Isu-Isu Terkini,  Kesaksian Kristen,  Komparasi

Nomor 823 – Seri 2

Di jalsa Hamas pertama hari itu, kami belajar aturan membaca Qur’an. Aku sudah tahu akan hal ini dari ayahku, tapi kebanyakan tawanan tidak mengetahuinya. Jalsa kedua hari itu membicarakan tentang Hamas, sikap disiplin di dalam penjara, pengumuman tentang tawanan² yang baru datang, dan kabar tentang kejadian di luar penjara. Tak ada rahasia atau rencana apapun, hanya berita umum saja.

Setelah setiap jalsa, kami seringkali menghabiskan waktu dengan nonton TV di bagian ujung ruangan,
berhadapan dengan kamar kecil. Suatu pagi, aku sedang menonton kartun dan lalu sebuah iklan ditayangkan.
GEDEBUG!
Sebuah papan kayu besar jatuh di hadapan layar TV.
Aku meloncat kaget dan melihat sekeliling.
“Ada apa?”
Aku lalu mengetahui bahwa papan itu terikat pada tali besar yang diikatkan pada langit². Di sebelah ruangan tampak seorang tawanan memegang erat² ujung tali itu. Rupanya tugasnya adalah melihat segala yang dianggap haram dan menjatuhkan papan kayu di depan TV agar penonton tidak bisa melihatnya.
“Kenapa kau menjatuhkan papan kayu itu?” tanyaku.
“Untuk melindungi kamu sendiri,” katanya kasar.
“Melindungi? Dari apa?”
“Gadis di iklan itu,” jelasnya. “Gadis itu kan tak pakai jilbab.”
Aku melihat emir. “Apakah dia serius tentang ini?”
“Ya, tentu saja,” kata emir.
“Tapi kami semua punya TV di rumah kami, dan kami tidak melakukan hal seperti ini di rumah.
Kenapa musti melakukannya di sini?”
“Berada di penjara membuat orang menghadapi godaan² yang tak lumrah,” jelasnya. “Di sini tidak ada perempuan. Yang mereka tayangkan pada TV bisa menimbulkan masalah dan berakibat buruk bagi mereka. Karena itulah dibuat aturan seperti ini dan beginilah kami menanggulangi masalah itu.”

Tentu saja tidak semua orang setuju akan hal itu. Apa yang boleh atau tak boleh dilihat sangat tergantung dari orang yang memegang tali. Jika orang itu berasal dari Hebron, dia akan menjatuhkan papan untuk menutupi layar TV, bahkan jika yang muncul hanyalah sosok kartun wanita tanpa jilbab.

Tapi jika orang itu berasal dari Ramallah, kami bisa nonton lebih bebas. Kami seharusnya bergiliran memegang tali, tapi aku tak mau menyentuh benda edit moderator*) itu.

Setelah makan siang, tiba waktunya untuk melakukan sholat Dhuhr, lalu setelah itu saat tenang. Kebanyakan tawanan tidur siang. Biasanya aku membaca buku. Dan di sore hari, kami diperbolehkan pergi ke lapangan olahraga untuk berjalan-jalan sedikit atau mengobrol dengan tawanan lain.

Hidup di penjara sangatlah membosankan bagi para anggota Hamas. Kami tak boleh bermain kartu. Kebebasan membaca buku dibatasi dan hanya boleh membaca Qur’an dan literatur Islam saja. Organisasi non-Hamas tidak menerapkan aturan sekeras itu.

Saudara sepupuku Yousef akhirnya muncul di suatu sore, dan aku sangat senang bertemu dengannya. Penjaga² Israel memperbolehkan kami menyimpan alat cukur, dan kami memangkas habis rambut kepalanya untuk menghilangkan bau penjara Moskabiyeh.

Yousef bukanlah anggota Hamas; dia adalah orang sosialis. Dia tidak percaya pada Allâh, tapi percaya akan Tuhan. Dengan begitu, dia lebih cocok jadi anggota Gerakan Demokrasi bagi Pembebasan Palestina (Democratic Front for the Liberation of Palestine = DFLP), DFLP berjuang untuk berdirinya Negara Palestina, dan ini tidak sama dengan tujuan Hamas yang bercita-cita mendirikan Negara Islam.

Beberapa hari setelah Yousef datang, pamanku yakni Ibrahim Abu Salem, datang menjenguk. Dia berada di penahanan administratif sejak dua tahun lalu, meskipun tiada tuduhan resmi yang diajukan padanya. Karena dia dianggap berbahaya bagi keamanan Israel, dia akan terus berada di sana untuk waktu yang lama. Sebagai Hamas VIP (Very Important Person = Orang Sangat Penting), pamanku Ibrahim diijinkan mengunjungi mi’var dan kamp penjara dan dari satu kamp ke kamp yang lain. Maka dia datang berkunjung ke mi’var untuk menengok keponakannya, agar yakin aku baik² saja, dan membawa beberapa baju bagiku – tanda peduli yang sangat bertentangan dengan sifatnya sebagai orang yang dulu suka memukuliku dan tidak peduli pada keluargaku saat ayah sedang dipenjara.

Dengan tinggi hampir mencapai 180 cm, Ibrahim Abu Salem adalah orang yang tinggi besar. Perutnya yang menonjol keluar – tanda kecintaannya pada makanan – membuat dia tampak gembul dan tidak berbahaya. Tapi aku tahu siapa dirinya yang sebenarnya. Pamanku Ibrahim adalah orang yang kejam, mementingkan diri sendiri, pendusta, dan munafik – sangat bertolak belakang dengan ayahku.

Tapi di dalam tembok penjara Megiddo, paman Ibrahim diperlakukan bagaikan seorang raja. Semua tawanan menghormatinya, tidak peduli dari organisasi manapun, karena usianya, kemampuannya mengajar, pekerjaannya di universitas², dan prestasi politik dan akademinya. Biasanya, para pemimpin tawanan memanfaatkan kedatangannya dan memintanya untuk memberi kuliah.

Semua tawanan suka mendengarkan Ibrahim saat dia memberi kuliah. Dia tidak mengajar seperti dosen, tapi lebih sebagai penghibur. Dia suka membuat orang tertawa, dan jika dia mengajar tentang Islam, maka dia menyampaikan ajarannya dengan menggunakan bahasa yang sederhana sehingga siapapun bisa mengerti.

Akan tetapi, hari ini tiada seorang pun yang tertawa. Sebaliknya, semua tawanan duduk bersebelahan dengan diam saat Ibrahim bicara dengan kemarahan berkobar-kobar tentang orang² yang bekerja sama dengan Israel dan bagaimana mereka mempermalukan keluarga mereka dan merupakan musuh orang² Palestina. Dari caranya bicara, aku merasa dia sebenarnya berkata padaku, “Jika kau tahu sesuatu yang belum kau sampaikan padaku, Mosab, katakan padaku sekarang juga.”

Bersambung ke Nomor 823 – Seri 3

Leave a Reply

Your email address will not be published.