Alkitab vs Qur'an,  Isu-Isu Terkini,  Komparasi

Keluarga Asuh Muhammad

Halima belakangan mengatakan bahwa ia dan sembilan wanita dari sukunya datang ke Mekah bersama suami mereka untuk melakukan barter barang-barang dagangan dan mengambil anak untuk diasuh.

Ini adalah cara mereka untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Semua wanita lainnya telah mendapatkan anak, kecuali Halima. Ia miskin, kekurangan gizi dan payudaranya kering.

Wanita-wanita Mekah tidak bersedia mempercayakan anak mereka kepadanya. 37 | The Life of Muhammad under the Light of Reason – http://www.buktidansaksi.com

Di lain pihak, tidak ada yang bersedia mengasuh anak yatim milik seorang janda miskin.

Hadis yang menceritakan tentang Halima mengatakan, “Jadi kami tiba di Mekah, aku bersumpah, tidak satupun wanita dari kaumku yang tidak ditawarkan mengasuh sang Utusan Allah; tetapi semua menolaknya ketika diberitahu bahwa ia adalah anak yatim.

Kami menolaknya dan berkata, ‘Apa keuntungan yang bisa diberikan ibu anak ini? Yang kami inginkan adalah sedikit bantuan dari ayah anak ini, apa yang bisa dilakukan ibunya bagi kami? Aku bersumpah, setiap teman wanitaku, semuanya kecuali aku, mengambil seorang bayi untuk disusui.”

Pulang dengan tangan kosong, sementara semua temannya telah mendapatkan bayi untuk diasuh sungguh memalukan bagi Halima.

Pada hari terakhir pasar raya, ia menerima Muhammad. Wanita yang disisihkan dan anak yang tidak diinginkan akhirnya disatukan.

Alasan Halima ingin mengasuh seorang anak adalah untuk membantu keluarganya secara finansial. Dengan mengasuh anak yatim miskin imbalannya sangat kecil. Meskipun tidak ada indikasi bahwa Halima menyiksa Muhammad, cukup logis untuk berasumsi bahwa sudah pasti ia lebih menyayangi anak-anaknya sendiri.

Anak-anak sangat peka saat usia muda. Mereka bisa merasakan bila mereka tidak dikasihi atau tidak diperlakukan secara adil. Karenanya cukup masuk akal untuk percaya bahwa Muhammad pasti merasa diabaikan di rumah orangtua asuhnya.

Memperhatikan saudara angkatnya Abdullah, menerima perlakuan istimewa pasti memberi dampak jangka panjang terhadap psikologi dan karakter kepribadiannya. Muhammad tumbuh dengan menyadari bahwa ia bukan bagian dari keluarga tersebut. Menyadari bahwa semua anak di desa tersebut mempunyai orangtua sedangkan ia tidak punya, pastilah traumatis bagi seorang anak kecil.

Ia mengenal ibu kandungnya. Halima membawanya mengunjungi Amina setiap enam bulan. Anak asuh dikembalikan setelah mereka disapih. Untuk beberapa alasan Amina tidak menginginkan anaknya kembali. Muhammad tinggal bersama keluarga asuhnya selama lima tahun.

Setiap kali Halima mencoba mengembalikannya, Amina akan mendesaknya untuk memelihara Muhammad lebih lama lagi. Anak-anak lain pasti mengejek Muhammad. Anak-anak bisa sangat kejam. Menjadi yatim piatu merupakan aib di negeri tersebut, karena masih berada di antara kaum Muslim yang tak berpendidikan. Secara otomatis satus Anda akan direndahkan. Bagi seorang anak kecil hal ini sangat menghancurkan.

Muhammad tentunya bertanya-tanya mengapa ibunya menolak dirinya. Sesungguhnya kenapa? Satu-satunya alasan yang terpikirkan oleh saya adalah karena ibunya menganggapnya sebagai beban, penghalang bagi apapun yang menjadi prioritas dirinya. Jika kita mengetahui lebih banyak tentang Amina, kita bisa membuat penilaian yang lebih baik tentang psikologinya.

Nyaris tidak ada apa-apa tentang Amina dalam buku-buku sejarah. Dari sedikit yang kita ketahui, satu hal yang jelas adalah bahwa ia tidak cukup peduli terhadap anaknya dan keprihatinannya terhadap hal lain lebih penting baginya daripada anaknya.

59 Ibn Kathir, al Sira al Nabawiyya, v.1, p. 161
38 | The Life of Muhammad under the Light of Reason – http://www.buktidansaksi.com

Ini bukan tebakan asal-asalan. Masyarakat patriarkis yang menindas jarang menghasilkan individu yang sehat secara emosional maupun psikologis. Kebanyakan orang Arab, dan sesungguhnya kebanyakan Muslim, menderita satu atau lebih gangguan psikologis.

Mereka bersifat agresif, bengis, paranoid, obsesif, penggertak, atau pemalu. Kondisi dari masyarakat Islam sudah membuktikannya. Sejarawan Muslim menceritakan bahwa Safiyah, bibi dari Muhammad, sering memukul
anaknya Zubair ibn Awwam tanpa belas kasihan.

Awwam sudah meninggal sehingga paman Zubair, Naufal, menjadi walinya. Ia mengeluhkan tentang perlakuan brutal terhadap Zubair. Isterinya menjawab bahwa ia memukulnya sedemikian rupa untuk membuatnya kuat. Zubair menjadi sangat keras dan mengajak anak lain untuk berkelahi, berbadan lebih besar darinya dan memukulnya sedemikian rupa hingga anak itu harus kehilangan salah satu tangannya. Ia menurunkan kebengisannya kepada anak lelakinya yang kemudian menjadi musuh bebuyutan satu sama lain. Anaknya yang lebih muda, Amro, mengobarkan perang melawan kakaknya di Mekah, di mana perang adalah tindakan penistaan. Ketika ia kalah, Abdullah menangkapnya dan memukulnya hingga mati. 60

Kita nanti akan mempelajari lebih lanjut tentang kecenderungan Safiyah terhadap kekerasan. Sesungguhnya semua anggota di keluarga Muhammad mempunyai sifat kejam. Seluruh kaum tersebut adalah kaum barbar. Salah satu dampak dari penelantaran adalah sifat agresif.

Muhammad begitu penuh dengan kemarahan sehingga ia menggigit bahu Shayma, kakak angkatnya, dengan keras, ketika Shayma sedang menggendongnya. Gigitan itu begitu parah, sehingga lebih dari lima puluh tahun kemudian, ketika Muhammad menyerang Hawazin, kaum dari suku Halima, dan Shayma ditangkap lalu diperlakukan dengan kasar oleh para Muslim, ia menyatakan dirinya sebagai kakak angkat dari nabi mereka. Ketika ia dihadapkan kepada Muhammad dan diminta untuk membuktikan, ia menunjukkan tanda bekas gigitan di bahunya dan Muhammad mengingatnya.61

Ini pasti gigitan yang luar biasa, dan itu menunjukkan betapa frustrasinya Muhammad saat itu dan betapa banyak kemarahan yang ia miliki. Muhammad tinggal selama empat setengah tahun bersama keluarga asuhnya hingga
kesehatan mentalnya menjadi keprihatinan bagi Halima dan suaminya. Ia tidak pernah bermain dengan anak-anak lain dan sering menarik diri dari mereka dan berbicara dengan teman khayalannya.

Memiliki teman khayalan bagi anak-anak adalah hal yang biasa. Namun, kasus Muhammad pasti telah membuat khawatir Halima dan suaminya, Harith, sampai-sampai mereka berpikir bahwa ia kesurupan setan. Ia mengalami kejang-kejang dan berhalusinasi. Pada satu peristiwa ia berkata, “Dua pria berpakaian putih datang dan melemparkan saya ke bawah dan membuka perut saya dan mencari-cari di dalamnya, entah apa yang dicari aku tak tahu.”62

60 Tabaari, v. 7, p. 2915
61 Ibn Ishaq. 576
62 Tabari, v. 2, p. 710
39 | The Life of Muhammad under the Light of Reason – http://www.buktidansaksi.com

Orangtua asuhnya merasa khawatir dan Harith memberitahu Halima untuk membawa anak itu ke keluarganya
sebelum akibat penyakitnya jadi nyata. Belakangan Muhammad memoles cerita ini dan berkata, “Dua pria berpakaian putih mendatangiku dengan baskom emas penuh dengan salju. Mereka membawaku dan membelah tubuhku.

Lalu mereka mengambil jantungku dan membelahnya dan mengeluarkan gumpalan hitam dari dalamnya dan melemparkannya. Kemudian mereka mencuci mencuci jantung dan tubuhku dengan salju itu dan membuatnya menjadi murni.”63

Cerita ini mungkin masuk akal baginya sebab ia, seperti orang-orang di zamannya, percaya bahwa pikiran berasal dari hati dan membayangkan pikiran kotor sebagai gumpalan hitam, dan karena salju terlihat putih dan bersih, pasti merupakan alat pembersih yang bagus.

Kepercayaan bahwa suatu kekuatan eksternal telah mengeluarkan organ internal seseorang dan menggantinya dengan milik orang lain, atau mencucinya dan mengembalikannya lagi tanpa meninggalkan luka atau bekas luka, adalah contoh delusi skizofrenia.

Hampir setengah dari biografi Muhammad adalah tentang mukjizat. Sira menyatakan bahwa ketika Halima membawa pulang Muhammad, tidak hanya payudaranya yang menjadi penuh oleh susu, payudara dari unta dan kambing-kambingnya menjadi penuh oleh susu dan keledainya yang sekarat yang sudah tidak bisa berjalan, berderap sepanjang jalan kembali ke desa mereka.

Narasi itu mengatakan bahwa meskipun tahun itu adalah tahun kekeringan, kambing-kambing milik Halima bisa menemukan banyak makanan dan menjadi gemuk dan penuh dengan susu sementara kambing-kambing lain tidak bisa menemukan satu helai rumput pun untuk dimakan.

Kisah lain mengatakan bahwa saat Amina hamil, ia melihat cahaya keluar dari dirinya di mana ia bisa melihat istana Busra di Suriah melalui cahaya itu. Mukjizat-mukjizat yang diceritakan ini diingkari oleh kejadian sebenarnya dalam kehidupan Muhammad.

Sebagai salah satu contoh yang bagus adalah fakta bahwa ketika ia dan pengikutnya hijrah ke Madinah, mereka harus melakukan perampokan untuk kelangsungan mereka seperti yang kita lihat dibenarkan oleh Karen Armstrong. Tidak ada manna yang diturunkan dari surga dan tidak mukjizat yang datang kepada Muhammad.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *