Alkitab vs Qur'an,  Eskatologi Kristen vs Islam,  Isu-Isu Terkini,  Keselamatan dalam Kristen vs Islam

BINCANG-BINCANG SOAL ISU:”YESUS TIDAK MATI DISALIB” – seri 2

3). Kisah di Zaman Musa

Rupa-rupanya kisah Taurat tentang konfrontasi Musa melawan Firaun adalah topik favorit yang dicatat Quran. Begitu favoritnya sehingga Quran merasa perlu mencatatnya berulang-ulang hingga 27 kali! Meski demikian, tidak sekalipun didalamnya Muhammad mencatat peristiwa yang paling inti dari Kisan Keluaran dari Taurat Musa ini, yaitu kisah PASKAH! Padahal perayaan Paskah adalah event yang paling bersejarah, menyentuh dan heroik bagi setiap orang Yahudi, yang dijadikan legenda untuk dikisahkan kepada setiap anak cucu Yahudi turun-temurun. Lebih dari itu Paskah wajib dirayakan setiap tahunnya, dengan segala tata cara perjamuannya yang dibakukan! Dengan absennya kisah Paskah dalam pewahyuan Quran, tidak heran bahwa orang-orang Yahudi di Mekah atau Madina tidak dapat mengakui Muhammad sebagai nabi utusan Tuhan. Sebab bagi mereka mustahil Allahnya Muhammad bisa sama dengan Tuhan mereka jikalau Allah ini sampai 27 kali lupa mengisahkan inti kisah Kitab Keluaran dalam 27 kali pewahyuanNya tentang perseteruan Musa vs Firaun! Padahal Tuhan sendirilah yang memerintahkan kisah ini agar tertanam dalam ingatan turun-temurun dalam Perayaan Perjamuan paskah setiap tahun!

Seperti diketahui, kisah Paskah dimulai dengan tulah yang ke-10 (dan Quran hanya mencatat total 9 tulah), dimana Tuhan mendatangkan malapetaka terbesar dengan mengirim malaikat kematian untuk mencabut nyawa anak sulung dari setiap keluarga yang pintu rumahnya tidak diperciki darah domba! Tuhan berkata:Apabila Aku melihat dara itu (ada di pintu), maka Aku akan lewat”. Itu adalah vonis kematian yang dilewatkan Tuhan (luput) bagi rumah yang bertanda darah kurban (Keluaran 12:13). Dan Alkitab menjelaskan kepada kita bahwa ”Semuanya ini hanyalah bayangan dari apa yang harus datang” (Kolose 2:17), yaitu janji penebusan melalui darah Yesus Kristus.

4). Kisah di Zaman Daud

Sesekali, tanyakanlah kepada teman Muslim, apa yang mereka ketahui tentang isi Kitab Zabur (Mazmur) yang harus diimaninya. Mereka akan menjawab amat minim dan kabur. Quran memang mengatakan daud membunuh Jalut (Daud vs Goliat) tanpa menerangkan kejadiannya. Juga menyebutkan karunia-karunia yang diberikan Allah kepada Daud, termasuk suara merdu dan pandai bertasbih hingga besi-besi pun menjadi lunak dibuatnya. Tetapi apakah ini isi Kitab Zabur yang islami yang Tuhan turunkan kepada Daud, dengan maksud untuk diimani umatNya? Tetapi apa relevansinya zabur yang harus diimani, bila janji dan ajaran Allah yang diturunkan lewat nabi Daud itu praktis tidak dikenal oleh Muslim?

Kitab Mazmur (Zabur) telah berumur sangat tua, diteruskan hingga ke zaman Yesus dan murid-muridNya yang Ia sendiri sering mengutipnya. Diteruskan lagi hingga ke zamannya Muhammad dan selanjutnya. Tidak ada yang merubah atau menggantikan teksnya. Mazmur (Kitab Zabur) tidak berisi kisah perang Daud melawan Goliat seperti yang dianggap teman Muslim! (Itu ada di kitab lainnya, Kitab nabi Samuel). Tetapi Mazmur berisi 150 pasal kumpulan mazmur doa dan permohonan, pujian dan nyanyian ucapan syukur, ratapan dan pengakuan dosa, mazmur Mesias dengan makna nubuat!

Tanpa kesadaran akan apa yang terucap dari mulutnya, namun Roh Tuhan telah menuntun Daud bernubuat rinci tentang segala pernik kejadian yang akan dijalani oleh seorang Mesias yang akan disalibkan demi membebaskan umatNya, Mesias ini akan mengalami penghinaan, penganiayaan. ”penusukan tangan dan kaki” (istilah nubuat daud untuk penyaliban), dan mengalami kematian dan ditinggal oleh Roh Tuhan, namun juga mengalami kebangkitanNya dari kematian! Semuanya ini secara ajaib tergenapi oleh Yesus Mesias 1000 tahun sesudahnya (Lihat Mazmur ps 2; 8; 16; 40; 41; 45; 68; 69; 89; 102; 110; 118, khususnya 22:2, 7, 8, 17, 19). Bahkan teriakan ungkapan kematian Yesus di atas kayu salib pun, terjadi persis seperti yang telah dinubuatkan oleh Daud: ”Eli, Eli, lama sabakhtani?”. Ini suatu pelukisan kematian-kurban yang tidak terhapuskan oleh klaim dan koreksi dari ayat Kitab Suci manapun! Akhirnya, Tuhan konsekuen menyerukan model penghakiman yang berlandaskan analogi-penebusan:Bawalah kemari orang-orang yang Kukasihi, yang mengikat perjanjian dengan Aku berdasarkan korban sembelihan!” (Mazmur 50:5).

5). Kisah di Zaman Yesaya

Ada satu kabar baik bagi teman Muslim yang belum tahu akan sosok nabi Yesaya yang pernah hidup ditahun 700-an SM. Tuhan ”menurunkan” kepadanya sebuah Kitab yang paling terkenal dengan nubuatan-nubuatan yang terbukti benar. Bahkan pada awal mula pelayanan Yesus, kitab inilah yang dibacakan Yesus di sebuah rumah ibadat. Di situ Yesus memilih membaca pasal 61 dimana terdapat ayat-ayat istimewa yang menubuatkan tentang diriNya! Nas ayat itupun dibenarkanNya secara langsung bagi diriNya, bukan bagi orang lain (lihat Lukas 4:16-21), dan ini sekaligus menggugurkan kalim Muhammad bahwa namanyalah yang ada tertulis di dalam Taurat dan Injil (QS 7:157).

Keistimewaan kitab ini bertambah ketika dunia sempat dikagetkan pada tahun 1947 dengan penemuan utuh dari salinan naskah Dead Sea Scrolls di Qumran, yang berpenanggalan sekitar 150 tahun SM! Maka naskah yang begitu kuno ini segera dipakai untuk men-test kalau-kalau ada kesalahan salinan atau pemalsuan pada salinan kitab Yesaya yang sudah kita punyai selama ini. Ternyata penemuan ini saling bersesuaian dan membenarkan keotentikan teks yang telah ada! Tak ada tangan-tangan usil yang menjahili teks Alkitab seperti yang dituduh. 

Selain pasal 61 yang ayatnya sempat dibacakan Yesus, juga ditemukan gulungan kitab Yesaya pasal 53, yang secara paradoxal mencatat berbagai janji dan nubuat Tuhan tentang seorang Hamba yang Menderita sampai mati, namun menjadi pendamai dan penyelamat bagi umat manusia yang jahat. Hamba ini bahkan tercatat akan bangkit kembali dengan segala ”hadiah” kemenangan-Nya! Kedengarannya seperti tak masuk akal. Itu sebabnya pewahyuannya dimulai dengan bahasa yang skeptis: ”Siapakah yang percaya kepada berita (wahyu) yang kami dengar…?”

Di sini kita persingkat jumlah pembuktian dengan cukup mengutip hanya 3 ayat saja:

Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya… Orang menempatkan kuburnya diantara orang-orang fasik, dan dalam matinya ia ada diantara penjahat-penjahat, sekalipun ia tidak berbuat kekerasan dan tipu tidak ada dalam mulutnya. Tetapi Tuhan berkehendak meremukkan dia (tumitnya*) dengan kesakitan. Apabila ia menyerahkan dirinya sebagai korban penebus salah, ia akan melihat keturunannya. Umurnya akan lanjut (akan bangkit, tidak mati seterusnya)” (Yesaya 53:5,9,10 * lihat Kejadian 3:15).

Semua ”kemustahilan” teks nabi Yesaya yang rumit yang digaris-bawahi ini terbukti benar pada kehidupan dan kematian Yesus 700-an tahun kemudian! Naskah tua Qumran dari 7,5 abad sebelum Muhammad, sengaja dipakai Tuhan di abad ke-20 untuk sekali lagi membenarkan nubuat Yesaya tentang kematian-kurban seorang Mesias. Bila begitu dahsyatnya kebenaran yang satu ini, atas alasan apa dan untuk apa kita harus mati-matian menafikannya?

6). Kisah di zaman nabi Yohanes (nabi Yahya)

Ada 6 pertanyaan dasar dan penting, ditujukan kepada teman Muslim yang kurang acuh/kritis:

(a). Adakah Anda pernah berpikir sejenak apa peran Nabi Yahya seutuhnya menurut versi Quran?

(b). Kenapa Nabi itu ditempatkan Tuhan sekurun-zaman dan seladang-pelayanan dengan Yesus, yang sama-sama menyampaikan firman Tuhan dan mendapatkan para pengikutnya yang berbeda?

(c). Bergunakah misi kenabian Yahya (atau Yesus) ditengah-tengah kenabian Yesus (atau Yahya)? Apakah misi keduanya tidak mampu disedot dan diemban oleh satu nabi saja?

(d). Apakah Tuhan begitu tidak efisien kerjaNya sehingga harus mengutus 2 nabi besar sekaligus dalam kurun angkatan yang sama, sekaligus keduanya menuai kematian secara sia-sia dan terkesan kalah terhadap musuh-musuh Tuhan (versi Quran)?

(e). Bila versi Quran sebaliknya dari kesan-kesan ini, bagaimana caranya menerangkan dari sumber-sumber Islam sendiri bahwa misi kenabian Isa dan Yahya itu berkemenangan kedua-duanya?

(f). Bagaimana penafsir Islam menggambarkan peran Jibril, yang harus membagi dirinya diantara diri Isa (yang selalu diperkuat Jibril) dan diri Yahya (yang bersama-sama Isa harus meneruskan wahyu Jibril kepada angkatan yang sama). Dapatkah Jibril maha-ada, di Isa dan Yahya pada satu saat yang sama?

Tidak mudah bagi teman Muslim mana saja untuk menjawab pertanyaan dasariah ini. Kenapa? Karena Quran justru mengosongkan 2 kesaksian penting untuk apa nabi Yahya diutus khusus sekurun-waktu dan sepelayanan dengan Yesus! (lihat dibawah ini).Namun Alkitab tidak mempunyai kesulitan sedikitpun untuk menjawab misteri di atas. Justru kehadiran Yohanes sekurun dengan Yesus merupakan pertanda Tuhan akan betapa maha-penting dan vitalnya sosok dan pelayanan Yesus sehingga perlu didampingkan tambahan satu nabi besar lainnya. Seperti yang diakui oleh Yohanes sendiri bahwa ia bukan Mesias namun diutus mendahuluinya untuk menjadi corong suara yang meluruskan dan mempersiapkan jalan bagi pengenalan jati-diri Yesus Mesias dan misiNya: “Ditengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal.”

Lalu Yohanes memperkenalkan Sang Mesias lewat pewahyuan yang paling unik (Yohanes pasal 1). Di sini, bukan Jibril membagi dirinya diantara diri Isa dan Yahya (yang sama-sama harus menyampaikan wahyu Jibril kepada angkatan yang sama), melainkan Roh kudus.

Dengan peran khusus Yohanes dan posisi sentralnya yang dinyatakan sebagai nabi terbesar (Yohanes 7:26), sedikitnya itu berarti bahwa dialah bukti dan saksi Ilahi yang paling tinggi di dunia ini bagi Yesus sebagai Mesias. Maksudnya, ia diberi hak istimewa oleh Tuhan untuk mengidentifikasikan jati-diri sang Mesias dengan tanda-ilahi (!), yaitu Roh Kudus (seperti merpati) yang terlihat turun kepada sosok-fisiknya Yesus Mesias. Dengan demikian, Yohanes menjadi saksi-mata yang paling shahih, dekat dan langsung “menunjuk-hidung” ke sosok Mesias, tanpa usah khawatir akan kesalahan dan kekeliruan sosok akibat rentang generasi. Dia tidak bernubuat puluhan generasi dimuka (seperti halnya dengan nabi-nabi lainnya) baru kemudian bisa dicocokkan lagi nubuatnya oleh generasi belakangan dengan memberi peluang tafsiran yang bisa salah-sosok. Yohanes sebagai penunjuk-hidung yang paling absah, memberi dua kesaksian yang penting bagi kemanusiaan, dalam Yohanes 1:34 dan 29:Satu: “aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan tinggal di atasNya (Yesus)…aku telah melihatNya dan memberi kesaksian: Ia inilah Anak Tuhan.”Dua: “Lihatlah (Dia) Anak Domba Tuhan, yang menghapus dosa dunia.”Perhatikan dua kata-saksi langsung kepada Mesias, right now and here, ”inilah” dan ”lihatlah”. Dua penyaksian yang berotoritas ini menunjuk lurus kepada penyaliban Yesus sebagai Anak Tuhan yang menjadi korban tebusan bagi umat manusia!

(7). Hardikan Yesus membuktikan Ia menjalani “kematian-kurban”

Apakah maksud Yesus ketika ia berkata dalam Perjamuan Malam terakhirNya: ”Sebab apa yang tertulis tentang Aku sedang digenapi.” (Lukas 22:37). Itulah pernyataan seperti yang dikupas dalam 6 kisah-kisah di atas, yang seluruhnya merujuk kepada Yesus dalam kematian-kurbanNya! Bila pernyataan tersebut ditolak seseorang, maka Yesus tidak akan segan menghardik si penolak itu dengan kata-kata yang terkeras: ”Enyahlah Iblis!”

Tidak peduli orang tersebut adalah muridNya sendiri, tidak peduli bahwa murid ini (atau orang-orang yang mengaku-aku menghormatiNya) sesungguhnya bermaksud baik karena tidak menginginkan suatu kematian terkutuk disalib itu menimpa diriNya. Simaklah apa yang terjadi pada Petrus yang sesungguhnya beretiket baik bagi Gurunya:

Sejak waktu itu Yesus mulai menyatakan kepada murid-muridNya bahwa Ia harus pergi ke Yerusalem dan menanggung banyak penderitaan dari pihak tua-tua, imam-imam kepala dan ahli-ahli Taurat, lalu dibunuh dan dibangkitkan pada hari ketiga. Tetapi Petrus menarik Yesus ke samping dan menegor Dia, katanya: ”Tuhan, kiranya Tuhan menjauhkan hal itu! Hal itu sekali-kali takkan menimpa Engkau.” Maka Yesus berpaling dan berkata kepada Petrus: ”Enyahlah Iblis. Engkau suatu batu sandungan bagi-Ku. Sebab engkau bukan memikirkan apa yang dipikirkan Tuhan, melainkan apa yang dipikirkan manusia.” (Matius 16:21-23).Ya, bagi Yesus, menampik kematian-kurbanNya adalah menampik perjanjianNya yang paling awal, rancanganNya yang universal, dan karyaNya yang paling mahal yang dapat dibayarkanNya bagi umat manusia. Ia berkata,Sebab inilah darah-Ku, darah perjanjian, yang ditumpahkan bagi banyak orang untuk pengampunan dosa.” (Matius 26:28).

Nubuat Adikodrati” Ke Depan VS “Jejak KAKI” KEBELAKANG

Ucapan nubuat yang tercatat, sekali ia digenapi, adalah merupakan bukti adi-kodrati yang paling kokoh yang harus dipercaya. Nubuat-dan bukan mujizat-merupakan testing yang paling absah akan kebenaran suatu wahyu! Kenapa? Karena sekalipun nabi-nabi palsu bisa bermujizat ala kadar, namun tak ada satu makhluk pun yang tahu masa depan, apalagi mengontrol sejarah untuk memenuhi apa yang ia sudah ucapkan! Nasibnya masa depan hanya ada ditangan Tuhan! Itu sebabnya Tuhan sendiri menantang tuhan-tuhan selainnya untuk membuktikan ”keilahian dirinya” dengan cara bernubuat:

Siapakah seperti Aku? Biarlah ia menyerukannya, biarlah ia memberitahukannya dan membentangkannya kepada-Ku! Siapakah yang mengabarkan dari dahulu kala hal-hal yang akan datang? Apa yang akan tiba, biarlah mereka memberitahukannya kepada kami!” (Yesaya 44:7)maka Aku memberitahukannya kepadamu dari sejak dahulu; sebelum hal itu menjadi kenyataan, Aku mengabarkannya kepadamu, supaya jangan engkau berkata: Berhalaku yang melakukannya, patung pahatanku dan patung tuanganku yang memerintahkannya.” (Yesaya 48:5)

Namun untuk hal yang sepenting ini bagi suatu kebenaran, Muslim malah membiasakan dirinya acuh dan asing terhadap nubuat. Quran praktis tidak berisi nubuat adikodrati ke depan, melainkan sebaliknya banyak didominasi dengan pengungkapan kisah-kisah masa silam. Sebagai contoh saja, ayat yang diperbincangkan di sini, QS 4:157, adalah tipikal kisah pewahyuan ke masa silam yang terlambat munculnya, bukan nubuat ke depan yang harus dibuktikan dengan fakta-fakta masa depan.

Bagi kebanyakan Muslim, ayat di atas dianggap sebagai ”wahyu koreksi” terhadap kasus penyaliban Isa yang terlanjur diterima secara keliru. Namun teman Muslim sering lupa bahwa sangkaan ”keliru” itu justru pertama-tama harus diusutkan kepada ”kelirunya” Allah sendiri dalam bertindak di abad pertama. Bukankah Allah dengan sengaja menipu-daya umat yang menyaksikan penyaliban Isa?! Dan Allah jugalah yang mengkelirukan Isa dengan seorang Isa gadungan, bagi umat israel?Mari kita saksikan apakah ”pengkoreksian” demikian itu kokoh sebagai hukum pengkoreksi tuhan ataukah hanya sebuah klaim yang justru perlu ”ditafsir-ulang” .

1). Absennya Novum

Anda tidak akan memprotes suatu kasus yang telah berlalu 6 abad tanpa menyodorkan bukti-bukti novum yang kuat dan absah (bukti silam yang baru ditemukan). Jadi ”wahyu-koreksi” atas penyaliban/kematian masa silam Isa, haruslah disertai dengan novum yang dapat menafikan penyaliban, dan bukan dibenarkan dengan mengajukan klaim atau asumsi baru. Bila Anda tidak percaya akan nubuat yang tidak tergenapi ke depannya, bagaimana mungkin Anda malah percaya akan wahyu koreksi silam yang tanpa novum ini (padahal kasus yang sudah lewat selalu ada jejak bukti)?

2). Siapakah sosok Isa-Isaan yang diklaim Quran?

Sebab bilamana Allah begitu perlu untuk menegaskan bahwa sosok itu BUKAN Isa, maka Allah setidaknya perlu (dan tentunya mudah) menegaskan SIAPA sosok penggantiNya! Keabsahan satu koin tidak dibentuk oleh satu sisi saja. Mengkoreksi sosok si-asli yang pergi (non-exist) terhadap si gadungan yang tertinggal (exist) itu bukanlah sebuah koreksi jikalau yang eksis itu justru tidak ditampilkan sebagai bukti, malahan juga turut dikosongkan. Apa yang mau dikoreksi kalau kedua obyek yang dipersoalkan itu justru dikosongkan?

3). Memulihkan suasana keraguan, atau menambahinya?

Suasana yang digambarkan dalam satu ayat Quran itu melebihi kekacauan manapun yang pernah diwahyukan. Lihat betapa bertubi-tubinya kata-kata kekacauan yang dilontarkan ke situ: ”…berselisih paham… …benar-benar dalam keragu-raguan… tidak mempunyai keyakinan….persangka an belaka….tidak (pula) yakin…”Sangat jelas Allah lewat ayat korektif ini bermaksud untuk memulihkan segala kekacauan ini. Namun dengan metode pengkoreksian Allah yang aneh (6 abad terlambat, ketiadaan jati-diri sosok, tipu-daya), maka Allah sebenarnya tidak menipisi, melainkan mempertebal keraguan dan perselisihan yang ingin disingkirkan. Keraguan dapat ditepis dengan menambahi bukti, bukan dengan ”pengkoreksian” yang malah menambahi misteri.

4). Dan siapa saksi-saksi- nya?

Siapa selain Allah yang dapat diajukan sebagai saksi atas permainan petak-umpet ini? Jibril? Maryam? Yahya? Serdadu Romawi yang mengeksekusi? Isa sendiri? Tidak ada di kitab! Bila sebelumnya ada tercium tipu-daya ini. Isa bahkan akan memprotes kepada Allah. Karena hal itu melawan kodratnya yang kudus, selalu berkata benar. Kudus itu tidak mau dan tidak bisa bertipu-daya atau membiarkan dirinya menjadi bagian dan ajang dari tipu-daya. Alkitab sama mengatakan, ”Ia (Yesus) tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulutnya” (QS 19:19,34; Yohanes 8:46; 1 Petrus 2:22).Yohanes 8:46 Siapakah di antaramu yang membuktikan bahwa Aku berbuat dosa? Apabila Aku mengatakan kebenaran, mengapakah kamu tidak percaya kepada-Ku?1 Petrus 2:22 ”Ia tidak berbuat dosa, dan tipu tidak ada dalam mulut-Nya”.Jadi, apa dan siapa yang telah dibuktikan dan dimantapkan oleh ayat pengkoreksi yang satu ini? Atau apakah pembuktian korektif model ini dapat dijadikan jurisprudensi untuk mengoreksi suatu perselisihan?

MUSTAHIL ADA WAHYU TUHAN YANG BOLEH KADALUARSA

Pewahyuan silam ini, telah menempatkan murid-murid Isa, ibuNya, dll semua menjadi korban, tertipu daya oleh cara Allah SWT mempergantikan Isa dengan seseorang yang diserupakanNya secara tersembunyi. Ketertipuan ini terus berjalan hingga diungkapkan oleh Muhammad (lihat rujukan QS 3:54).Pertanyaan kita yang paling elementer: ”Kenapa Allah baru merasa perlu mengkoreksi di abad ke-7 untuk sebuah kasus besar dari abad ke-1?” Kenapa kadaluarsa selama 6 abad? Membiarkan bermilyar manusia mati dalam kesesatannya yang terlanjur ”menjunjung salib Yesus,” karena belum sempat dikoreksi Allah? Salahkah ibu Maria, murid-murid Yesus, dan bermilyar pengikutNya, jikalau mereka semua telah mengimani penglihatan yang ”salah”, karena mata mereka telah disesatkan oleh pembalasan tipu-daya Allah sendiri?

Cara pembalasan Tuhan terhadap si penipu dengan menipu balik sipenipu itu, sungguh tidak dikenal dalam Alkitab. Namun hal itu, diadopsi menjadi bagian yang diwahyukan Quran, sehingga para penterjemah terkesan agak rikuh dalam memilih dan memakai pelbagai istilah dan gaya yang saling berbeda untuk menterjemahkan ”khairul maakiriin,” dalam kedua ayat berikut ini (perhatikan teks bahasa aslinya).

Dan mereka itu membuat tipu daya, Allah membalas tipu daya mereka, dan Allah sebaik-baik (pembalas) tipu daya” (and Allah is the best of schemers, Moh. Pickthall)Mereka membuat tipu daya, tetapi Allah (juga) membuat tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembuat tipu daya.” (and Allah is the best of plotters QS 3:54; 8:30).

Dalam paham Kristianitas, manusia menipu-daya karena hakekatnya jahat dan sumber dayanya terbatas. Namun Tuhan yang berhakekat Mahakudus dan tidak terbatas sumber dayaNya tidak harus terpaksa—bahkan tidak bisa—membalas tipu dengan tipu, apapun kondisi dan alasannya! Teroris bisa menyandera dan membunuh keluarganya polisi dengan golok, namun polisi tidak bisa membalas membunuh keluarga si teroris, apalagi dengan meriam yang menghancurkan pula tetangga, lalu berkata: “Rasain lu, saya lebih canngih membunuh kalian, kan?.”

Kristianitas mengimani Tuhan yang dapat melawan dan menghukum siapa dan apa saja dengan cara yang tak terbayangkan manusia, namun tidak dapat melawan hakekat diriNya yang “tidak berdusta dan tidak mungkin berdusta.” Dan “Tuhan tidak dapat menyangkal diriNya” (Titus 1:2, Ibrani 6:18; 2 Timotius 2:13).Tuhan tidak bisa terang-terangan membela dan memberi kehormatan kepada Isa setinggi-tingginya— dengan menghancurkan palang salib—sambil mencangking dan menghajar semua musuhNya untuk berlutut di depan kaki Isa! Namun Kuasa Kebenaran, dan Wibawa KehormatanNya memustahilkan Dia secara sembunyi-sembunyi memilih menipu daya semua orang sambil membiarkan diriNya dipaksa manusia bejad untuk menghentikan masa dakwah nabiNya (Isa) secara prematur. Dengan dilenyapkannya Isa disitu dan tamat riwayatnya entah bagaimana, bukankah sia-sia seluruh prestasi kenabiannya?

Dan tamat pula seluruh kepercayaan murid-muridNya akan kehebatan dan janji-janji Gurunya. Melainkan menyisakan tercerai-berainya mereka dalam rasa ketakutan, tidak mampu, dan percuma menginjili, karena toh sang Guru sendiri sudah dikalahkan (lihat akhir dari pasal ini).Kebanyakan Muslim tidak mencoba untuk memahami bahwa sedari dahulu, Tuhan semesta alam selalu merujuk kepada satu formula penyelamatan manusia, yaitu hidup melalui kematian. Dan kematian Yesus itu mengalahkan MAUT bagi umatNya!

Dulu harga kematian disimbolkan oleh korban sembelihan anak domba; dan kini digenapi oleh pengorbanan Anak Domba Tuhan dalam penyaliban Yesus. Apabila kematian-kurban dari Yesus ini ingin “dibela” dengan cara dihilangkan, maka Ia justru akan kehilangan segala-galanya!

(1). Hilang lenyap Diri Isa, dari murid-murid yang dikasihiNya. Dilenyapkan Tuhan entah kemana, tanpa pra-berita, tanpa pamit, tanpa saksi, tidak terjejaki. Meninggalkan penginjilan secara prematur sebelum berbuah (lihat butir 3)

(2). Hilang lenyap Kalimat Isa, Injil dan ajaran Isa tidak terjaga di dunia, padahal terjaga disisi Allah dan tergores kekal di Lauhul Mahfuz di surga. Injil Isa Islami dibiarkan hilang lenyap dari dunia entah kemana, tidak terjejaki, sehingga Cuma Injil Palsu karya Paulus cs –lah yang tertinggal dan kini tersebar ke seluruh pelosok bumi dalam 1000-an bahasa di dunia.

(3). Hilang lenyap Misi Isa bersama dengan semua murid-murid awal Isa (hawariyyin, para pengikut beriman), Mereka tidak terjaga, terdesak kalah dan hilang semua, disapu oleh murid-murid Paulus dengan ajaran sesatnya yang terus berjaya hingga kini. Padahal Quran menjanjikan kemenangan bagi murid-murid Isa (QS 61:14);…Pengikut (Isa) yang setia itu berkata:’Kamilah penolong-penolong agama Allah…maka Kami berikan kekuatan kepada orang-orang yang beriman terhadap musuh-musuh mereka, lalu mereka menjadi orang-orang yang menang’ ”.

Tetapi dimanakah Injil Isa dan para pengikut Isa (Islami) yang menang itu sekarang? HILANG! Hilang segala-galanya disapu habis oleh kuasa nabi-nabi palsu yang dapat melebihi Isa! Total kesia-siaan Isa ini adalah konsekuensi sebab-akibat yang keras sekali, Muslim menolak kematian-kurban Yesus Al-Masih di kayu salib! Muslim tahu bahwa Isa adalah sosok yang digelar “Yang Terkemuka di dunia dan di akhirat” dan “Tanda yang Besar bagi Semesta Alam”.

Jadi silahkan Muslim kini memilih satu diantara dua: Isa yang kehilangan segala-galanya (Keberadaan DiriNya, Kalimat, Ajaran & KaryaNya) ataukah Isa yang tersalib dalam kematian-kurban demi memberikan kita HIDUP yang KEKAL.

Sumber: ISMAEL…, Saudaraku, Bincang-Bincang Tentang Tudingan dan Salah Paham, Umar Tariqas, Reach Catalog, Jakarta, Cape Town. Penerbitan awal dengan judul: :”Bagaimana Mengatasi Penolakan Muslim”, 2005, Fitrah Eden.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *