH, AKULAH…”, yang mana YHWH serentak memanggil YHWH secara tepat: Ya DiriNya, Ya NamaNya! 
Sebaliknya, jikalau nama-DiriNya diganti dengan kata ganti TUHAN, maka hal itu mustahil terjadi, sebab SOSOK yang digantikan namaNya, mustahil bisa serta merta memanggil NAMA yang menggantikan”.

NOTE: Dalam appendix Alkitab versi LAI, bagian  Kamus Alkitab hanya diterangkan  istilah TUHAN sebagai “Salinan dari nama Allah Israel, yaitu Yahweh”. Ini tidak memadai dan membingungkan: Apa dimaksudkan dengan “salinan” disini? Apakah itu berarti kutiban, copy-an, terjemahan, transleterasi, atau lainnya? Kenapa dan bagaimana itu disalinkan sehingga ada muncul lafalan “Yahweh” dari manuskrip/kitab yang disalini, dan bukan YHWH atau ADONAI? Dan apa itu “ALLAH” yang mau disejajarkan atau diibedakan dengan kata TUHAN dan Yahweh? Kenapa dihindari samasekali dan tidak berani dijelaskan? Pengamat yang kritis segera akan berkesimpulan bahwa penterjemahan disini telah terkusut, dan tidak ada bahan lagi disini (putus asa?) untuk mencoba mendefinisikan pembedaannya antara ALLAH dengan TUHAN. Tidakkah itu sebuah tanda peringatan dari YHWH yang mahabaik, bahwa bilamana Nama SuciNya disembarangi maka akan timbul masalah inkonsistensi yang absurd?! 

Pesan Tuhan jelas, lurus dan gamblang: “…YHWH akan memandang bersalah orang yang menyebut nama-Nya dengan sembarangan” (UL.5:11). Tetapi, kita selalu lebih senang menegakkan kebenaran tradisionil kita dengan preferred name kita dengan asumsi tafsiran privat atau kolektif  kita, tetapi yang justru berujung dengan meninggalkan sejumlah masalah baru yang tak terselesaikan bagi kita:

  • Apakah nama “TUHAN” itu nama yang kekal (sperti YHWH)?
  • Darimana datangnya nama T.U.H.A.N atau A.L.L.A.H itu sehingga bisa menjadi nama- diri suatu sosok, yang dijejerkan sesukanya (baca: sembarangan) kepada Tuhan Semesta Alam?
  • Siapakah yang sudah memberi atau diberi otoritas untuk memanggilNya TUHAN?
    Ya, hanya Hagar yang pernah memberi nama khusus kepada YHWH — nama yang Hagar sendiri sudah dengar. Namun Nama pemberian Hagar samasekali bukan untuk menggantikan, melainkan untuk turut memberi kesaksian seraya mensyukuri Dia yang YHWH, yaitu dengan sebutan EL-ROI, The God who sees me. (Kej.16: 11 dan 13)
  • Sekalipun Yesus “sepertinya” dipakai sebagai dalil & tameng bahwa Ia tidak pernah melafalkan kata YHWH, namun bukankah Yesus juga absen memanggil TUHAN? [Dan siapa bilang Yesus tak pernah panggil YHWH? See pasal akhir]
  • Diakrobat seperti apapun, dapatkah Anda menyamakan YHWH identik dengan  TUHAN (dan ALLAH) dalam segala dimensi inheren-Nya?
  • “CARILAH WAJAH YHWH”:
    Pemazmur berkata bahwa YHWH mempunyai “wajahNya Tuhan” (Maz 27:8), yang membawa natur aslinya secara penuh. “YHWH” mempunyai cahaya, enersi, power dan hidup. Sebaliknya  ‘TUHAN’ tidak ada keaslian apapun disitu kecuali dilabelkan seolah identik.
    Pengabjatan T.U.H.A.N itu hanyalah sebuah nama generik tadinya, yang dikenakan label atau JUBAH LUARANsupaya bisa disepakati bersama sebagai nama pribadi untuk ketuhanan, Sang Penguasa!  
  • Maka kembali kita diingatkan akan kaidah bahwa penggantian nama pada dasarnya berarti memberi status baru yang berbeda, atau lebih tinggi, atau lebih rendah dari status sebelumnya. “Each thing is what it is and not another thing”.

Tetapi Yesus justru sudah berkata dengan sangat lugas:
“Jika ya, hendaklah kamu katakan: ya, jika tidak, hendaklah kamu katakan: tidak. Apa yang lebih dari pada itu berasal dari si jahat” (Mat.5:37).

Bersambung ke seri 6a

Artikel ditulis oleh : Ram Kampas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *