Isu-Isu Terkini,  Kesaksian Kristen,  Komparasi

Jangan Percaya Siapapun – Seri 1

Setelah ditahan di bawah tanah begitu lama, rasanya senang sekali bisa melihat langit. Rasanya bagaikan belum melihat bintang² di langit selama bertahun-tahun. Bintang² tampak indah, meskipun lampu² kamp tahanan meredupkan terang bintang. Tapi kemunculan bintang² juga merupakan tanda sudah waktunya dilakukan penghitungan kepala dan waktu tidur. Dan inilah yang sebenarnya membingungkan diriku.

Nomorku adalah 823, dan para tawanan ditempatkan berdasarkan urutan nomer. Ini berarti seharusnya aku berada di tenda Hamas di Kotak Tiga. Tapi karena tenda di sana sudah penuh, aku lalu ditempatkan di tenda di sudut di Kotak Satu.

Ketika dilakukan penghitungan kepala, aku harus berada di tempat yang tepat di Kotak Tiga. Dengan begitu, saat penjaga menghitung daftarnya, dia tidak usah mengingat semua penyesuaian yang harus dilakukan agar semua berjalan rapih.

Semua gerakan pada penghitungan kepala dilakukan dengan teratur. Dua puluh lima prajurit yang bersenjatakan senapan M16 masuk ke Kotak Satu dan bergerak dari tenda ke tenda. Kami semua berdiri menghadap kanvas tenda, punggung kami menghadap prajurit. Tiada seorang pun yang berani bergerak karena takut ditembak.

Setelah mereka selesai di satu tenda, para prajurit itu bergerak ke Kotak Dua. Setelah itu, mereka menutup dua pintu gerbang di pagar, sehingga tiak ada seorang pun dari Kota Satu atau Dua bisa menyelip ke Kotak Tiga atau Empat untuk menutupi tawanan yang hilang.

Di malam pertama di Kotak Lima, aku menyadari adanya hal misterius yang terjadi. Ketika aku pertama kali masuk ke Kotak Tiga, seorang tawanan yang tampak sangat sakit berdiri di sebelahku. Dia tampak sangat menyedihkan, seperti hampir mati saja. Kepalanya dicukur gundul; dia jelas tampak lelah sekali. Dia juga tidak memandang mataku. Siapakah orang ini, dan apa yang terjadi dengannya? Aku heran.

Ketika para prajurit selesai menghitung di Kotak Satu dan bergerak ke Kotak Dua, seseorang merenggut orang itu keluar tenda, dan seorang tawanan mengambil tempatnya di sebelahku. Aku di waktu kemudian mengetahui bahwa celah kecil telah dibuat di pagar antara Kotak Satu dan Tiga sehingga mereka bisa mengganti tawanan dengan tawanan lain.

Sudah jelas bahwa para tawanan tidak mau prajurit²itu melihat orang yang dicukur gundul tersebut. Tapi mengapa?

Malam itu, sambil berbaring di tempat tidurku, aku mendengar seseorang merintih kesakitan tak jauh dari tempatku. Seseorang jelas sangat menderita kesakitan. Tapi aku lalu tertidur lelap.

Pagi hari selalu datang terlalu cepat, dan sebelum aku menyadari, kami telah dibangunkan untuk sholat Fajar.

Dari 240 tawanan di Kotak Lima, 140 orang bangun dan berdiri di antrian untuk menggunakan 6 WC – sebenarnya hanya enam lubang dengan pembatasan yang mengelilinginya. Delapan baskom tersedia untuk melakukan wudu. Waktu yang disediakan adalah 30 menit.

Lalu kami berjejer untuk sholat. Kegiatan sehari-hari serupa seperti di mi’var. Tapi jumlah tawanan di sini 12 kali lebih besar. Meskipun banyak tawanan, semua kegiatan berlangsung dengan sangat teratur.

Tampaknya tiada seorang pun yang membuat kesalahan. Hal ini terasa aneh. Setiap orang tampak ketakutan. Tiada seorang pun yang berani melanggar aturan. Tiada seorang pun yang berani menggunakan WC terlalu lama. Tiada yang berani melihat mata tawanan yang sedang diinterogasi atau mata prajurit Israel. Tiada yang berdiri terlalu dekat dengan pagar. Tak lama kemudian aku mulai mengetahui alasannya. Di bawah pengamatan pengawas penjara, Hamas berkuasa diantara para tawanan penjara dan mereka mencatat angka perbuatan tawanan. Jika tawanan melanggar aturan, maka dia mendapat angka merah. Jika jumlah angka merah terlalu banyak, maka kau harus menghadap maj’d, petugas keamanan Hamas – orang² maj’d ini sangar dan tidak pernah tertawa atau bercanda.

Pada umumnya kami tidak melihat maj’d karena mereka sibuk mengumpulkan keterangan. Bola² berisi pesan dikirimkan dari satu bagian ke bagian lain berasal dari mereka dan untuk mereka.

Suatu hari, ketika aku sedang duduk di tempat tidurku, para maj’d masuk dan berteriak, “Semua keluar dari tenda ini!” Tiada seorang pun yang mengatakan apapun. Tenda itu kosong dalam sekejap. Mereka lalu menarik seorang pria masuk ke dalam tenda, menutup tenda, dan lalu dua orang menjaga di luar tenda. Seseorang memasang TV keras². Orang² lain mulai bernyanyi dan membuat suara² keras. Aku tak tahu apa yang terjadi dalam tenda, tapi aku tidak pernah mendengar manusia menjerit kesakitan seperti jeritan orang dalam tenda itu. Apa sih yang dilakukannya sampai dia diperlakukan begitu? Aku sangat heran. Siksaan berlangsung selama 30 menit. Lalu dua maj’d membawa dia keluar dan memasukkannya ke dalam tenda lain di mana interogasi dilakukan lagi.

Aku sedang mengobrol dengan seorang teman bernama Akel Sorour, yang berasal dari desa dekat Ramallah, ketika kami disuruh keluar dari tenda.
“Apa yang terjadi di dalam tenda?” tanyaku.
“Oh, dia adalah orang jahat,” katanya ringan.
“Aku tahu dia orang jahat, tapi apa yang mereka lakukan terhadapnya? Dan apa yang telah dia lakukan?”
“Dia tidak melakukan kesalahan apapun di penjara,” jelas Akel. “Tapi kata mereka ketika dia berada di Hebron, dia memberi informasi ke Israel tentang anggota Hamas, dan tampaknya dia membocorkan banyak keterangan. Maka mereka menyiksa dia dari waktu ke waktu.”
“Bagaimana cara menyiksanya?”
“Mereka biasanya menusukkan jarum di bawah kuku²nya dan melelehkan nampan² makanan plastik ke atas kulitnya. Atau mereka membakar bulu tubuhnya. Kadangkala mereka meletakkan tongkat besar di belakang lututnya, memaksanya untuk jongkok selama berjamjam, dan melarangnya tidur.

Sekarang aku mengerti mengapa setiap orang begitu berhati-hati dan apa yang terjadi dengan orang gundul yang kulihat saat pertama kali aku datang ke sini. Para maj’d membenci orang² yang bekerja sama dengan Israel, kami semua dicurigai sebagai mata² Israel kecuali jika kami bisa membuktikan tidak melakukan itu.

Karena Israel begitu berhasil mengenal cabang² Hamas dan memenjarakan para anggotanya, maj’d mengira organisasinya dipenuhi mata², dan mereka ingin menemukan mata² tersebut. Mereka mengamati segala perbuatan yang kami lakukan. Mereka mengawasi sikap kami, mendengarkan semua yang kami katakan. Dan mereka menghitung angka kesalahan. Kami tahu siapa mereka, tapi kami tidak tahu orang yang mengawasi kami bagi mereka. Orang yang kukira adalah teman, bisa jadi bekerja bagi maj’d, dan ini bisa saja mengakibatkan aku diinterogasi oleh mereka besok hari.

Aku mengambil keputusan untuk bersikap sangat berhati-hati. Begitu aku tahu keadaan yang sarat rasa curiga dan pengkhianatan di kamp ini, hidupku berubah drastis. Rasanya aku ini jadi orang lain sama sekali – orang yang tidak bisa bergerak bebas, tidak bisa bicara bebas, tidak bisa percaya atau berhubungan atau berteman dengan orang lain. Aku takut berbuat salah, takut terlambat, takut ketiduran pada saat harus bangun, atau lupa mengangguk saat jalsa.

Jika seseorang “tertangkap” oleh maj’d sebagai mata² Israel, tamat sudah hidupnya. Kehidupan keluarganya juga akan hancur. Anak²nya, istrinya, semua orang akan menyingkirkannya. Ketahuan sebagai mata² Israel adalah reputasi terjelek yang bisa dialami seseorang. Antara tahun 1993 sampai 1996, lebih dari 150 orang dituduh sebagai mata² diiterogasi oleh Hamas dalam penjara² Israel. Sekitar 16 orang mati dibunuh.

Karena aku bisa menulis dengan cepat dan rapih, maka maj’d meminta aku untuk jadi juru tulis mereka. Informasi yang kutulis adalah rahasia besar, kata mereka. Dan mereka memperingatkanku untuk tidak menyampaikannya pada siapapun.

Aku menghabiskan hari²ku menulis ulang catatan tentang para tawanan. Kami sangat berhati-hati agar informasi ini tidak jatuh ke tangan penjaga penjara. Kami tidak pernah menyebut nama, hanya nomer kode. Ditulis di atas kertas paling tipis yang ada, informasi itu bagaikan pornografi yang paling menjijikan. Isinya antara lain adalah orang² mengaku bersetubuh dengan ibu² mereka.

Seseorang berkata dia bersetubuh dengan seekor sapi. Yang lain bersetubuh dengan anak perempuannya. Seorang pria bersetubuh dengan seorang wanita yang adalah juga tetangganya, dan merekam kegiatan itu dengan kamera rahasia, dan memberikan foto²nya pada Israel. Pihak Israel, kata laporan itu, menunjukkan foto² itu pada wanita itu dan mengancam untuk menyebarkannya pada keluarganya jika wanita itu menolak untuk bekerja sebagai mata² Israel. Maka mereka tetap berhubungan seks bersama sambil mengumpulkan keterangan dan mulai bersetubuh dengan orang lain dan merekamnya secara rahasia lagi, melaporkan pada Israel, Israel lalu mengancam, dan seterusnya, sampai seluruh desa tampaknya ramai² menjadi mata² Israel. Ini adalah informasi² pertama yang harus kutulis ulang.

Semuanya ini tampak tidak waras bagiku. Sewaktu sedang menulis ulang informasi² tersebut, aku menyadari bahwa orang² yang dicurigai itu disiksa hebat sambil ditanyai berbagai hal yang mereka pasti tidak tahu dan mereka memberi jawaban apapun yang memuaskan para penyiksa agar penyiksaan berhenti. Aku juga mengira sebagian interogasi dilakukan tanpa tujuan apapun selain untuk memuaskan
fantasi seksual para maj’d yang dipenjara.

Bersambung ke Jangan Percaya Siapapun – Seri 2

Leave a Reply

Your email address will not be published.