Alkitab vs Qur'an,  Isu-Isu Terkini,  Komparasi,  Yesus Kristus vs Isa Almasih,  YHWH vs ALLAH swt

Sepuluh Alasan Utama Mengapa Islam Bukan Agama Damai?

Kekerasan dalam hidup Muhammad dan Quran

Bagian 2

7. Muhammad dalam Qur’annya memerintahkan agar tangan pria dan wanita yang mencuri harus dipotong.

5:38 Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. 39 Maka barangsiapa bertobat (diantara pencuri-pencuri itu) sesudah melakukan kejahatan itu dan memperbaiki diri, maka sesungguhnya Allah menerima tobatnya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Haleem).

Tiga bagian dalam Hadith menafsirkan kebijakan Muhammad dan memberikan konteksnya. Ini adalah kompilasi sederhana yang diambil dari Bukhari dan Muslim:

Aisha [istri kesayangan Muhammad] menceritakan Nabi berkata, “Tangan seorang pencuri harus dipotong hanya untuk seperempat dinar dan lebih ” (Bukhari dan perhatikan dua Hadith lainnya berikut ini).

Satu dinar, sebuah kata yang diambil dari denarius orang Roma, bukanlah suatu jumlah yang kecil, namun juga tidak terlalu besar, namun seperempat dinar harganya sama dengan kehilangan satu tangan menurut pandangan Muhammad.  

Ibn Umar mengatakan Nabi memerintahkan pemotongan tangan seorang pencuri yang mengambil sebuah perisai seharga tiga dirham. (Bukhari dan perhatikan tiga Hadith berikut ini)

Perisai itu memang sangat mahal. Kaum miskin dalam pasukan Muhammad tidak sanggup membelinya. Namun apakah satu perisai sama harganya dengan satu tangan (equal to a hand)?

Abu Huraira menceritakan Nabi pernah berkata, “Tuhan mengutuk orang yang mencuri sebutir telur dan memerintahkan agar tangannya dipotong, dan tangan yang mencuri tali juga harus dipotong!” (Bukhari, lihat paralel Hadith ini di: here).

Beberapa komentator bergegas mengatakan bahwa “sebutir telur” sebenarnya adalah sebuah ketopong, dan tali yang dimaksudkan adalah tali kapal, yang besar dan mahal. Namun demikian, terjemahan di atas umumnya diterima, dan ini berarti bahwa hukuman itu dapat diberlakukan atas pencurian kecil-kecilan. Tetapi seandainya pun barang-barang yang lebih mahal yang dipersoalkan disini, itu tetap tidak dapat menyamai harga satu tangan.  

Untuk informasi lebih lanjut mengenai praktek mengerikan ini dan konteks historisnya, lihat: Artikel ini (this article), yang menjawab para apologis Muslim yang berusaha membela praktek ini, dan merupakan kontras antara Kristus dengan Muhammad. Dapat kita katakan disini bahwa Kristus tidak pernah memerintahkan praktek semacam ini. Juga Rasul Paulus mengatakan bahwa orang yang mencuri harus bekerja dengan kedua tangannya agar dapat berbagi dengan orang yang berkekurangan, ia tidak pernah memerintahkan agar tangan pencuri harus dipotong (Efesus 4:28). Dengan demikian Paulus melebihi Muhammad.  

Demikianlah, penghukuman keras dan kejam bertahta di hati Islam mula-mula – dalam hidup Muhammad dan Qur’an. Oleh karena itu Islam bukanlah agama damai.

6. Muhammad membunuh para penyair.

Kedua penyair ini merepresentasikan penyair-penyair lainnya dalam masa-masa awal Islam.  

Maret  624 M: Uqba bin Abu Muayt

Uqba mengejek Muhammad di Mekkah dan menulis bait-bait hinaan mengenai dia. Uqba ditangkap dalam Perang Badr, dan Muhammad memerintahkan agar ia dieksekusi. “Tetapi siapa yang akan mengurus anak-anak saya, wahai Muhammad?” jerit Uqba dengan pedih. “Neraka”, jawab Nabi dengan dingin. Kemudian pedang salah seorang pengikutnya menebas leher Uqba.

Maret 624 M: Asma bint Marwan

Asma adalah seorang penyair perempuan yang berasal dari suku pagan di Medina, suaminya bernama Yazid b. Zayd.  Ia mengarang sebuah puisi menyalahkan kaum pagan Medina karena menaati seorang asing (Muhammad) dan tidak mengambil inisiatif untuk menyerangnya dengan tiba-tiba. Ketika Nabi mendengar apa yang dikatakannya, nabi berkata, “siapakah yang akan menyingkirkan anak perempuan Marwan bagiku?” seorang anggota suku suaminya menjadi sukarelawan untuk itu, lalu ia menyusup ke dalam rumahnya pada malam hari. Asma mempunyai lima anak, dan malam itu si bungsu sedang tidur di dada ibunya. Si pembunuh pelan-pelan memindahkan anak itu, menarik pedangnya, dan menusuknya, membunuhnya saat ia sedang tidur.   

Keesokan paginya, si pembunuh menantang siapa saja untuk membalas dendam. Tidak seorangpun menjawab tantangannya itu, bahkan suaminya pun tidak. Kenyataannya, Islam menjadi sangat kuat di antara sukunya. Sebelumnya, beberapa anggota suku itu telah diam-diam menjadi Muslim kini berani bersikap terang-terangan mengenai keyakinan mereka, “karena mereka melihat kekuatan Islam”, demikianlah ditekankan oleh sumber Muslim mula-mula yang mengisahkan pembunuhan itu.

Sebagai tambahan untuk sumber yang mecatat peristiwa-peristiwa ini dan pembunuhan-pembunuhan lainnya, Qur’an juga melaporkan penghukuman-penghukuman keras bagi orang-orang yang mengejek dan menghina (Sura 3:186; 33:57; 33:59-61; dan  9:61-63). 

Namun demikian, sekalipun orang-orang Muslim menolak sumber-sumber awal di luar Qur’an yang menceritakan pembunuhan-pembunuhan ini, mereka masih harus menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut: Mengapa tradisi semacam itu muncul di sekitar Muhammad dalam sumber-sumber islami? Apakah Muhammad yang membuat laporan-laporan seperti itu? Mengapa sumber-sumber yang tidak asing ini ingin menghadirkan Nabi mereka dalam cara yang “positif”?

Untuk mendapatkan analisa yang lebih mendalam mengenai pembunuhan yang dilakukan Muhammad terhadap para penyair dan bagaimana hal itu membenarkan pembunuhan terhadap para seniman di jaman ini, seniman seperti Theo van Gogh, sang pembuat film dari Belanda, lihat juga: Artikel ini (this article), yang juga menjawab para apologis Muslim yang berusaha membenarkan kebijakan Muhammad yang mematikan ini, dan ini mengkontraskan kekristenan dengan Islam – Yesus tidak membunuh siapapun, Ia juga tidak memerintahkan hal itu dalam Injil.  

Silahkan melihat di: hereherehere, dan here untuk informasi lebih lanjut mengenai tiga pembunuhan terhadap para penyair, juga pembunuhan-pembunuhan lainnya. Halaman ini (This page) mempunyai beberapa link dengan artikel mengenai bagaimana Muhammad menangani musuh-musuh pribadinya. 

Dengan demikian, kekerasan dan pembunuhan yang kejam bertahta di hati Islam mula-mula; dalam hidup Muhammad dan dalam Quran. Oleh karena itu Islam bukanlah agama damai.

5. Muhammad dalam Qurannya memerintahkan hukuman mati atau memotong tangan dan kaki jika berkelahi dan merusak negeri.  

Sura 5:33 Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh dan disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar (bdk. Majid Fakhry, An Interpretation of the Quran, New York: NYUP, 2000, 2004).

Menurut Hadith, konteks historis ayat-ayat ini adalah “perkelahian” dan “pengrusakan” negeri.   

Beberapa kepala suku Arab menemui Nabi, namun jatuh sakit oleh karena iklim Medina yang tidak bersahabat, sehingga ia menyarankan pengobatan menurut kepercayaan kuno: minum susu dan air kencing unta. Kemudian, dilaporkan bahwa mereka merasa lebih baik. Namun demikian, untuk beberapa alasan, setelah keluar dari Medina mereka membunuh beberapa gembala Muhammad, menjadi murtad, dan mengusir unta-unta nabi.   

Berita ini didengar Nabi, dan ia memerintahkan agar mereka dikejar dan dibawa ke hadapannya. Ia memerintahkan agar tangan dan kaki mereka dipotong, mata mereka dicungkil, dan tubuh mereka dilemparkan ke tanah berbatu dan dibiarkan disana sampai mati. 

Untuk informasi lebih lanjut mengenai kebijakan menghukum orang dengan cara demikian di jaman ini berdasarkan Sura 5:33, bahkan tuduhan-tuduhan ambigu seperti kolonialisme, rasisme, dan perpecahan hubungan keluarga, lihat di: sini (here), dan sebagai jawaban untuk para apologis Muslim lihat juga: artikel ini (this article), yang juga mengkontraskan Kristus dengan Muhammad. Artikel yang lebih pendek ini (shorter article) menjelaskan latar-belakang ayat-ayat dan hukum yang keji ini. Muhammad menyiksa orang.

Dengan demikian, kekerasan keji bertahta di hati Islam – dalam hidup Muhammad dan dalam Qur’an. Oleh karena itu Islam bukanlah agama damai.  

4. Muhammad dengan agresif menyerang karavan-karavan Mekkah.

Kurang lebih setahun setelah Muhammad hijrah dari Mekkah ke Medina pada 622 M, ia menyerang karavan-karavan Mekkah enam kali, dan mengutus ekspedisi penghukuman tiga hari jauhnya terhadap satu suku Arab yang  mencuri beberapa unta (atau ternak) Medina yang sedang merumput, sehingga kesemuanya ada 7 kali penyerangan.  

W. Montgomery Watt, seorang Barat ahli islamologi yang sangat ternama yang menulis mengenai Muhammad dan yang kedua volume sejarah awal Islam tulisannya (Muhammad at Mecca (1953) dan Muhammad at Medina (1956)) telah luas diterima, mengatakan pada kita mengapa penting memperhatikan masalah geografi:  

Pokok penting yang harus diperhatikan adalah orang Muslim bersikap ofensif. Dengan satu pengecualian ke-7 ekspedisi ditujukan kepada karavan-karavan Mekkah. Situasi geografis sendiri mendukung hal ini. Karavan-karavan dari Mekkah ke Syria harus melewati Medina dan tanjung. Sekalipun mereka berada sedekat mungkin dengan Laut Merah, mereka harus berjalan kira-kira 80 mil dari Medina, dan sementara berada dalam jarak ini dari markas musuh, ini sama dengan dua kali jauhnya dari markas mereka sendiri. (Muhammad at Medina, penekanan ditambahkan, h. 2)

Harus sangat ditekankan bahwa orang-orang Mekkah tidak pernah mengirim pasukan ke Medina pada waktu itu – mereka melakukannya kemudian ketika mereka telah muak dengan agresi-agresi Muhammad. Memang benar bahwa orang-orang Mekkah mengumpulkan pasukan untuk melindungi karavan-karavan mereka, namun ketika Muhammad menghadapi mereka, mereka berada berhari-hari perjalanan jauhnya dari Medina, seringkali lebih dari 80 mil (Medina dan Mekkah berjarak sekitar 200-250 mil, diperlukan 7-11 hari perjalanan dengan berjalan kaki, kuda atau unta).    

Oleh karena dua apologis dan sarjana Muslim telah menyesatkan orang ketika mereka mengemukakan bahwa karavan-karavan yang “melewati” Medina, menambahkan bahwa orang-orang Muslim gelagapan mencari rampasan apa saja yang dapat mereka peroleh, sementara orang-orang Mekkah melakukan persiapan perang (Isma’il R. al-Faruqi dan  Lois Lamya’al Faruqi, The Cultural Atlas of Islam, New York: Macmillan, 1986, 134). Sebenarnya, lebih akurat bila mengatakan bahwa orang-orang Muslim menyerang orang-orang Mekkah dengan sangat agresif.  

Untuk melengkapi gambaran mengenai ekspedisi, penyerangan dan peperangan dalam masa hidup Muhammad sejak 622 hingga 632 M, Watt menjumlahkan total pengiriman pasukan Muhammad sebanyak 74 kali (Muhammad at Medina, h. 2; 339-43). Semuanya itu bervariasi mulai dari negosiasi-negosiasi (hanya sedikit dibandingkan dengan ekspedisi-ekspedisi kejam), hingga kelompok-kelompok kecil untuk melakukan pembunuhan, hingga penaklukkan Mekkah dengan 10.000 orang jihadis, dan konfrontasi dengan orang-orang Kristen Byzantium (yang tidak pernah muncul), dengan 30.000 pejuang suci ke Tabuk (lihat di bawah).   

Untuk mendapatkan catatan yang lebih lengkap mengenai 6 serangan awal yang agresif terhadap karavan-karavan Mekkah, lihat: artikel ini (this article), yang menjelaskan dengan lebih menyeluruh mengapa serangan-serangan ini tidak bersifat defensif.  

Dengan demikian, kekerasan agresi militer bertahta di hati Islam – dalam hidup Muhammad dan dalam Qur’an. Oleh karena itu Islam bukanlah agama damai.

3. Muhammad dalam Qur’annya menjanjikan taman-taman sensual bagi para martir yang gugur dalam perang suci militer.

Dalam keseluruhan Qur’an, Muhammad menjanjikan para pria dalam komunitas Muslimnya bahwa jika mereka mati karena berperang bagi Allah dan baginya, Allah akan memberi upah bagi mereka Taman yang “kaya/penuh dengan perawan” (Sura 44:51-56; 52:17-29; 55:46-78). 

Dalam ayat-ayat Qur’an berikut ini, yang juga mewakili ayat-ayat lainnya (Sura 4:74, 9:111; 3:140-143), kata Arab “jihad” (akarnya adalah j-h-d) adalah sarana atau mata uang yang digunakan untuk menukar hidup di dunia ini dengan hidup yang akan datang dalam sebuah perundingan dagang/ekonomi. 

61:10 Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? 11 (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad [j-h-d] di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, 12 niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keuntungan yang besar. (Haleem)

Ayat-ayat ini terdapat dalam konteks sejarah Perang Uhud (625), dimana Muhammad kehilangan 70 orang pejuangnya. Oleh karena itu ia harus membuat kekalahan itu nampak sebagai pengorbanan yang pantas, maka ia merekayasa kematian mereka dalam suatu perundingan dagang (perhatikan kata yang ditulis tebal). Jika para jihadisnya berniaga atau menjual hidup mereka di dunia ini, maka mereka mendapatkan surga islami – ini adalah sebuah kesepakatan yang telah final.     

Untuk mendapatkan analisa yang lebih mendalam mengenai kemartiran  islami dan bagaimana kemartiran alkitabiah menentang hal itu, lihat: artikel ini (this article).  “Kemartiran” Kristus di kayu salib membuka jalan ke surga sehingga orang-orang Kristen tidak perlu mati dalam perang suci demi mendapatkan surga.  

Dengan demikian, ‘kekerasan surgawi’ bertahta dalam hati Islam – dalam hidup Muhammad dan dalam Qur’an. Oleh karena itu Islam bukanlah agama damai.   

lanjut baca bagian 3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *