Alkitab vs Qur'an,  Isu-Isu Terkini,  Komparasi

Hingga Ia Dinikahi Pria Lain

Seringkali terjadi suami yang marah kemudian dalam kemarahannya tanpa pikir panjang menceraikan isterinya. Tapi beberapa saat kemudian, ia menyesali keputusannya itu dan ingin agar istrinya kembali kepadanya. Tetapi hukum Islam mengatakan bahwa wanita ini pertama-tama harus berhubungan seks dengan pria lain sebelum ia dapat kembali kepada suaminya. Bukankah ini sangat merendahkan diri seorang wanita dan tidak manusiawi?

Dalam Quran Sura al-Baqarah 2:230, kita membaca:

Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah talak yang kedua), maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) mengetahui.

فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلا تَحِلُّ لَهُ مِنْ بَعْدُ حَتَّى تَنْكِحَ زَوْجًا غَيْرَهُ فَإِنْ طَلَّقَهَا فَلا جُنَاحَ عَلَيْهِمَا أَنْ يَتَرَاجَعَا إِنْ ظَنَّا أَنْ يُقِيمَا حُدُودَ اللَّهِ وَتِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ يُبَيِّنُهَا لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ

Al-Baidawi menjelaskan ayat ini demikian, “Istri Rifa’a berkata kepada Utusan Allah, ‘Rifa’a akhirnya menceraikan aku, dan ‘Abd al-Rahman menikahiku. Tetapi ia pincang [dan lemah] seperti ujung jubah’.

Utusan Allah berkata, ‘Apakah engkau ingin kembali kepada Rifa’a?’

Wanita itu berkata, ‘Ya’.

Tetapi Utusan Allah berkata, ‘Tidak bisa, kecuali engkau menikmati persetubuhan dengannya, dan ia dengan engkau’”.

Kadangkala seorang pria yang berpengaruh menceraikan istrinya dalam keadaan sedang marah. Kemudian, seringkali yang terjadi adalah, ia menyesali keputusannya itu dan ingin agar istrinya kembali kepadanya. Tetapi hukum Islam mengatakan bahwa wanita ini pertama-tama harus berhubungan seks dengan pria lain sebelum ia dapat kembali kepada suaminya. Betapa ini sangat merendahkan dan tidak manusiawi!

Simak apa yang dikatakan oleh seorang ulama terkemuka Iran dibawah ini:

Ayatollah Iran, Ali Moghtadai (mantan ketua Mahkamah Agung Iran):

Kaum wanita tidak diberi hak untuk mengajukan (‘memprovokasi’) perceraian sebab mereka cenderung sebagai pembuat keputusan yang bersifat emosional dan tidak rasional. Sebaliknya, seorang suami dapat menceraikan isterinya kapan saja ia menghendakinya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published.