Alkitab vs Qur'an,  Isu-Isu Terkini,  Komparasi,  YHWH vs ALLAH swt

Sepuluh Alasan Utama Mengapa Islam Bukan Agama Damai?

Kekerasan dalam hidup Muhammad dan Quran

Bagian 1

Oleh : James M. Arlandson

Sejak tragedi 9/11, para pemimpin Muslim yang mempunyai akses kepada media nasional mengatakan kepada kita bahwa Islam adalah agama damai dan bahwa kekerasan tidak merepresentasikan esensi dari agama yang diajarkan Muhammad. 

Bahkan Presiden Bush dan Perdana Menteri Blair mengulangi pernyataan ini, dengan mengatakan bahwa Islam telah “dibajak” oleh beberapa orang fanatik yang kejam. Benarkah demikian?

Sayangnya tidak, oleh karena fakta-fakta empiris dan yang telah diteliti dengan sungguh-sungguh dan dengan tidak ragu-ragu mengatakan bahwa Islam sejak mulanya dipenuhi dengan kekerasan – dalam hidup Muhammad sendiri dan juga dalam Qur’an. 

Maka dengan demikian, para apologis Muslim ini harus berhenti menyesatkan orang-orang Barat yang tidak mempunyai kecurigaan apa-apa terhadap Islam, dan mereka harus jujur mengenai inti sari agama mereka, sekali dan untuk semuanya. 

Berikut ini ada sepuluh alasan jelas dan dapat diverifikasi yang menjelaskan mengapa Islam bukanlah agama damai.

Jelas? Untuk mencegah pembelaan standar dan refleksif  yang “keluar dari konteks” dari para apologis Muslim, konteks setiap ayat dalam Qur’an dijelaskan baik dalam artikel ini maupun dalam link-link yang terhubung dengan masing-masing dari ke-10 alasan ini. Tidak ada ayat yang dikeluarkan dari konteksnya, dan terjemahan-terjemahan Muslim digunakan disini. 

Dapat diverifikasi? Para pembaca diajak untuk memperhatikan tiap ayat dalam Qur’an dalam berbagai terjemahan, dengan mengunjungi website www.quranbrowser.com dan memperhatikan referensi-referensi, seperti Sura 61:10-12. (61 adalah nomor bab atau Sura, dan 10-12 adalah ayat-ayatnya).  

Namun pertama-tama kita harus menjawab sebuah strategi Muslim. Seorang misionaris Muslim atau polemis yang meyakini bahwa Islam adalah agama yang terbaik di dunia, dan yang ingin agar Islam tersebar ke seluruh penjuru dunia berusaha untuk menolak sepuluh alasan utama ini. Namun berusaha menolak daftar seperti ini sama seperti mengulas buku hanya berdasarkan pada babnya yang terakhir. Si pengulas telah mengabaikan kerja keras yang diperlukan saat membaca semua bab yang ada. Demikian pula si polemis Muslim atau misionaris Islam tersebut telah melompati kerja keras yang ada dalam artikel-artikel pendukung dan link-link yang ada. Kesepuluh alasan utama ini hanyalah sebuah ringkasan dari banyak artikel dan segunung kerja keras dari penulis dan banyak penulis lainnya. Jawaban terhadap kritik Muslim terdapat dalam semua artikel ini. Oleh karena itu kritiknya hampa dan kesarjanaannya dangkal, karena ia tidak menunjukkan adanya kerja keras. Tentu saja ia tidak memahami Alkitab. Ditambah lagi, ia mengecat putih Islam dalam upaya penolakannya itu. Artikel-artikel pendukung akan menunjukkan bagaimana hal itu dilakukan. Sehingga dapat dikatakan bahwa ia mengecat putih Islam secara sengaja ataupun tanpa disadarinya, yang berarti ia tidak tidak mengenal agamanya sendiri atau ia memang mengenal agamanya, namun ia menutup-nutupi agamanya itu. Apapun kasusnya, kebenaran mengenai Islam yang sesungguhnya haruslah dimunculkan.

10. Muhammad memberikan julukan terhadap senjata-senjatanya.

Tabari (839-923 M) adalah seorang sejarawan Muslim mula-mula yang dipandang sangat terpercaya oleh para sarjana masa kini. Pada kenyataannya, State University of New York Press memilih tulisan sejarahnya untuk diterjemahkan ke dalam 38 volume. (Kita menggunakan The Last Years of the Prophet, terjemahan Ismail K. Poonawala, 9:153-55).

Dalam konteks daftar aset-aset Muhammad pada akhir hidupnya (kuda, unta, domba dsb), Tabari mencatat julukan-julukan untuk senjata-senjata Muhammad.

Muhammad menjuluki ketiga pedang yang dirampasnya dari suku Yahudi Qaynuqa setelah ia mengusir mereka dari Medina pada April 624 M: “Teracung”, “Sangat Tajam”, dan “Maut”. Dua pedang lainnya dari tempat lain dinamainya: “Tajam” dan “Tidak Mau Tenggelam”  (kemungkinan menusuk hingga tenggelam ke dalam tubuh/daging manusia). Setelah Hijrah atau kepindahannya dari Mekkah ke Medina pada 622M, ia mempunyai dua pedang yang dinamai “Tajam” dan “Memiliki Tulang Belakang”. Pedang yang terakhir ini diambilnya sebagai harta rampasan setelah kemenangannya pada Perang Badr di bulan Maret 624M. 

Berikutnya, Muhammad mengambil tiga busur dari suku Qaynuqa dan menamai busur-busur itu sebagai berikut: “Sangat baik untuk menenangkan”, “Putih” dan “Sepotong kayu” (sejenis pohon yang biasa digunakan untuk membuat busur). 

Nama sebuah jubah mengandung makna “Ketersediaan” atau “Bagian-bagian yang dibuang” kemungkinan besar karena Muhammad gemuk (bdk. Ibn Ishaq, Life of Muhammad, terjemahan Guillaume, h. 383). 

Terakhir, bahkan Muhammad sendiri mempunyai julukan. Setelah Tabari membuat daftar yang positif, kenyataannya ia memberikan satu julukan yang tidak terlalu positif: “Orang yang menghapus/menghilangkan”. 

Para apologis Muslim mungkin akan keberatan dengan mengatakan bahwa Tabari tidak berotoritas (kecuali ketika ia menampilkan Muhammad sebagai pahlawan atau berkemenangan) dan bahwa ia tidak berada pada level yang sama dengan Qur’an dan beberapa Hadith (perkataan dan perbuatan Muhammad di luar Qur’an). Ini benar. tetapi para apologis Muslim masih harus menjawab mengapa tradisi seperti menamai senjata berkembang di seputar Muhammad. Lagi pula, kemudian tradisi-tradisi yang tidak memiliki otoritas mengenai Kristus juga berkembang, namun semua itu tidak menunjukkan bahwa Ia memiliki senjata, apalagi menamainya. Jawaban untuk pertanyaan ini mengenai Muhammad terdapat dalam kesembilan alasan berikut.

Artikel ini (This article) menjelaskan sikap Kristus terhadap pedang dengan lebih jelas, demikian pula yang satu ini (This one). Tentu saja Ia tidak pernah menyukai pedang atau menjulukinya, memamerkannya dengan bangga, dan mendapatkan kesenangan dengan pedang.  

Maka, kekerasan bertahta di hati Islam mula-mula – dalam hidup Muhammad. Oleh karena itu Islam bukanlah agama damai.

9. Muhammad memerintahkan dalam Qur’annya bahwa pria dan wanita yang berzinah harus dihukum seratus kali cambukan.

24:2 Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya seratus kali dera, dan janganlah belas kasihan kepada keduanya  mencegah kamu untuk (mejalankan agama) Allah, jika kamu beriman kepada Allah, dan hari akhirat, dan hendaklah (pelaksanaan) hukuman mereka disaksikan oleh sekumpulan dari orang-orang yang beriman  (bdk. MAS Abdel Haleem, The Quran, New York: Oxford UP, 2004). 

Konteks historis dari Sura ini terjadi pada penyerangan sebuah suku pada Desember 627 atau Januari 628, dimana ketika itu Muhammad membawa istri kesayangannya dan yang termuda, yaitu Aisha, yang juga adalah putri dari Abu Bakr, letnan kepercayaannya. Setelah kemenangan orang-orang Muslim, mereka kembali ke Medina, 150 mil ke arah utara. Pada perhentian mereka yang terakhir, Aisha menjawab “panggilan alam” (buang hajat), namun ia kehilangan kalungnya dalam kegelapan, saat pasukan sedang mengemasi perkemahan dan hendak melanjutkan perjalanan di pagi hari. Ia pergi mencari kalungnya, dan menemukan kalung itu. Sementara itu, orang yang bertugas menuntun untanya beranggapan bahwa ia ada dalam tandunya, lalu ia menuntun unta itu pergi. Sekembalinya dari mencari kalungnya, Aisha mendapati bahwa ia telah ditinggalkan.   

Namun demikian, seorang pria muda Muslim yang tampan bernama Safwan melihatnya dan menemaninya kembali ke Medina, walaupun baik orang Muslim dan para lawan Muhammad mulai bergosip ketika melihat dua orang muda ini memasuki kota bersama-sama. Pada akhirnya, turunlah wahyu yang mengatakan bahwa Aisha tidak melakukan kesalahan moral apapun.

Maka, Sura 24 menetapkan beberapa aturan dasar terhadap perzinahan, dimana hukum cambuk 100 kali adalah salah satunya. Mengherankan sekali, Sura 24:2 menganjurkan para penuduh dan para hakim agar tidak membiarkan belas kasihan menghalangi mereka dari melaksanakan hukum-hukum Tuhan. 

Lebih jauh lagi, tradisi-tradisi mula-mula dan yang dapat dipercayai menggambarkan Muhammad dan orang-orang Muslimnya melempari pria dan wanita yang berzinah dengan batu, seperti yang dicatat oleh dua kolektor dan editor haditha yang sangat dipercayai, yaitu Bukhari (810-870 M) dan  Muslim (kira-kira  817-875 M):

Umar berkata: Allah telah mengutus Muhammad dengan kebenaran dan menurunkan Kitab [Quran] kepadanya, dan ayat melemparkan batu, termasuk ke dalam wahyu yang diturunkan oleh Allah Yang Maha Tinggi. Utusan Allah  [Muhammad] telah memerintahkan agar orang dilempari dengan batu sampai mati, dan kita telah melakukannya juga sejak kematiannya. Rajam batu adalah kewajiban yang ditetapkan oleh Kitab Allah bagi pria dan wanita yang sudah menikah yang melakukan percabulan jika ada buktinya, atau jika ada kehamilan, atau sebuah pengakuan (Muslim no. 4194)

Umar adalah letnan kepercayaan Muhammad (bersama dengan Abu Bakr), dan bahkan tidak lama setelah kematian Muhammad ia berusaha sangat keras untuk memasukkan sebuah ayat yang mengijinkan rajam batu ke dalam Qur’an, namun ia tidak berhasil (Ibn Ishaq, Life of Muhammad, terjemahan Guillaume, h. 684). Perhatikanlah, Hadith ini dan yg berikutnya memberi dasar bagi banyak orang Muslim dewasa ini untuk melakukan rajam batu, seperti yang terlihat disini: [1], [2], [3], [4]. 

Boleh jadi Hadith yang paling menggelisahkan adalah yang berikut ini. Seorang wanita menemui nabi dan meminta penyucian (dengan dihukum karena dosa-dosanya). Nabi mengatakan padanya untuk pergi dan meminta pengampunan Tuhan. Empat kali ia berkeras dan mengakui bahwa kehamilannya adalah akibat dosa percabulan. Nabi mengatakan padanya untuk menunggu sampai ia melahirkan. Kemudian nabi mengatakan bahwa komunitas Muslim harus menunggu sampai ia menyapih anaknya. Ketika tiba harinya anak itu diberi makanan padat, Muhammad menyerahkan anak itu kepada komunitas dan memerintahkan agar wanita itu dihukum mati dengan rajam batu.

Dan ketika ia telah memberi perintah atas wanita itu dan wanita itu dikubur hingga ke dadanya, ia memerintahkan orang-orang untuk melempari wanita itu dengan batu. Khald b. al-Walid maju menggengam sebuah batu dan melempari kepalanya, dan ketika darah wanita itu memerciki wajahnya, ia mengutuki wanita itu (Muslim, no. 4206).

Memang benar Muhammad mengatakan kepada Khalid agar bersikap lebih lembut, namun seberapa lembut orang harus bersikap saat melempari seorang wanita yang dikubur hingga ke dadanya dengan batu? Apakah batu itu hanya boleh melayang 30  atau 40 mil per jam? Mungkin Muhammad waktu itu memerintahkan agar Khalid tidak mengutukinya. Kemudian nabi mendoakan jasadnya dan kemudian menguburkannya. Sejujurnya, seberapa efektifkah doa itu sedangkan Muhammad dan komunitasnyalah yang membunuhnya dengan keji? Semestinya mereka mengampuninya dan membiarkan ia mengasuh anaknya.  

Bahkan seandainya beberapa apologis Muslim masa kini tidak menerima hadith-hadith ini, mereka masih harus menjawab mengapa Tuhan sejati memerintahkan penghukuman yang berat dengan cambukan dalam Qur’an  (Sura 24:2), sedangkan Perjanjian Baru tidak berkata apa-apa mengenai hal ini. Oleh karena itu orang-orang Kristen harus menolak ayat ini dengan keras, karena Kristus sendiri mengampuni wanita yang tertangkap basah melakukan perzinahan dan mengatakan padanya untuk pergi dan tidak berbuat dosa lagi (Yohanes 8:1-11). Ia menunjukkan pada kita cara yang lebih baik dan mengajari kita apa kehendak Tuhan yang sejati itu.   

Untuk informasi lebih lanjut mengenai penghukuman itu dan bagaimana penerapannya pada masa kini, anda dapat melihatnya di: Artikel ini (this article), yang juga menjawab para apologis Muslim dan menjelaskan Yohanes 8:1-11 dengan lebih menyeluruh. 

Dengan demikian, kekerasan yang keji bertahta di dalam hati Islam mula-mula – dalam hidup Muhammad dan dalam Qur’annya. Oleh karena itu Islam bukanlah agama damai.

8. Muhammad dalam Qurannya mengijinkan para suami untuk memukuli istri-istri mereka. 

Sura 4:34 Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkanlah mereka di tempat tidur mereka, dan pukullah mereka. Kemudian jika mereka menaatimu, janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar (Haleem). 

Ayat ini ditulis dalam konteks historis Perang Uhud (Maret 625 M), dimana Islam kehilangan 70 pejuang sucinya. Ayat ini termasuk ke dalam kumpulan ayat yang lebih besar yang menekankan hukum-hukum untuk keluarga, seperti bagaimana membagi harta warisan dan bagaimana menangani aset-aset yatim piatu (ayat 1-35).  

Jelasnya, Sura 4:34 memerinci bahwa para suami boleh memukuli istri-istri mereka jika si suami “mengkuatirkan” ketaatan mereka, terlepas dari apakah si istri memang benar-benar tidak taat atau tidak. Ini membuat interpretasi terhadap tingkah laku para istri hanya berdasarkan penilaian suaminya, dan hal ini membuka lebar pintu penyiksaan. Ayat ini adalah bukti nyata kemunduran sosial budaya besar-besaran dan harus ditolak oleh orang-orang yang waras dan memiliki rasa keadilan.  

Hadith  mengatakan bahwa para wanita Muslim pada masa Muhammad menderita kekerasan dalam rumah-tangga akibat konteks hukum-hukum pernikahan yang membingungkan:

Bukhari melaporkan insiden mengenai para istri dalam komunitas Muslim mula-mula dalam konteks kekacauan pernikahan dan hukum-hukum pernikahan kembali yang janggal:

Rifa’a menceraikan istrinya lalu ‘AbdurRahman bin Az-Zubair Al-Qurazi menikahi wanita itu. ‘Aisha mengatakan bahwa wanita itu (datang), mengenakan kerudung hijau (dan mengeluh kepadanya (Aisha) mengenai suaminya dan menunjukkan padanya lebam biru kehijauan di kulitnya bekas pukulan). Sudah menjadi kebiasaan para wanita untuk saling memberi dukungan, maka ketika Rasul Allah datang, ‘Aisha berkata, “Belum pernah kulihat ada perempuan yang begitu menderita seperti wanita yang beriman ini. Lihatlah! Kulitnya lebih hijau daripada pakaiannya!” (Bukhari, penekanan ditambahkan). 

Hadith ini menunjukkan Muhammad memukuli Aisha, istri yang dinikahinya ketika Aisha masih kanak-kanak (lihat aturan no.1, di bawah),  putri Abu Bakr, sahabat yang sangat dipercayainya:

“Ia [Muhammad] memukul aku [Aisha] di dada dan itu membuat aku kesakitan.” (Muslim no. 2127)

Untuk analisa yang lebih mendalam mengenai praktek yang menyakitkan ini, lihat: Artikel ini (this article), yang mempunyai banyak link dengan diskusi-diskusi modern mengenai kebijakan ini (silahkan lihat hingga bagian terakhir).  

Artikel ini (This article), walaupun panjang, memberikan analisa yang jelas mengenai pemukulan terhadap istri, menguji Hadith dan sumber-sumber dokumen awal lainnya, dan juga penolakan para polemis Muslim modern. Mid-length artikel ini menjawab  pembelaan Muslim. Artikel ini (This article) adalah analisa yang luarbiasa mengenai subyek ini, memberikan berbagai terjemahan untuk Sura 4:34. Artikel ini mengutip Hadith dan komentar-komentar klasik dan tidak sepakat dengan pembelaan-pembelaan modern. Akhirnya, Artikel ini (this article) ditulis oleh seorang Kristen Arab, dan merupakan sebuah penelitian yang menyeluruh terhadap Qur’an dan Hadith dan polemik-polemik Muslim, memberikan banyak terjemahan untuk Sura 4:34. 

Dengan demikian, kekerasan dalam rumah tangga bertahta di hati Islam mula-mula – dalam hidup Muhammad dan Qur’annya. Oleh karena itu Islam bukanlah agama damai.

lanjut baca bagian 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *