Alkitab vs Qur'an,  Isu-Isu Terkini,  Keselamatan dalam Kristen vs Islam,  Komparasi,  Yesus Kristus,  Yesus Kristus vs Isa Almasih

BEGINILAH NATAL VERSI ISLAM Seri – 1

Setiap menjelang Natal, orang-orang Muslim-pun dibingungkan dengan satu masalah yang paling diributkan: “Apakah Natal itu syirik?

Apakah Muslim boleh atau haram memberikan ucapan selamat Natal kepada teman-teman Kristen?”

Istilah Natal tidak dikenal dalam Quran dan Islam. Maka ia jelas membingungkan Muslim pada dasarnya.

Jangankan Natal, istilah Maulid Muhammad saja bahkan tidak dikenal oleh Quran, sehingga juga didalamnya terjadi perbantahan sesama Muslim: Apakah wajib atau perlu dirayakan; dan dimana rujukannya di Quran dan Hadist untuk merayakannya atau tidak? Tidak ada jawabannya yang persis, kecuali ributnya terus diperguncingkan orang.

Maka tidak heran isu Natal diakhir tahun selalu mulai diviralkan kembali dari titik nol lagi. Dan setiap kalinya Muslim kembali mengambil ancang-ancang bagaimana dirinya harus bersikap memasuki hari-hari perayaan Natal: Ikut gembira melihat dunia bergembira, atau mengejeknya, dan bahkan memusuhinya! Sementara kaum Nasrani sibuk mempersiapkan hati dan kehidupan mereka dalam menyongsong hari raya spiritualnya yang penuh suka-cita, dan kini malah menjadi perayaan sekuler yang paling besar! Itu yang disebut HARI NATAL yang akarnya memperingati kelahiran bayi Yesus dibumi 2000 tahun yang silam. Peringatan mana yang tercantum dalam Kitab-kitab Suci Nasrani maupun Islam ?

Jadi apa pasalnya maka ada kerancuan Muslim dalam bersikap menghadapi hari dan perayaan Natal ?

Tampaknya ini dimulai dari asal-usul ketidakpahaman Muslim terhadap esensi dasar-kata: Yesus itu Putra Tuhan!

Sehingga muncullah hiruk pikuk permasalahannya yang tiada berkesudahan.

Ribut-Ribut Masalah-1

Berapa sering kita mendengar Muslim mengolok-olok bertanya, “Bila Yesus terlahir sebagai anak Allah, mana dan siapa bidannya?”

Itulah contoh sederhana dari mana sumbernya semua carut-marut mengenai Natal. Orang Nasrani kalau ditanya demikian, mereka tidak naik emosi dan mengamuk, melainkan geleng-geleng kepala melihat absurditas nalar dan pemahaman Muslim terhadap kisah Natal. Mereka dengan santai menjawabnya balik: “YA, kami Nasrani memang berkata bahwa Yesus itu Putra Tuhan, tapi tolong jelaskan dulu apa yang ada dalam pikiranmu ketika kalian mendengar kami berkata “Yesus Putra Tuhan”? Putra hasil persetubuhan zinah Bunda Maryam kah, atau bagaimana persisnya ?

Tatkala Anda menjawab tak ada bidan yang menyaksikan kelahirannya, maka Anda masuk lebih jauh kedalam lobang kebodohan yang anda persiapkan sendiri.

Kenapa? Sebab Muslim hanya tahu bahwa Maryam melahirkan ISA dibawah pohon kurma itu sendirian, tanpa satupun saksi mata, mana mungkin ada sosok  bidan-bidanan?

Namun dalam Injil Nasrani, jelas Maria tidak sendirian. Ia didampingi terus oleh suaminya Yusuf disisinya, sejak dari desa Nazaret hingga terpaksa hijrah ke kota Betlehem dalam masa hamil tua. Dan disanalah Maria melahirkan Yesus dikandang domba, didampingi oleh Yusuf, dan kemudian disaksikan oleh sejumlah para gembala !  Lha, Siapa yang menjadikan para gembala polos itu SAKSI MATA ? Nah, justru para malaikat sorga yang sengaja turun demi untuk memaklumatkan berita sukacita yang terbesar bagi seluruh bangsa.

Mereka berkata kepada gembala-gembala, dan kini juga dimaksudkan kepada kita semua:

“Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.

Dan inilah tandanya bagimu: Kamu akan menjumpai seorang bayi dibungkus dengan lampin dan terbaring di dalam palungan.”

Dan tiba-tiba tampaklah bersama-sama dengan malaikat itu sejumlah besar bala tentara sorga yang memuji Tuhan, katanya:

“Kemuliaan bagi Tuhan di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepada-Nya.” (Luk.2:10-14).

NAH, ITULAH semua “para bidan” istimewa yang menyaksikan kelahiran satu sosok yang paling besar dialam dunia ini, dan bahkan  juga yang paling besar diseluruh alam akhirat menurut Quran:  

“ketika Malaikat berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kalimat daripada-Nya, namanya Al Masih Isa putera Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat…” (QS.3:45).

Alhasil, bilamana sang Anak ini paling terkemuka diseluruh alam semesta, perlukah Dia mempunyai bidan-najis yang disodorkan oleh para pengolok dan peribut yang anti Natal ?

Ribut-Ribut Masalah-2

Kita semua tahu, bahwa dizaman itu di Israel, kehamilan Yesus  (menurut narasi Islam: ISA) itu pasti –tidak bisa tidak– tergolong perzinahan, hasil persetubuhan najis diluar nikah, yang berakibat akan dihukum rajam! Dan fenomena itulah yang diabadikan dalam Quran yang sayangnya, malah membawa lebih jauh kesejumlah masalah yang harus diributkan:

“ Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya. Kaumnya berkata: “Hai Maryam, sesungguhnya kamu telah melakukan sesuatu yang amat mungkar. Hai saudara perempuan Harun, ayahmu sekali-kali bukanlah seorang yang jahat dan ibumu sekali-kali bukanlah seorang pezina” (QS.19:27,28)

Segera tampak ada salah rujukan tentang posisi Maryam, yang tak pernah menjadi saudara-perempuan Harun! Kedua sosok ini hidup berbeda tempat dan zaman dengan selisih 14 abad! Apalagi Harun itu dari suku Lewi (yang menjadi imam-imam dalam keturunan Israel), sedangkan Maryam dari suku Yehuda (yang sukunya raja Daud) yang keduanya tak ada pertalian darah langsung! Mungkinkah Muslim dapat mencarikan garis keturunan lain dari kedua sosok itu sehingga benarlah Maryam itu saudara sekandung Harun dan Musa? Silahkan ribut sendiri.

Ribut-Ribut Masalah-3

Ayat Quran diatas mencatat betapa Maryam yang masih remaja itu –yang berasal dari keluarga yang teramat saleh—tiba tiba ditemukan komunitasnya sedang menggendong seorang bayi. Tentulah mereka kaget, shock, heboh dan marah besar. Mereka menjadi keras dan menuding kejam terhadap perzinahan Maryam itu.

Dan bagaimana tuduhan bani Israel ini harus dan bisa di jawab oleh Maryam dengan memuaskan? Adakah cara yang mungkin baginya ? Sampai-sampai ada catatan yang menghebohkan bahwa ZAKARIA-lah yang dituding sebagai pihak  yang menghamili Maryam, sehingga Zakaria pun mau dibunuh dan dikejar-kejar (lihat Tarikh Ath- Tabari I. 600-601). Maryam yang makin terpojok dengan tudingan dan interogasi keras bani Israel akhirnya tercatat mengisyaratkan sang Bayi Isa untuk berkata dan membela kesucian Maryam dari tuduhan kemungkaran (lihat 4 ayat ini, 9:29-33).

Akan tetapi justru semua 4 ayat tersebut  yang dikatakan Bayi Isa bukanlah ber-urusan dengan pembelaan tuduhan. Melainkan Bayi Isa langsung berbicara tentang dirinya yang Hamba Allah, yang seorang Nabi yang menerima Kitab dan yang diberkati dan berbuat baik kepada ibunya.

Kata-kata Bayi Isa tidak mengandung satu kalimatpun yang dapat membenarkan kehamilan Maryam yang TANPA LAKI-LAKI. “Pembelaan” model begini sungguh memprihatinkan; begitu pula dengan nasib Zakaria yang harus lari-lari dikejar sampai masuk kedalam pohon, yang pohonnyapun sampai dibelah bani Israel dengan kampak.

  Semua ribut. Tentang Natal!

PERTANYAAN: Kenapakah pembelaan Allah (dalam Quran) terhadap tudingan perzinahan Maryam dan Isa sebagai anak Haram, kok begitu sumir dan kabur, dan bahkan menyasar ke materi yang bukan pokok isu-nya?

Sebaliknya Injil mengatakan secara gamblang  dan mulus tanpa ribet dan ribut karena memang TAK ADA KERIBUTAN KELUARGA BESAR MARYAM! Sebab Yusuf, tunangan Maria itu, diberitahu oleh Maria akan kehamilannya yang diluar akal itu, maka Yusuf menjadi gamang antara percaya dan tidak. Ia bahkan sempat merencanakan untuk segera memutuskan pertunangan ini. Ya, disamping najis, iapun pasti takut kena getah seolah dialah yang menghamili/memperkosa Maria sebelum nikah. Akan tetapi, Tuhan segera mengutus malaikatNya untuk menyampaikan kabar yang sebenarnya kepada Yusuf, agar Maria jangan diceraikan, melainkan justru jangan takut untuk dikawini !

Dan karena Yusuf mentaati Tuhan dan malaikatNya, maka ia segera menikahi Maria dengan tanpa menyetubuhi istrinya hingga kelahiran Sang Anak. Demikianlah Tuhan mendamaikan segala POTENSI ribut-ribut dan tudingan-tudingan  yang tidak perlu karena salah memahami SIAPA Sang Anak itu !

Maka teman Muslim perlu sekali paham, Kabar Besar apakah yang disampaikan Malaikat Tuhan kepada Yusuf –-sebelumnya kepada Maria– sehingga masalah tuduh menuduh dan ribut-ribut selama ini juga bisa didamaikan! YA, KABAR SUKACITA NATAL, itu bukan kabar yang simpang siur tentang Jati diri dari sang Anak yang ada didalam kandungan Maria. Ia bukan anak haram asal dunia, tetapi Firman- Tuhan, yang turun masuk kedunia menjadi YESUS Juru Selamat manusia (yang dalam Islam meyakini Kalimat-Allah nuzul kedunia menjadi AL-QURAN). Dan Itu pulalah yang dengan TEGAS –tanpa simpang siur– dimaklumatkan sama oleh Malaikat TIGA KALI BERTURUT-TURUT (aslinya kepada Maria, Yusuf, dan umat sederhana para gembala) kini juga kepada seluruh umat manusia. Bacalah dengan seksama:

MAKLUMAT MALAIKAT KEPADA YUSUF

” Yusuf, anak Daud, janganlah engkau takut mengambil Maria sebagai isterimu, sebab anak yang di dalam kandungannya adalah dari Roh Kudus.  Ia akan melahirkan anak laki-laki dan engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.” … (Mat.1:24,25).

MAKLUMAT MALAIKAT KEPADA MARIA

” Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Elohim. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus.

Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Elohim Yang Mahatinggi (The Son of The Highest). Dan Tuhan Elohim akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”…

Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Elohim Yang Mahatinggi akan menaungi engkau; sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Elohim (The Son of God)” (Luk.1:30-35).

MAKLUMAT MALAIKAT KEPADA PARA GEMBALA

“Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus (Al-Masih) Tuhan, di kota Daud” (Luk.2:10-11).

Itulah kisah dan pesan dan makna Natal yang benar dan sejati, yang sayang tidak diketahui dengan baik oleh Muslim karena  terhilang dari periwayatan “JIBRIL” yang jatidiri-nya sendiri juga bermasalah dan menambahi kerancuan, sehingga banyak terjadi keributan setiap Natal dirayakan diakhir  tahun.

Dalam maklumat Natal diatas, Malaikat sungguh telah membawa istilah-istilah keilahian bagi Yesus yang seharusnya diketahui maknanya tanpa membawa keributan, antara lain :

  • Kesukaan Besar bagi seluruh bangsa —> Kesukaan Besar universal, bukan lokal!
  •  Anak Elohim, Anak Elohim Yang MahaTinggi (The Son of God) —> Istilah Surgawi merujuk kepada “Ahli Waris Tunggal Tuhan”, bukan anak biologis Tuhan yang beranak pinak.
  • Juru Selamat (Penyelamat umat dari dosa) —> Yang bisa menyelamatkan umat manusia hanyalah Tuhan, bukan nabi, rasul atau malaikat.
  • Kristus (Mesias/ Al-Masih) —> Sosok yang diurapi Tuhan,mewakili Tuhan.
  • Tuhan dan Raja (Tuan diatas segala tuan, Raja diatas segala raja, Wahyu 17:14).
  • Tampuk Kerajaan Daud Yang Tidak Berkesudahan (metafora untuk Kerajaan Tuhan yang kekal).
  • Raja Keturunan Yakub Yang Selama-lamanya (Raja kekal dari seluruh umat beriman).

Intinya, titel dan gelar-gelar ilahi ini sama sekali bukan ciptaan manusia untuk mengagung-agungkan seseorang, melainkan karena itu semua aslinya Sang Anak, yang DIMAKLUMATKAN MALAIKAT  secara bertubi-tubi dan disaksikan oleh para saksi-mata yang absah, bukan hasil klaim rancu dari seorang/nabi yang tanpa saksi!

Ribut Mengkoreksi Wahyu tentang Natal Isa

Jikalau wahyu sampai harus disusulkan dengan pengkoreksian, tentulah hal itu menjadikannya tidak kredibel. Apakah hal demikian telah terjadi pada pewahyuan Natal Isa Islam? Kita tahu bahwa awalnya, wahyu Natal Isa pertama-tama diturunkan di Mekah. Itu dikenal sebagai Surat Maryam, turun diseputar tahun 614 M.

Maryam dikunjungi oleh satu RUH (malaikat? Atau ruh-asing tanpa nama?) yang berubah menjadi 1 orang lelaki yang sempurna, tapi tidak memperkenalkan jati diri dan nama Ruhnya, tidak pula Ruh menyapa Maryam dengan nama Maryamnya, melainkan langsung “berwahyu” atas nama Allah.

Dan jangan kaget: Seluruh narasi wahyu, atas nama Ruh dengan Maryam, hanya didasari atas kata pengganti ketiga: He (Ruh) dan She (Maryam). Sedangkan nama “Jibril” dan “Maryam” dalam interaksinya di QS.19:17-26, hanyalah teks yang ditambahkan oleh penterjemah Quran sebagai tafsir). Sungguh mengherankan?!

Dan setelah risalah wahyu ini berjeda sekitar 11 tahun dimasyarakat Arab, Muhammad kembali mengulang wahyu yang sama, kali ini di Madina, dalam Surat Ali Imran (sekitar tahun 625 M). Dan disinilah terjadi diskripansi “wahyu” terhadap yang dulu (penambahan wahyu korektif). Mari kita simak kritis kedua versi wahyu ini untuk memahami apa2 yang menjadikannya makin diributkan orang lebih lanjut.  

Bersambung Seri – 2

Artikel ditulis oleh : Hamba Tuhan

Leave a Reply

Your email address will not be published.