Alkitab vs Qur'an,  Isu-Isu Terkini,  Keselamatan dalam Kristen vs Islam,  Komparasi

Misteri Asal-Usul Salat Muhammad versus Sejarah Doa “Bapa Kami” Dari Yesus (Seri-1)

“Carilah keseluruh toko-toko buku dan tampilkanlah kepadaku bagaimana ceritanya atau gambarannya sejarah Islam tentang shalat”…

        Demikian tantangan seorang non Muslim kepada temannya yang Muslim selang beberapa tahun yang lalu. Saya jadi teringat bahwa tantangan tersebut bukan sekedar ingin berdebat, melainkan lebih merupakan salah satu pertanyaan yang paling fundamental tentang Islam. Yang seharusnya bukan dipertanyakan dari pihak luar Islam saja, melainkan terlebih-lebih harus dipertanyakan oleh Muslim sendiri, atau bahkan sudah harus tersedia literatur terbuka tentang hal tersebut. Kenapa harus?

Ya, kita semua tahu bahwa ditoko-toko  buku dan di-perpustakaan-perpustakaan sudah NAMUN HANYA terdapat ribuan (!) jenis buku-buku tentang shalat, yang semuanya hanya terbatas dengan ”HOW TO”-BER SHALAT, semisal: tatacara shalat, tuntunan shalat lengkap, kunci sukses shalat, sifat shalat nabi, shalat taubat, shalat wajib & sunnah, tahajud, awas shalat yang keliru… dll, dll…

Nah, begitulah! Shalat itu adalah rukun Islam yang terpenting bagi setiap Muslim, sesudah pengakuan shahadat. Dalam Islam shalat itu adalah mengukur dan pembeda antara Muslim dengan kafir. Itu dahsyat!

“Sesungguhnya, batas antara seseorang dengan kemusyrikan dan kekafiran adalah meninggalkan shalat”. (HR Muslim)

Dan Ibnu Qayyim Al Jauziyah –rahimahullah– malahan berkata, “Kaum muslimin bersepakat bahwa meninggalkan shalat lima waktu dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.” (Ash Sholah, hal. 7)

Jadi, jikalau sebegitu penting, sakral dan agungnya shalat itu, maka sesungguhnya bagaimanakah sejarah dan asal-usulnya shalat islamika ini bermula? Dan karena Tuhannya Muhammad dan orang-orang Ahli Kitab itu satu, maka kenapakah cara-cara bershalat kok bisa bertolak belakang bedanya dengan cara sembahyang orang-orang Yahudi dan Nasrani? Berkali-kali Allah SWT telah menekankan kesamaan diantara Allah dan hukum-hukum yang diturunkanNya (Kitab-kitab Allah), bahkan samapula malaikat-malaikat dan para rasulNya diantara kedua atau ketiga umat keturunan Nabi Ibrahim ini:

Katakanlah: “Kami telah beriman kepada (kitab-kitab) yang diturunkan kepada kami dan yang diturunkan kepadamu; Tuhan kami dan Tuhan-mu adalah satu; dan kami hanya kepada-Nya berserah diri.” (29:46).

“…dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah:
“Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu”
(42:15).

“Dan Kami iringkan jejak mereka (nabi nabi Bani Israil) dengan Isa putera Maryam, membenarkan Kitab yang sebelumnya, yaitu: Taurat. Dan Kami telah memberikan kepadanya Kitab Injil sedang didalamnya (ada) petunjuk dan dan cahaya (yang menerangi), dan membenarkan kitab yang sebelumnya, yaitu Kitab Taurat. Dan menjadi petunjuk serta pengajaran untuk orang-orang yang bertakwa” (5:46).

“Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Quran dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya)…” (5:48).

 “Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya” (2:285).

Jelas bahwa Allah menekankan kebenaranNya yang lurus berkesinabungan, dan memang itulah yang logis dan benar, karena “Tidak ada perobahan bagi kalimat-kalimat  Allah” (10:64).

Namun inilah yang menjadi tantangan bagi Muslim KENAPAKAH SHALAT –aturan ibadah yang terpenting dan paling sakral dalam Islam– kini menjadi aturan dan cara-cara yang tidak pernah dikenal oleh para nabi-nabi Allah sebelumnya? Adakah ayatnya di Quran dimana aturan persembahyangan dari semua Nabi Adam,  Nuh, Ibrahim, Musa dll yang telah dinyatakan batal oleh Allah SWT? TIDAK ADA! Jadi, bagaimana sejarah dan fakta-fakta diseputar asal-usul dan pelaksanaan shalat yang baru dimunculkan secara berbeda oleh Islam, yang kini menjadi rukun wajib dan mengikat bagi setiap Muslim? Dan apa sebab  terjadinya perubahan tersebut sejak Muhammad menjadi nabi Allah yang paling  akhir dan utama itu? Apakah ada yang salah yang kini harus dihapuskan atau diluruskan?

Rupanya seorang Ustadz Aam Amiruddin  terpanggil untuk mencoba menjawabnya (http://id.berita.yahoo.com/ramadan_mubarak/tanya_ustad/ )

Sang Ustadz berkata bahwa “Sesungguhnya salat sudah diajarkan sejak Nabi Ibrahim A.S. Hal ini diketahui dari doanya, “Ya Allah, jadikanlah aku dan anak cucuku menjadi orang-orang yang selalu mendirikan salat.” (Ibrahim 14:40).

Tetapi dikatakannya lebih lanjut bahwa teknik pelaksanaan salat yang dilakukan Nabi Ibrahim A.S. berbeda dengan tata cara salat yang diwajibkan kepada Rasulullah SAW saat Isra Mi’raj. karena setiap nabi diberi tata cara ibadah yang berbeda,  Beliau mengutip ayat Al-Maidah 5:48, tetapi dengan berani menggantikan frasa “setiap diantara kamu” menjadi “setiap umat”, sambil menambahkan extra kata “ibadah”, menjadikan arti dan makna ayat Allah berbeda dari aslinya:

“Untuk setiap umat, Kami berikan aturan ibadah dan jalan yang terang”
Bandingkan dengan terjemahan resmi dari Yusuf Ali,  “To each among you have We prescribed a law and an open way” . (Hukum & Jalan yang satu)

Sebab JIKALAU maksudnya adalah aturan ibadah yang dibolehkan berbeda-beda oleh Allah, maka seluruh ayat-ayat Allah yang telah dikutib diatas akan serta merta menjadi kontradiktif yang kacau tak terbelakan lagi! Semua aturan hukum dan jalan terang Allah Islam akan harus tetap sama dalam Allah yang satu dan sama itu, APALAGI untuk aturan Ibadah shalat yang paling penting bagiNya! Pak Ustadaz sendiri tanpa sadar, malah sudah mengkontradiksikan dirinya pula saat berkata lebih lanjut yang kini membenarkan shalat Ibrahim A.S.:

Ketika salat belum diwajibkan kepada Nabi Muhammad SAW, beliau melakukan salatnya seperti yang dilakukan Ibrahim A.S. karena agama yang dianut Nabi SAW sebelum diangkat menjadi rasul adalah Al-hanifiyyah yaitu mengikuti ajaran atau keyakinan dan cara ibadah yang diajarkan Nabi Ibrahim A.S. sekalipun beberapa ajaran Ibrahim A.S. sudah mengalami distorsi oleh kemusyrikan kaum jahiliah.

Memang tidak mungkin ada pilihan lain bahwa beliau harus merujukkan asal usul shalat kepada Nabi Ibrahim karena itulah yang diperintahkan Allah kepada Muhammad untuk mengikuti agama Ibrahim:
Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad):
“Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif”
(16:123).

Yang kalau diteruskan kepada ayat berikutnya, harus pula mengikuti agama Musa secara implikatif, sampai hari kiamat: “Sesungguhnya diwajibkan hari Sabtu atas orang-orang yang berselisih padanya. Dan sesungguhnya Tuhanmu benar-benar akan memberi putusan di antara mereka di hari kiamat terhadap apa yang telah mereka perselisihkan itu” (16:124). [Note: Sudahkah Muslim mengikuti agama Musa yang satu ini?]

Itulah yang logis dan benar jikalau kita menyadari bahwa tidak ada pembatalan apapun dari Allah SWT terhadap shalat / sembahyang dari para Nabi-nabi sebelumnya, khususnya shalat Ibrahim!

Pertanyaannya: Bagaimanakah Shalat Ibrahim itu?
Sudah terfakta bahwa sembahyang Nabi2 dahulu – mulai dari Adam–telah disambut oleh Tuhan sendiri!

  1. Lihat adanya ibadah persembahan korban yang paling awal dari kedua anak Nabi Adam: Qabil dan Habil (Kain dan Habel). Simak QS.5:27 dimana dikatakan persembahan dari Qabil tidak diterima oleh Allah karena menyalahi ketakwaan. Dan dalam Taurat, Alkitab menjelaskan lebih jauh bahwa ibadah Kain ditolak Tuhan dan hanya persembahan Habel itulah yang Tuhan indahkan, “maka TUHAN mengindahkan Habel dan korban persembahannya itu, tetapi Kain dan korban persembahannya tidak diindahkan-Nya” (Kej.4:4-5). Kenapa? Karena Habel telah mempersembahkan kepada Tuhan “anak sulung kambing domba” (korban berdarah), sementara Kain mempersembah-kan hasil pertanian (tanpa darah korban, ayat 3).
  2. Mari kita lihat lagi ibadah resmi Nabi Nuh yang paling berkenan diterima oleh Tuhan Semesta: Hal paling pertama yang Nabi Nuh lakukan begitu dia sekeluarga keluar dari bahteranya dengan selamat adalah mendirikan sebuah mezbah bagi TUHAN, lalu mempersembahkan korban bakaran dengan hewan-hewan bernyawa yang tidak haram diatas mezbah. Dan Tuhan menilainya sebagai “persembahan yang harum(Kejadian 8:20-22)

Demikian juga dengan Abraham tiba ditanah Kanaan, ketika TUHAN berkenan menampakkan diriNya kepadanya. Disitu Abraham mendirikan MEZBAH paling awal (untuk mempersembahkan korban bakaran) bagi TUHAN didekat Sikhem dan Betel (Kejadian 12:7-8). Mezbah batu pertama dan kedua didirikan disitu, dan nama Tuhan YHWH diserukannya. Dan dengan tatacara ibadah yang sama bakunya, dia melakukannya ketika anaknya mau dikorbankan bagi Tuha sebagai kurban yang berdarahn. Dibuatlah oleh Abraham sebuah mezbah. Diatasnya disusun dan diletakkan kayu-kayu bakar, dan baru diatasnya lagi anaknya bakal dibaringkan, siap untuk disembelih dan dibakar sebagai korban berdarah.

Bahkan soal korban berdarah inipun, Ishak sang anak, juga tahu persis dan sempat bertanya kepada bapanya tentang anak-domba yang akan dijadikan  “korban-bakaran” itu:

“Demikianlah keduanya berjalan bersama-sama.  Lalu berkatalah Ishak kepada Abraham, ayahnya: “Bapa.” Sahut Abraham: “Ya, anakku.” Bertanyalah ia: “Di sini sudah ada api dan kayu, tetapi di manakah anak domba untuk korban bakaran itu?” (Kej.22:6,7)

Jadi Abraham jelas telah menurunkan kepada keluarganya, tatacara ibadah penyembahan korban kepada Tuhan, dan ini telah diketahui baik oleh Ishak sejak masa kecilnyapun. Yang kini siap2 untuk menempatkan dirinya untuk dikorbankan bapanya diatas mezbah persembahan:

 “Sampailah mereka ke tempat yang dikatakan Tuhan kepadanya. Lalu Abraham mendirikan mezbah di situ, disusunnyalah kayu, diikatnya
Ishak, anaknya itu, dan diletakkannya di mezbah itu, di atas kayu api.

Sesudah itu Abraham mengulurkan tangannya, lalu mengambil pisau
untuk menyembelih anaknya”…
(Kej.22:9-10).

Itulah tatacara ibadah resmi dari “agama Abraham yang lurus” yang  Tuhan Israel berkenan atasnya. Selalu mempersembahkan kurban  (hewan berdarah) diatas mezbah untuk dibakar. Dan itulah yang dikenal baik oleh Ishak, dan diturunkan dari generasi ke generasi bangsa Israel, dan yang dilegalkan secara sama oleh Nabi Musa atas perintah Tuhan kepada seluruh umat Israel (lihat  Taurat Musa dibawah).

Jadi apakah Muhammad kenal akan istilah Mezbah dan tatacara shalat Ibrahim?
Mari kita lihat apa yang malaikat Jibril sempat wahyukan kepada Muhammad atas nama Allah tentang kisah persembahan anak Ibrahim sebagai kurban bagi Allah SWT.

Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” Ia menjawab: “Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.” Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya ).
Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim, …
(QS.37: 102-104).

Wahyu Allah SWT  tentang pengurbanan anak Ibrahm ini hanya mengatakan bahwa: “Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipisnya”.  Titik! Justru disinilah Ibrahim seharusnya sudah komplit mempersiapkan semua pernik  tata ibadah yang paling baku dan sakral demi memenuhi panggilan  Allah (kehendakNya) akan kurban yang paling dikasih Ibrahim sendiri, yaitu  berupa sang anaknya sendiri ! Dan itu tentulah  termasuk penyediaan barang/ perkakas-perkakas penyembahan yang paling LAYAK untuk upacara-kurban dalam ibadah yang paling sakral! Dan karena Ibrahim  sudah lama menjadi Nabi Allah – (paling tidak sejak dia diperintahkan Allah meninggalkan tanah kelahirannya menuju Kanaan disaat berumur 75 tahun)—maka ia pastilah sudah mengenal dan melakukan ibadah shalat dan persembahan  “agama Ibrahim” ratusan atau ribuan kali kepada Tuhannya…

Jadi, bagaimana dan diatas tempat apa sang  anak sendiri kini harus dibaringkan  Ibrahim untuk disembelih sebagai kurban yang kudus? Ternyata Muhammad disini justru tidak “diwahyukan” tentang ibadah agama Ibrahim yang lurus tentang MEZBAH. Tak ada tata- ibadah, melainkan sang anak hanya dibaringkan miring diatas tempat entah apa dan bagaimana…  Dan “selesailah shalat ibadahnya” (?) ketika ada suara Allah yang berseru kepadanya: “Dan Kami panggillah dia: “Hai Ibrahim…”

SEBALIKNYA, Taurat Musa terus membakukan  semua  tata ibadah sesuai dengan perintah Tuhan yang dilegalkan kepadanya dengan wahyu khusus. Dimana Tuhan berkata kepada Musa dengan jelas dan langsung akan sebuah istilah Mezbah,
             “Kaubuatlah bagi-Ku mezbah dari tanah dan persembahkanlah di atasnya korban bakaranmu dan korban keselamatanmu, kambing dombamu dan lembu sapimu. Pada setiap tempat yang Kutentukan menjadi tempat peringatan bagi nama-Ku, Aku akan datang kepadamu dan memberkati engkau” (Keluaran 20:24).

          “Juga haruslah kaudirikan di sana mezbah bagi TUHAN, Elohimmu, suatu mezbah dari batu yang tidak boleh kau olah dengan perkakas besi… dan di atasnya haruslah kaupersembahkan korban bakaran kepada TUHAN, Elohimmu” (Ul. 27:5-6).

Jadi Agama Ibrahim dan tata-ibadah manakah yang diturunkan Allah SWT kepada Muhammad?Bagaimanakah shalat Muhammad yang paling awal yang dipetiknya dari Nabi Ibrahim? Adakah Muhammad mengenal kata MEZBAH – dan pernah mendirikan-nya sebuah bagi Allah– yang mana telah disebutkan sebanyak 400x di Kitab-Kitab Tuhan (Taurat, abur, Injil) sebelum Muhammad?

Kembali Ustaz Aam Amiruddin memberikan penjelasannya yang tidak nyambung, seperti berikut:

“Walaupun Nabi SAW berada dalam masyarakat paganis (penyembah patung) tetapi beliau tidak pernah terbawa untuk menyembah berhala karena beliau lebih percaya dan menekuni ajaran yang dibawa Nabi Ibrahim A.S.
Menjelang usia 40 tahun Nabi SAW sering datang ke gua Hira bukan untuk bertapa tetapi untuk beribadah seperti yang diajarkan Nabi Ibrahim A.S., beliau bertafakur memikirkan dekadensi moral yang merajalela pada kaumnya dan beliau pun rajin melakukan salat seperti salat yang diajarkan Nabi Ibrahim A.S.

Dari analisis di atas jelaslah bahwa saat di gua Hira Nabi SAW melaksanakan salat seperti yang diajarkan Ibrahim A.S., hingga akhirnya kewajiban salat diturunkan kepada Nabi SAW saat Isra Mi’raj dan beliau  diajari tata cara salatnya oleh malaikat Jibril.

Teknik pelaksanaan salat yang kita (Muslim) lakukan sekarang adalah salat yang diajarkan kepada Nabi SAW. Karena itu, tata cara salat kita harus mengikuti apa yang dicontohkan Rasulullah SAW, “ Salatlah kamu sebagaimana kamu melihat aku salat” (HR. Bukhari).

LIHAT! Tidak ada satu bukti dan benang merah sedikitpun yang beliau tunjukkan demi memperlihatkan APANYA dari “agama Ibrahim” itu yang telah dikenal dan ditaat-laksanakan oleh Muhammad dalam ibadah shalat Islamnya yang paling awal sekalipun?.

Ooo, mungkin kita salah memilih untuk memetik jawaban dari ustadz yang kurang senior? Jikalau begitu, silahkan para pembaca bisa menampilkan ustadz siapa lainnya yang mampu memperlihatkan bahwa Nabi telah kenal dengan Mezbah persembahan Ibrahim, serta menegakkan ibadah shalat “Habil-Nuh-Ibrahim-Ishak-Musa” yang baku, [dengan mempersembahan korban bakaran (hewan) diatas mezbah], dan bukan ibadah persembahan lainnya (ala Qabil , atau “ kurban sedekahan” dll). Sedemikian hingga sejarah shalat Muhammad memang benar terbukti diawali dari AGAMA IBRAHIM YANG LURUS,

Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk”. Katakanlah : “Tidak, melainkan (kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus.Dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik”.

Katakanlah: “Sesungguhnya aku telah ditunjuki oleh Tuhanku kepada jalan yang lurus, (yaitu) agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus, dan Ibrahim itu bukanlah termasuk orang-orang musyrik.”Demikianlah kita dapati tertulis di QS.2:135, QS.6:161, demikian juga berulang di 3:95, juga 4:125, juga 16:123… Namun tidak ada satupun yang bisa mendeskripsikan apa dan bagaimana persisnya ibadah cara agama Ibrahim itu menurut wahyu Allah yang telah diserukan berulang-ulang. Apakah kita boleh mengamini pepatah yang berkata bahwa dengan mengucapkan sesuatu berulang ulang kali, maka segala apapun yang tadinya tiada akan lama-lama menjadikannya ada, dan terpercaya?  

Bersambung ….

Leave a Reply

Your email address will not be published.