Daily Devotional,  Komparasi

Sepuluh Alasan Utama Mengapa Islam Bukan Agama Damai? (Bagian 2)

5. Muhammad dalam Qurannya memerintahkan hukuman mati atau memotong tangan dan kaki jika berkelahi dan merusak negeri.QS 5:33 Sesungguhnya pembalasan terhadap orang-orang yang memerangi Allah dan Rasul-Nya dan membuat kerusakan di muka bumi, hanyalah mereka dibunuh dan disalib, atau dipotong tangan dan kaki mereka dengan bertimbal balik, atau dibuang dari negeri (tempat kediamannya). Yang demikian itu (sebagai) suatu penghinaan untuk mereka di dunia, dan di akhirat mereka beroleh siksaan yang besar. (bdk. Majid Fakhry, An Interpretation of the Quran, New York: NYUP, 2000, 2004)

Menurut Hadith, konteks historis ayat-ayat ini adalah “perkelahian” dan “pengrusakan” negeri.

Beberapa kepala suku Arab menemui Nabi, namun jatuh sakit oleh karena iklim Medina yang tidak bersahabat, sehingga ia menyarankan pengobatan menurut kepercayaan kuno: minum susu dan air kencing unta. Kemudian, dilaporkan bahwa mereka merasa lebih baik. Namun demikian, untuk beberapa alasan, setelah keluar dari Medina mereka membunuh beberapa gembala Muhammad, menjadi murtad, dan mengusir unta-unta nabi.

Berita ini didengar Nabi, dan ia memerintahkan agar mereka dikejar dan dibawa ke hadapannya. Ia memerintahkan agar tangan dan kaki mereka dipotong, mata mereka dicungkil, dan tubuh mereka dilemparkan ke tanah berbatu dan dibiarkan disana sampai mati.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai kebijakan menghukum orang dengan cara demikian di jaman ini berdasarkan Sura 5:33, bahkan tuduhan-tuduhan ambigu seperti kolonialisme, rasisme, dan perpecahan hubungan keluarga, lihat disini, dan sebagai jawaban untuk para apologis Muslim lihat juga: artikel ini (this article), yang juga mengkontraskan Kristus dengan Muhammad. Artikel yang lebih pendek ini (shorter article) menjelaskan latar-belakang ayat-ayat dan hukum yang keji ini. Muhammad menyiksa orang.

Dengan demikian, kekerasan keji bertahta di hati Islam – dalam hidup Muhammad dan dalam Qur’an. Oleh karena itu Islam bukanlah agama damai.

4. Muhammad dengan agresif menyerang karavan-karavan Mekkah.

Kurang lebih setahun setelah Muhammad hijrah dari Mekkah ke Medina pada 622 M, ia menyerang karavan-karavan Mekkah enam kali, dan mengutus ekspedisi penghukuman tiga hari jauhnya terhadap satu suku Arab yang mencuri beberapa unta (atau ternak) Medina yang sedang merumput, sehingga kesemuanya ada 7 kali penyerangan.

W. Montgomery Watt, seorang Barat ahli islamologi yang sangat ternama yang menulis mengenai Muhammad dan yang kedua volume sejarah awal Islam tulisannya (Muhammad at Mecca (1953) dan Muhammad at Medina (1956)) telah luas diterima, mengatakan pada kita mengapa penting memperhatikan masalah geografi:

Pokok penting yang harus diperhatikan adalah orang Muslim bersikap ofensif. Dengan satu pengecualian ke-7 ekspedisi ditujukan kepada karavan-karavan Mekkah. Situasi geografis sendiri mendukung hal ini. Karavan-karavan dari Mekkah ke Syria harus melewati Medina dan tanjung. Sekalipun mereka berada sedekat mungkin dengan Laut Merah, mereka harus berjalan kira-kira 80 mil dari Medina, dan sementara berada dalam jarak ini dari markas musuh, ini sama dengan dua kali jauhnya dari markas mereka sendiri. (Muhammad at Medina, penekanan ditambahkan, h. 2)

Harus sangat ditekankan bahwa orang-orang Mekkah tidak pernah mengirim pasukan ke Medina pada waktu itu – mereka melakukannya kemudian ketika mereka telah muak dengan agresi-agresi Muhammad. Memang benar bahwa orang-orang Mekkah mengumpulkan pasukan untuk melindungi karavan-karavan mereka, namun ketika Muhammad menghadapi mereka, mereka berada berhari-hari perjalanan jauhnya dari Medina, seringkali lebih dari 80 mil (Medina dan Mekkah berjarak sekitar 200-250 mil, diperlukan 7-11 hari perjalanan dengan berjalan kaki, kuda atau unta).

Oleh karena dua apologis dan sarjana Muslim telah menyesatkan orang ketika mereka mengemukakan bahwa karavan-karavan yang “melewati” Medina, menambahkan bahwa orang-orang Muslim gelagapan mencari rampasan apa saja yang dapat mereka peroleh, sementara orang-orang Mekkah melakukan persiapan perang (Isma’il R. al-Faruqi dan Lois Lamya’al Faruqi, The Cultural Atlas of Islam, New York: Macmillan, 1986, 134). Sebenarnya, lebih akurat bila mengatakan bahwa orang-orang Muslim menyerang orang-orang Mekkah dengan sangat agresif.

Untuk melengkapi gambaran mengenai ekspedisi, penyerangan dan peperangan dalam masa hidup Muhammad sejak 622 hingga 632 M, Watt menjumlahkan total pengiriman pasukan Muhammad sebanyak 74 kali (Muhammad at Medina, h. 2; 339-43). Semuanya itu bervariasi mulai dari negosiasi-negosiasi (hanya sedikit dibandingkan dengan ekspedisi-ekspedisi kejam), hingga kelompok-kelompok kecil untuk melakukan pembunuhan, hingga penaklukkan Mekkah dengan 10.000 orang jihadis, dan konfrontasi dengan orang-orang Kristen Byzantium (yang tidak pernah muncul), dengan 30.000 pejuang suci ke Tabuk (lihat di bawah).

Untuk mendapatkan catatan yang lebih lengkap mengenai 6 serangan awal yang agresif terhadap karavan-karavan Mekkah, lihat: artikel ini (this article), yang menjelaskan dengan lebih menyeluruh mengapa serangan-serangan ini tidak bersifat defensif.

Dengan demikian, kekerasan agresi militer bertahta di hati Islam – dalam hidup Muhammad dan dalam Qur’an. Oleh karena itu Islam bukanlah agama damai.

3. Muhammad dalam Qur’annya menjanjikan taman-taman sensual bagi para martir yang gugur dalam perang suci militer.

Dalam keseluruhan Qur’an, Muhammad menjanjikan para pria dalam komunitas Muslimnya bahwa jika mereka mati karena berperang bagi Allah dan baginya, Allah akan memberi upah bagi mereka Taman yang “kaya/penuh dengan perawan” (Sura 44:51-5652:17-2955:46-78).

Dalam ayat-ayat Qur’an berikut ini, yang juga mewakili ayat-ayat lainnya (Sura 4:749:1113:140-143), kata Arab “jihad” (akarnya adalah j-h-d) adalah sarana atau mata uang yang digunakan untuk menukar hidup di dunia ini dengan hidup yang akan datang dalam sebuah perundingan dagang/ekonomi.QS 61:10-12 [10] Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? [11] (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad [j-h-d] di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, [12] niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga Adn. Itulah keuntungan yang besar. (Haleem)

Ayat-ayat ini terdapat dalam konteks sejarah Perang Uhud (625), dimana Muhammad kehilangan 70 orang pejuangnya. Oleh karena itu ia harus membuat kekalahan itu nampak sebagai pengorbanan yang pantas, maka ia merekayasa kematian mereka dalam suatu perundingan dagang (perhatikan kata yang ditulis tebal). Jika para jihadisnya berniaga atau menjual hidup mereka di dunia ini, maka mereka mendapatkan surga islami – ini adalah sebuah kesepakatan yang telah final.

Untuk mendapatkan analisa yang lebih mendalam mengenai kemartiran islami dan bagaimana kemartiran alkitabiah menentang hal itu, lihat: artikel ini (this article). “Kemartiran” Kristus di kayu salib membuka jalan ke surga sehingga orang-orang Kristen tidak perlu mati dalam perang suci demi mendapatkan surga.

Dengan demikian, ‘kekerasan surgawi’ bertahta dalam hati Islam – dalam hidup Muhammad dan dalam Qur’an. Oleh karena itu Islam bukanlah agama damai.

2. Muhammad dengan tidak adil mengeksekusi sekitar 600 pria Yahudi dan memperbudak para wanita dan anak-anak.

Setelah Perang Parit pada Maret 627 (dinamai demikian karena parit yang digali orang-orang Muslim di sekeliling Medina) melawan sebuah koalisi besar orang-orang Mekkah dan sekutu-sekutu mereka, Muhammad memberlakukan hukuman berat terhadap kaum pria dari klan Yahudi Qurayzah, lawan-lawan Yahudinya yang ketiga dan yang terakhir (ia mengusir suku Qaynuqa pada April 624 dan suku Nadir pada Agustus 625). Suku Qurayzah semestinya tetap netral dalam Perang tersebut, namun mereka nampaknya telah melakukan intrik dengan orang-orang Mekkah dan hampir menyerang Muhammad dari samping. Mereka dipandang bersalah oleh salah satu dari sekutu Muslim Medina, walaupun Muhammad mestinya dapat menunjukkan belas kasihan, membuang mereka (seperti yang mereka minta darinya), atau mengeksekusi sedikit orang saja.

Hukumannya: Mati dengan cara pemenggalan kepala terhadap sekitar 600 orang pria (beberapa sumber islami mengatakan 900), dan memperbudak para wanita dan anak-anak (ia mengambil seorang wanita Yahudi yang sangat cantik sebagai rampasan perang untuk dirinya). Muhammad cukup bijak dengan memerintahkan 6 klan mengeksekusi masing-masing dua orang Yahudi agar menghentikan aksi balas dendam. Pelaksanaan eksekusi selanjutnya kemungkinan besar dilakukan oleh sesamanya para imigran dari Mekkah dan itu berlangsung sepanjang malam.

Nabi berkata dalam Sura 33:25-26 berikut ini mengenai Perang Parit dan perlakuannya terhadap orang Qurayzah:QS 33:25-27 [25] Dan Allah menghalau orang-orang kafir itu yang keadaan mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apa pun. Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah Maha Kuat lagi Maha Perkasa. [26] Dan Dia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani Quraizhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebahagian mereka kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan. [27] Dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak. Dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu. (Haleem)

Kini kekejaman ini telah ditahbiskan dalam firman Allah yang kekal – dan Qur’an nampaknya merayakan hal itu. Namun pertanyaan-pertanyaan berikut ini harus dijawab: Apakah pertikaian dengan musuh setara nilainya dengan membantai 600 pria dan memperbudak para wanita dan anak-anak? Siapa yang berhak menentukan hal itu? Apakah para kepala suku Arab dengan pasukannya yang perkasa? Inilah yang dikatakan Muhammad kira-kira pada tahun 622 pada masa hijrahnya:QS 16:126 Dan jika kamu memberikan balasan, maka balaslah dengan balasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu. Akan tetapi jika kamu bersabar, sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi orang-orang yang sabar. (Haleem)

Orang yang waras dan berpikiran terbuka akan menilai Muhammad tidak memberi tanggapan atau keputusan yang tepat untuk mencapai kesepakatan. Bani Qurayzah tidak pernah menyerang orang-orang Muslim, dan seandainya pun ada sedikit orang yang melakukannya, penghukuman yang dijatuhkan tidak sesuai dengan kejahatan yang dilakukan. Oleh karena itu, Muhammad telah bersikap berlebihan dan tidak pada tempatnya karena ia menggunakan hukuman yang tidak dapat dibatalkan untuk mengekspresikan murka manusiawinya.

Untuk mendapatkan kisah selengkapnya mengenai kekejaman ini, lihat: Artikel ini (this article). Artikel ini (this one) mengupas hubungan Muhammad dengan orang Yahudi, menjawab tanggapan-tanggapan standar orang-orang Muslim terhadap kekejaman nabi mereka yang sama sekali tidak layak dibela (perhatikan “Politik, Peperangan, dan Penaklukkan” no.5). Lihat: Seri artikel-artikel (series of articles) untuk informasi lebih lanjut mengenai kekejaman Muhammad terhadap bani Qurayza. Indeks online (online index) menyediakan link-link lainnya.

Dengan demikian, kekejaman anti Semitis bertahta di hati Islam – dalam hidup Muhammad dan dalam Qur’annya. Oleh karena itu Islam bukanlah agama damai.

1. Muhammad mengobarkan Perang Sucinya sendiri.

Dalam ayat-ayat berikut, Muhammad menggunakan kata Arab qital (akarnya adalah q-t-l), yang berarti berperang, berkelahi, atau membunuh:QS 9:29 Perangilah [q-t-l] (dengan senjata) orang-orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak (pula) kepada hari kemudian dan mereka tidak mengharamkan apa yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya dan tidak beragama dengan agama yang benar (agama Allah), (yaitu orang-orang) yang diberikan Al Kitab kepada mereka, sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk. (Fakhry)

Dua klausa yang paling mencolok dalam ayat yang kejam ini adalah:

  1. orang-orang yang diberikan Al Kitab (para Ahli Kitab, yaitu orang-orang Kristen dalam ayat ini pada akhir hidup Muhammad) harus diserang jika mereka tidak mengakui agama yang sejati yaitu: Islam. Ini membuka lebar pintu bagi para teroris pada masa kini untuk menyerang dan memerangi orang Kristen karena mereka tidak mengakui/memeluk Islam;
  2. orang-orang Kristen harus membayar pajak untuk “hak istimewa” hidup di bawah “perlindungan” Islam – dengan sikap tunduk atau dalam penghinaan.

Konteks historis Sura 9:29 menceritakan Muhammad mempersiapkan suatu ekspedisi militer terhadap kekaisaran Byzantium pada 630 M, dua tahun sebelum kematiannya oleh karena demam pada 632 M. Sesungguhnya beberapa sarjana menganggap Sura 9 sebagai Sura terakhir yang diwahyukan dari atas. Oleh karena itu, Sura ini menjadi dasar banyak kebijakan Muslim dewasa ini, dan seringkali diinterpretasikan sebagai ayat yang telah menghapus atau membatalkan ayat-ayat terdahulu, bahkan ayat-ayat yang bernada damai.

Muhammad mendengar kabar burung bahwa orang-orang Byzantium telah mengumpulkan pasukan sekitar 700 mil di utara Tabuk (Arab bagian utara pada masa kini) untuk menyerang Islam, sehingga ia memimpin pasukan yang terdiri dari 30.000 pejuang suci untuk mengadakan serangan balik. Namun demikian, orang-orang Byzantium tidak melakukan apa-apa, maka keyakinan Muhammad terhadap kabar burung yang tidak benar itu ternyata salah dan ekspedisinya tidak menghasilkan buah, kecuali ia berhasil mendapatkan kesepakatan suku-suku Arab Kristen di utara bahwa mereka tidak akan menyerangnya dan komunitasnya. Pasukan tentara yang terdiri dari 30.000 prajurit dari selatan nampaknya telah sangat mengesankan suku-suku utara, sehingga mereka kelihatannya bukan merupakan ancaman besar terhadap Islam. Mereka adalah orang-orang yang membayar pajak “perlindungan” yang disebutkan dalam Sura 9:29 (demikian pula suku-suku dan kota-kota lain setelah kematian Muhammad). Oleh karena itu, pajak yang dipaksakan Muhammad bersifat agresif dan dengan demikian bersifat tidak adil, dan juga tidak bersifat defensif.

Ekspedisi militer Muhammad merupakan suatu bentuk perang suci Islam jauh sebelum Eropa megobarkan perang salib. Lagipula, pada tahun 638, hanya enam tahun setelah kematian Muhammad, pasukan Muslim menaklukkan Yerusalem. Pada jaman sekarang, semestinya orang Muslim tidak boleh mengeluhkan Perang Salib yang dikobarkan orang Eropa, kecuali mereka terlebih dahulu menghentikan Perang Suci mereka sendiri.

Untuk informasi lebih lanjut mengenai perang suci Muslim setelah kematian Muhammad serta kekejaman dan motivasi mereka, silahkan memperhatikan artikel-artikel ini: ([1][2]).

Dengan demikian, perang suci yang penuh kekerasan bertahta di hati Islam – dalam hidup Muhammad dan dalam Qur’annya – bahkan lebih dalam lagi, hingga mencapai dunia Barat pada masa kini. Oleh karena itu Islam bukanlah agama damai.

baca selanjutnya bagian 3

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *