Isu-Isu Terkini,  Kesaksian Kristen,  Komparasi

Kekacauan di Penjara – Seri 1

Kota Ramallah

Ayah adalah Islam bagiku.
Jika aku harus meletakkan ayah di atas timbangan Allâh, maka beratnya lebih besar daripada Muslim mana pun yang pernah kutemui. Dia tidak pernah alpa sholat, bahkan jika dia pulang kerja larut malam dan telah merasa lelah.

Aku sering mendengarnya berdoa dan menangis berharap pada tuhan Qur’an di tengah malam. Dia adalah orang yang rendah hati, penuh kasih, dan pemaaf – terhadap ibuku dan anak²nya, bahkan orang² yang tidak dikenalnya sekalipun.

Ayah bukanlah sekedar Muslim pembela Islam, tapi dia menjalani kehidupannya sebagai contoh bagaimana seorang Muslim seharusnya bersikap. Dia memantulkan sisi Islam yang indah, dan bukan sisi kejam yang menuntut umat Muslim untuk menaklukkan dan memperbudak seluruh dunia. Akan tetapi, selama periode 10 tahun setelah aku dipenjara, aku melihat ayah bergulat dengan konflik irasional di dalam bathinnya.

Di satu pihak, ayah tidak menganggap perbuatan Muslim yang membunuhi para warga sipil, prajurit, wanita dan anak² Israel sebagai tindakan yang salah. Dia percaya bahwa Allâh memberinya hak untuk melakukan hal itu. Akan tetapi di lain pihak, dia sendiri tidak tega melakukan apa yang para Muslim radikal itu lakukan.

Ada sesuatu dalam hatinya yang menolak perbuatan seperti itu. Apa yang dianggapnya salah untuk dilakukan oleh dirinya sendiri, dibenarkannya jika yang melakukan adalah orang lain. Tapi sebagai anaknya, aku dulu hanya bisa melihat kebaikannya saja dan beranggapan kebaikannya itu merupakan buah² Islam. Karena aku ingin menjadi seperti dia, maka aku percaya apa yang dia percayai tanpa banyak tanya lagi. Yang tak kuketahui saat itu adalah tidak peduli berapapun beratnya kita di atas timbangan Allâh, semua perbuatan mulia dan pekerjaan baik kita, tidak lebih nilainya daripada sekedar gombal busuk bagi Allâh.

Para Muslim yang kutemui di Megiddo sama sekali tidak sama dengan ayahku. Mereka menghakimi orang dengan lagak bagaikan dirinya lebih tinggi daripada Allâh saja. Mereka kejam dan memuakkan, menghalangi layar TV agar kita tidak bisa melihat wanita tak berjilbab. Mereka tanpa toleransi dan munafik, suka menyiksa orang² yang mendapat nilai merah tinggi – meskipun orang² ini hanyalah tawanan yang terlemah dan tak berdaya. Tawanan² lain yang punya hubungan baik dengan maj’d tidak disentuh – bahkan jika tawanan itu mengakui sebagai mata² Israel, hanya karena dia adalah putra Syeikh Hassan Yousef.

Untuk pertamakalinya dalam hidupku, aku mulai mempertanyakan berbagai hal yang dulu selalu kuyakini.
“Delapan dua tiga!”
Sudah saatnya aku menghadap sidang pengadilan. Aku telah dipenjara selama enam bulan. Prajurit IDF mengantarku ke Yerusalem, di mana jaksa penuntut meminta hakim menjatuhkan hukuman bagiku selama enambelas bulan.

Enambelas bulan! Kapten Shin Bet dulu mengatakan aku hanya tinggal di penjara untuk sesaat saja! Apa sih yang kulakukan sehingga harus dihukum seberat ini? Memang benar aku punya niat gila dan lalu membeli beberapa senjata. Tapi kan senjata² itu rusak dan tidak dapat dipakai?

“Enambelas bulan!”

Pengadilan menghitung bahwa aku telah menghuni penjara selama enam bulan, sehingga aku dikirim kembali ke Megiddo dan harus tinggal di sana selama sepuluh bulan lagi.

“Baiklah,” kataku pada Allâh.

“Aku rela dipenjara selama sepuluh bulan, tapi jangan di sana dong!

Jangan di neraka itu!” Tapi tiada yang peduli akan keluhanku – tidak juga pihak keamanan Israel yang
dulu merekrutku dan sekarang meninggalkanku begitu saja.

Setidaknya aku bisa melihat keluargaku sekali sebulan. Ibuku melakukan perjalan yang melelahkan ke Megiddo sekali setiap empat minggu. Dia diijinkan untuk membawa tiga orang saja dari semua adik²ku, maka mereka mengunjungiku secara bergiliran. Setiap kali datang, ibu membawa penganan bayam campur yang segar dan baklava. Keluargaku tidak pernah alpa mengunjungiku.

Melihat keluargaku mendatangkan rasa lega yang besar bagiku, meskipun aku tidak bisa menceritakan apa yang terjadi di dalam pagar penjara dan di balik layar. Bertemu dengan diriku juga sedikit meringankan rasa kehilangan mereka. Aku telah berperan bagaikan ayah bagi adik² laki dan perempuanku – aku memasak untuk mereka, membersihkan bagi mereka, memandikan dan memakaikan baju mereka, mengantar jemput ke sekolah – dan dengan dipenjara, aku juga menjadi pahlawan perjuangan bagi mereka. Mereka merasa sangat bangga akan diriku.

Pada suatu kunjungan, ibuku memberitahu bahwa PA telah membebaskan ayahku. Aku tahu ayah selalu ingin naik haji ke Mekah. Ibu mengatakan ayah pergi ke Saudi Arabia tak lama setelah kembali pulang ke rumah. Ibadah naik haji merupakan pilar kelima Islam, dan setiap Muslim yang mampu secara fisik dan finansial wajib melakukan ibadah ini setidaknya sekali dalam hidupnya. Setiap tahun, lebih dari dua juta Muslim berkumpul di Mekah untuk naik haji.

Tapi ayahku gagal untuk melakukan ibadah haji. Setelah melalui Jembatan Allenby diantara Israel dan Yordania, dia ditahan lagi, kali ini oleh pihak Israel.

Di suatu sore, para ketua tawanan Hamas di Megiddo menyodorkan daftar permintaan pada penjaga penjara, dan memberi batas waktu 24 jam untuk memenuhi permintaan, dan mengancam untuk membuat keonaran jika permintaan tidak dipenuhi.

Keonaran di penjara itu jelek untuk tawanan dan penjaga penjara. Untuk menghindari keonaran, pihak Israel bertemu muka dengan shawish utama, yang ditunjuk dari bagian penjara kami.

“Kami tidak bisa bekerja secepat ini,” kata pejabat penjara padanya. “Kami perlu waktu yang lebih
banyak untuk mempertimbangkan.”

“Tidak,” katanya memaksa. “Kau hanya punya waktu 24 jam.”

Tentu saja pihak Israel juga tidak mau dipaksa seperti itu. Aku tak tahu mengapa ketua tawanan Hamas sampai mengancam seperti itu. Meskipun aku menderita di sini, dibandingkan dengan fasilitas penjara lain yang kudengar, Megiddo bagaikan hotel bintang lima. Permintaan terdengar konyol bagiku – waktu bicara di telepon yang lebih lama, jam kunjungan yang lebih lama, dan berbagai hal sepele seperti itu.

Kami menanti sepanjang hari sampai matahari terbenam. Ketika batas waktu berakhir, Hamas memerintahkan kami untuk membuat kekacauan.

“Apa yang harus kami lakukan?” tanya kami.

“Hancurkan barang² dan bikin gaduh! Hancurkan aspal di lantai dan lemparkan pada para penjaga.
Lempar sabun. Lempar air panas. Lempar segala macam benda yang bisa kau angkat!”

Beberapa tawanan mengisi gentong dengan air agar jika prajurit melempar kaleng gas air mata, mereka bisa mengambilnya dan menyemplungkannya ke dalam air. Kami mulai mengobrak-abrik daerah olahraga.

Seketika terdengarlah suara sirine dan keadaan jadi sangat berbahaya. Ratusan prajurit mengenakan baju dan perlengkapan anti kericuhan massal keluar mengepung kamp tawanan dan mengarahkan senjata pada kami.

Satu²nya yang kupikirkan adalah semuanya ini terasa sangat tak masuk akal. Mengapa kami harus melakukan ini? Tanyaku. Ini adalah gila! Apakah kami harus melakukan ini hanya gara² shawish sinting itu? Aku bukanlah orang yang penakut, tapi juga tidak mau melakukan hal yang tak berarti.

Pasukan Israel bersenjata lengkap dan terlindung, sedangkan kami hanya bisa melempari mereka dengan bongkahan aspal.

Hamas memberi perintah, dan setiap tawanan di setiap bagian mulai melempari kayu, pecahan aspal, dan sabun. Dalam waktu beberapa detik saja, ratusan kaleng gas air mata dilempar masuk dan meledak, memenuhi kamp tawanan dengan asap putih. Aku tidak dapat melihat apapun. Baunya sungguh sukar untuk dijabarkan. Semua orang di sekitarku menjatuhkan diri ke tanah dan tersengal-sengal mencoba menghirup udara segar.

Semua ini terjadi dalam waktu tiga menit saja. Tapi para prajurit Israel baru saja mulai. Prajurit² lalu mengarahkan pipa besar pada kami yang mengeluarkan asap kuning. Asap kuning ini tidak terapung di udara seperti gas air mata; karena lebih berat daripada udara, asap kuning itu turun menyentuh tanah dan menyingkirkan semua oksigen. Para tawanan mulai bergelimpangan pingsan. Aku mencoba bernapas sebisanya tatkala aku melihat nyala api.

Tenda Jihad Islam di Kotak Tiga terbakar. Dalam waktu beberapa detik saja, api berkobar-kobar setinggi 6 meter ke langit. Tenda² yang terbuat dari bahan anti air berbasis minyak tanah terbakar bagaikan disiram bensin. Tonggak² dan bingkai² kayu, matras², dan tempat² sepokat – semuanya dilalap api. Angin menyebarkan api ke tenda² DFLP/PFLP dan Fatah, dan sepuluh detik kemudian, tenda² tersebut terbakar bagaikan dilalap api neraka.

Bersambung ke Kekacauan Di Penjara – Seri 2

Leave a Reply

Your email address will not be published.