Alkitab vs Qur'an,  Isu-Isu Terkini,  Komparasi,  Yesus Kristus,  Yesus Kristus vs Isa Almasih

Pertanyaan Muslim – Seri 1

Beberapa dari pertanyaan dibawah ini memiliki beberapa jilid bahasan tertulis. Saya hanya akan memberikan jawaban-jawaban singkat tanpa memerinci setiap pertanyaan. Jika ada jawaban saya yang kurang jelas, silahkan meminta saya untuk mengklarifikasinya.

  • Mengapa Tuhan harus menjadi manusia untuk mengampuni dosa manusia, sedangkan Ia, sebagaimana Allah, dapat dengan mudah mengampuni dosa apapun menurut kehendak-Nya tanpa menumpahkan darah atau apapun juga?

Sejak semula Alkitab menggambarkan Tuhan tidak pernah berubah, Ia menepati perkataan dan janji-Nya.

” Elohim bukanlah manusia sehingga Dia berdusta; juga bukan seorang anak manusia sehingga Dia menyesal! Apakah setelah Dia berfirman dan Dia tidak melakukannya; dan setelah Dia berbicara maka Dia tidak menegakkannya?” (Bilangan 23:19).

“Oleh karena itu ketahuilah, bahwa YHWH, Elohimmu, Dialah Elohim, Elohim yang setia, yang memegang perjanjian dan bermurah hati kepada mereka yang mengasihi Dia dan yang memelihara perintah-Nya sampai kepada beribu-ribu generasi” (Ulangan 7:9).

Faktanya, Alkitab mengatakan mustahil Tuhan berdusta (Ibrani 6:18), karena jika Ia berdusta maka Ia menyangkali diri-Nya sendiri dan Ia tidak dapat melakukan hal itu (2 Timotius 2:13; Ulangan 7:9; Titus 1:2, dll).

Jadi, ketika Tuhan berkata kepada orang-tua kita yang pertama: “pada hari engkau memakannya engkau pasti akan mati” (Kejadian 2:17), Tuhan tidak dapat menarik kembali hukum tersebut, karena dengan demikian ia akan berdusta dan menyangkali diri-Nya sebagai Tuhan, dan ini adalah dua hal yang bertentangan dengan natur-Nya.

Melalui apa yang terjadi pada Adam dan Hawa, kita tahu bahwa kematian yang dibicarakan Tuhan adalah perihal keterpisahan dengan-Nya, karena setelah kejatuhan secara biologis mereka masih hidup tetapi terpisah dari Tuhan. Jadi, berdasarkan definisi Tuhan akan apa yang Ia maksudkan dengan “engkau pasti akan mati”, kita tahu bahwa Tuhan tidak berbicara mengenai kematian secara biologis. Berkenaan dengan masa depan kita, disini kita mempunyai satu dari dua opsi:

  1. Kita semua telah dan akan terpisah dari Tuhan selamanya oleh karena kejatuhan Adam, karena Tuhan tidak akan berubah pikiran.
  2. Tuhan sendiri menyediakan jalan bagi kita untuk kembali kepada-Nya.

Jika kita memilih opsi pertama, maka Tuhan tidak perlu melakukan apapun dan kita akan terpisah dari-Nya selamanya, karena Tuhan mensyaratkan kesempurnaan (Matius 5:48) dan tidak seorangpun melakukan apa yang baik (Mazmur 53:3; Roma 3:12; Yesaya 14:3; Yesaya 53:6, dsb) apalagi sempurna.

Jika kita mempertimbangkan opsi kedua, maka Tuhan sendirilah yang harus melakukannya, karena kita telah mati secara spiritual (Efesus 2:1, 5; Kolose 2:13). Kita tidak dapat menghidupkan kembali diri kita sendiri; hanya Tuhan yang dapat melakukannya.

Tetapi hal itu hanya dapat dilakukan jika hukum Tuhan digenapi – karena Tuhan tidak akan berubah pikiran. Hukum mengatakan, kita akan mati secara spiritual selamanya.

Satu-satunya cara agar kita dapat kembali memiliki relasi dengan Tuhan adalah jika kita mempunyai hidup yang cukup untuk membayar harga (kematian kekal) dan masih mempunyai hidup yang lebih untuk membuat kita tetap hidup.

Artinya, satu-satunya cara adalah jika kita mempunyai hidup yang tidak terbatas yaitu kita tidak dapat mati. Tetapi hanya Tuhan yang memiliki hidup yang tidak terbatas. Itu berarti hanya Tuhan yang dapat membayar harga atas dosa kita, dan hanya Dia-lah yang dapat memberi kita hidup.

Itulah yang dimaksudkan dengan inkarnasi. Oleh karena Adam bapa kita telah mewariskan dosa kepada kita, Kristus memberikan kebenaran-Nya kepada kita. Kita dapat kembali kepada Tuhan, karena Kristus mempunyai hidup yang tidak terbatas, cukup untuk membayar dosa kita dan masih memiliki hidup yang lebih untuk membuat kita tetap hidup.

Bagian kedua dari pertanyaan tersebut adalah, bagaimana jika Tuhan “langsung saja mengampuni dosa”. Jika Ia melakukan hal ini, maka anda tidak punya alasan untuk memercayai-Nya. Ia bersabda upah dosa adalah maut, namun kemudian Ia mengabaikannya. Lalu bagaimana anda bisa tahu apakah Ia tidak akan mengabaikan hal itu juga? Jika Tuhan tidak memegang perkataan-Nya untuk menghukum orang berdosa, bagaimana anda dapat memercayai-Nya bahwa Ia akan mengampuni? Kedua, Tuhan yang seperti itu sama sekali bukanlah Tuhan karena itu berarti Ia adalah Tuhan yang janji dan peringatan-Nya tidak berarti apa-apa.

  • Dapatkah Tuhan mati? Dapatkah Ia ditinggalkan oleh Tuhan? Dan kemudian dapatkah Ia bangkit kembali ? Bagian mana dari Tuhan yang mati, ditinggalkan, dan dibangkitkan kembali?

Ini adalah isu lama yang disebut “Komunikasi atribut-atribut”. Secara logis ini tidaklah rumit. Kristus mempunyai 2 atribut: manusiawi dan ilahiah. Masing-masing atribut Kristus tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Atribut ilahiah mengetahui segala sesuatu, dapat melakukan apa yang Ia kehendaki dan sebagainya. Sedangkan atribut manusiawi-Nya dapat merasa lapar, letih, dan sebagainya.

Apapun yang benar mengenai salah satu dari atribut-atribut tersebut, hal itu berlaku pada sosok-Nya, namun tidak bagi atribut lainnya.

Jadi, apakah Kristus mati seturut natur manusiawi-Nya dan bahwa Ia ditinggalkan oleh Bapa oleh karena natur manusiawi-Nya tersebut? Berdasarkan natur ilahiah-Nya Tuhan tidak mati. Kristus sepenuhnya adalah Tuhan dan sepenuhnya adalah manusia. Apapun yang benar perihal Tuhan itu berlaku pada Kristus, dan apapun yang benar perihal manusia itu pun berlaku pada Kristus.

Tetapi tidak berarti bahwa apapun yang benar perihal natur ilahiah juga berlaku pada natur manusiawi. Alkitab dengan jelas memaparkan relasi ini sebagai sebuah misteri, artinya kita tidak akan pernah dapat memahaminya dengan sepenuhnya. Secara logis tidak ada yang salah dengan doktrin ini, tetapi ada sesuatu mengenainya, yang tidak sepenuhnya dapat kita mengerti. Dan itu bukanlah hal yang mengejutkan, karena Tuhan tidak terbatas sedangkan kita terbatas.

  • KAPANKAH TEPATNYA Yesus Sang Tuhan ditinggalkan Elohim dalam garis waktu penderitaan-Nya saat Ia tergantung di salib (dengan 7 perkataan yang diucapkan-Nya disana)? Apakah ketika Ia berkata: “Eloi, Eloi, lama sabachtani”? atau ketika Ia berkata: “Tetelesthai”? atau ketika Ia berkata: “Bapa, ke dalam tangan-Mu Aku menyerahkan Roh-Ku” yang secara harafiah berarti bahwa Yesus Sang Tuhan masih tetap Tuhan dan masih belum ditinggalkan oleh Tuhan Sang Bapa!

Jika anda berbicara mengenai apa yang dikatakan Yesus di kayu salib, maka Yesus sedang mengutip Mazmur 22:2-3, yaitu sebuah Mazmur Mesianis, dan semua orang Yahudi yang saat itu mendengar apa yang dikatakan Kristus, benar-benar sangat mengerti apa yang Ia klaim. Ia mengklaim diri sebagai Sang Mesias, hamba yang menderita. Israel menantikan seorang raja militer, yang akan menolong mereka dengan kekuatan manusiawi. Tetapi Kristus mendeklarasikan fakta-fakta dari Perjanjian Lama bahwa Mesias akan menderita. Mazmur yang dikutip Yesus memiliki lebih dari satu nubuatan mengenai Mesias yang sangat dipahami orang Yahudi. Mazmur 22:17-19 =

  1. “(mereka) menusuk kedua tangan dan kakiku”
  2. “Aku menghitung semua tulangku”
  3. “Mereka memandang dan menatap aku”
  4. “Mereka membagi-bagi jubahku di antara mereka”
  5. “Dan membuang undi untuk pakaianku”

Itulah lima nubuatan yang termuat di dalam 2 ayat saja dari Mazmur 22.

Kadangkala kita mengalami kesulitan karena kita berusaha memahami Perjanjian Baru tanpa memiliki pengetahuan akan Perjanjian Lama. Ingatlah Yesus sedang berbicara kepada orang Yahudi. Ia menggunakan bahasa yang mereka mengerti dan ringkasan yang mereka ketahui.

Ingatkah anda ayat yang mengatakan “Dan ayah manakah di antara kamu, jika anak meminta roti, akankah dia memberi kepadanya batu? Dan jika seekor ikan akankah dia memberi kepadanya seekor ular sebagai pengganti ikan?” (Lukas 11:11).

Orang Yahudi yang mendengar Yesus berkata demikian, memahami apa yang Ia katakan, karena bagi mereka ular bukan makanan. Tetapi maknanya akan benar-benar terhilang bila anda mengatakan hal yang sama kepada orang yang menganggap ular bukan hanya makanan namun kenikmatan.

Kemungkinan besar ia akan menjawab Yesus dengan berkata: “Jika anakku meminta ikan, aku akan memberinya dua ular”. Alkitab diekspresikan secara kultural, yang berarti Alkitab menggunakan bahasa, perumpamaan, dan metafora yang sangat dipahami orang agar maksudnya tersampaikan.

  • Jika Yesus, Sang Firman Kekal, yang satu dengan/dalam Tuhan, turun ke dunia untuk melakukan misi-Nya, lalu setelah misi-Nya selesai, mengapa Ia tidak kembali kepada siapakah diri-Nya pada permulaan, yaitu satu dalam Tuhan? Tetapi Ia duduk di sebelah kanan Tuhan Sang Bapa, yang menandakan ada 2 Tuhan alih-alih 1?

Ini adalah tipe masalah yang sama dengan pertanyaan sebelumnya. Apakah yang dimaksudkan Alkitab dengan “duduk di tangan kanan”? Berikut adalah maksud Alkitab dengan “tangan kanan”:

Keluaran 15:6 = “Tangan kanan-Mu, ya YAHWEH, yang diagungkan dalam kekuatan; tangan kanan-Mu, ya YAHWEH, melumatkan musuh”.

Keluaran 15:12 = “Engkau mengulurkan tangan kanan-Mu: Bumi pun menelan mereka”

Mazmur 118:15 = “ Suara sorak-sorai dan keselamatan ada di kemah orang-orang benar, tangan kanan YAHWEH yang melakukan keperkasaan”

Mazmur 118:16 = “ Tangan kanan YAHWEH yang ditinggikan, tangan kanan YAHWEH yang melakukan keperkasaan”

Yesaya 48:13 =  “Juga tangan-Ku telah meletakkan dasar bumi, dan tangan kanan-Ku telah membentangkan langit; Aku telah memanggilnya, mereka berdiri bersama-sama.”

Mazmur 98:1 = “tangan kanan-Nya dan lengan-Nya yang kudus telah menyelamatkan milik-Nya”.

Kata tersebut pada dasarnya memiliki penggunaan yang sama dengan “sulung” yang berarti orang yang memiliki kuasa dan otoritas. Yang dikatakan Alkitab adalah Kristus mempunyai otoritas penuh atas seluruh ciptaan, dan itu telah dinyatakan dalam beberapa ayat dalam Alkitab dengan menggunakan istilah-istilah yang berbeda.

Seorang Yahudi akan sangat mengerti bahwa orang yang duduk di tangan kanan seseorang adalah orang yang memiliki otoritas, atau adalah “pewaris”, sama dengan seorang yang “sulung”. Ini adalah masalah yang muncul dalam gereja di jaman modern, karena munculnya kekristenan Perjanjian Baru, dimana orang Kristen mengabaikan Perjanjian Lama. Akibatnya mereka tidak memahami Perjanjian Baru.

Pertanyaan yang selalu harus kita ajukan adalah: apa yang dipahami oleh orang-orang yang mendengar Yesus mengatakan hal-hal tersebut?

Lagipula, mereka adalah orang-orang yang memiliki budaya dan bahasa yang sama dengan-Nya dan merupakan penerima dari berita tersebut.

Bersambung ke Seri – 2

Artikel ditulis oleh : Dr. Salam

Leave a Reply

Your email address will not be published.