Isu-Isu Terkini,  Kesaksian Kristen,  Komparasi

Kekacauan di Penjara – Seri 2

Kota Ramallah

Kobaran api merambat sangat cepat ke daerah kami. Sebagian tenda terbang ditiup angin dan mendarat di pagar kawat silet. Para prajurit mengepung kami. Tiada jalan keluar selain melewati api. Maka kami berlarian.

Aku menutupi wajahku dengan handuk dan berlari ke arah dapur. Ada celah selebar 3 meter diantara tenda² terbakar dan tembok. Lebih dari 200 tawanan mencoba berlari melalui celah itu kala para prajurit terus memenuhi bagian dengan asap kuning.

Dalam waktu beberapa menit saja, separuh Kotak Lima sudah lenyap – semua yang kami miliki, sesedikit apapun, terbakar hangus. Tiada yang tersisa kecuali abu. Banyak tawanan terluka. Tapi sungguh ajaib, tak satu pun mati terbunuh. Mobil² ambulans datang mengumpulkan orang² yang terluka. Setelah kekacauan berakhir, tawanan² yang tendanya terbakar ditempatkan di tenda lain yang masih utuh. Aku dipindahkan ke tengah² tenda Hamas di Kotak Dua.

Satu²nya akibat baik dari kerusuhan penjara Megiddo adalah berhentinya penyiksaan yang dilakukan para ketua Hamas. Mereka terus melakukan pengamatan, tapi kami merasa tidak terlalu tegang lagi dan tidak terlalu takut untuk melakukan sedikit kesalahan. Aku berteman dengan beberapa orang yang kuanggap bisa kupercaya. Tapi kebanyakan kegiatanku hanyalah berjalan-jalan saja selama berjam-jam sendirian, tak ada pekerjaan lain dari hari ke hari.
“Delapan dua tiga!”

Pada tanggal 1 September, 1997, seorang penjaga penjara mengembalikan semua barang²ku dan sedikit uang yang kumiliki sewaktu aku ditangkap, memborgol tanganku dan memasukkan aku ke dalam sebuah mobil van. Para prajurit menyetir mobil menuju ke pos penjagaan pertama setiba di daerah Palestina, yakni Jenin di Tepi Barat. Mereka membuka pintu van dan melepaskan borgol.

“Kau bebas pergi sekarang,” kata salah satu dari mereka. Lalu mereka membalikkan mobil kembali ke arah kedatangan mereka, dan membiarkan aku berdiri seorang diri di pinggir jalan.

Aku sungguh tak percaya. Senang sekali rasanya bisa berjalan di tempat bebas ini. Aku sangat ingin bertemu ibuku dan saudara² laki dan perempuanku. Aku masih berada dalam jarak dua jam menyetir kendaraan dari rumahku, tapi aku sengaja berjalan lambat. Aku ingin menikmati kemerdekaanku.

Aku berjalan selama dua mil, sambil menghirup udara segar yang memenuhi paru²ku dan menikmati sunyi senyap lingkungan dengan telingaku. Setelah mulai merasa jadi manusia utuh lagi, aku lalu memanggil sebuah taksi untuk membawaku ke pusat kota. Taksi yang lain membawaku ke Nablus, lalu Ramallah, dan sampai di rumahku.

Naik mobil melalui jalanan Ramallah, melihat toko² dan orang² yang kukenal, membuat aku ingin loncat dari taksi dan menyapa mereka semua. Sebelum aku melangkah keluar dari taksi yang berhenti di depan rumahku, aku melihat ibu berdiri di depan pintu. Airmata bercucuran di pipinya saat dia memanggilku. Dia berlari ke arah mobil dan lengannya memelukku erat². Sewaktu dia memelukku dan menepuk-nepuk punggung, bahu, wajah, dan kepalaku, semua rasa sakit yang ditanggungnya selama 1 1/2 tahun tumpah keluar.

“Kami telah menghitung hari menantikan kedatanganmu,” katanya.

“Kami sangat khawatir tidak akan melihatmu lagi. Kami sangat bangga akan dirimu, Mosab. Kau benar² pahlawan sejati.”

Sama seperti ayahku, aku tahu aku tidak bisa menceritakan pada ibu atau saudara²ku apa yang telah kualami. Keterangan seperti itu akan terlalu menyakitkan mereka. Bagi mereka, aku adalah pahlawan yang ditawan di penjara Israel bersama pahlawan² lainnya, dan sekarang aku sudah pulang ke rumah.

Mereka malah memandang hal ini sebagai pengalaman yang baik bagiku. Apakah ibuku tahu akan senjata² yang dulu kubeli? Iya. Apakah dia menganggap itu sebagai perbuatan bodoh? Mungkin, tapi semuanya itu dianggap sebagai bagian dari usaha menentang pendudukan dan karenanya bisa diterima.

Kami merayakan hari kebebasanku dan kami makan enak dan bercanda, sebagaimana yang dulu selalu kami lakukan bersama. Rasanya seperti aku tidak pernah pergi saja. Dan selama beberapa hari, banyak teman²ku dan teman² ayahku datang untuk bergembira bersama kami.

Aku tinggal di rumah selama beberapa minggu, menikmati semua kasih sayang di sekitarku dan makan masakan ibu yang enak. Lalu aku keluar untuk menikmati pemandangan sekitar, suara² dan aroma yang sangat kurindukan. Di malam hari, aku pergi ke pusat kota bersama teman²ku – makan falafel di Mays Ar Rim dan minum kopi di Kit Kat bersama Basam Huri, pemilik warung kopi. Sewaktu aku berjalanjalan di jalanan yang ramai dan bicara dengan teman²ku, aku menyerap semua rasa damai dan merdeka.

Diantara waktu ayah dilepaskan dari penjara PA dan dia ditangkap kembali oleh Israel, ibuku hamil lagi. Hal ini mengejutkan kedua orangtuaku, karena mereka sebenarnya tidak mau lagi punya anak setelah kelahiran adik perempuanku Anhar tujuh tahun yang lalu. Sewaktu aku pulang dari penjara, ibu telah hamil enam bulan dan kandungannya semakin besar. Lalu ibu mengalami kecelakaan patah pergelangan kaki, dan proses kesembuhan berlangsung sangat lamban karena bayi dalam kandungannya menyerap semua kalsium di tubuh ibu. Kami tidak punya kursi roda sehingga aku harus menggendongnya ke mana dia harus pergi.

Dia sangat menderita kesakitan, dan aku sungguh sedih melihat keadaannya seperti itu. Aku punya SIM sehingga kami bisa melakukan berbagai hal dan belanja. Ketika akhirnya Naser lahir, aku mengambil tanggung jawab memberinya makan, memandikannya, dan mengganti popoknya. Dia memulai hidupnya dengan mengira akulah ayahnya.

Sudah tentu aku gagal menjalani ujian akhir SMA dan tidak lulus SMA. Mereka menawarkan ujian pada kami semua di penjara, tapi aku adalah satu²nya tawanan yang tidak lulus ujian. Aku tidak pernah mengerti mengapa, sebab wakil dari Departemen Pendidikan datang ke penjara dan memberi semua orang kertas jawaban sebelum ujian dilakukan. Sungguh gila.

Seorang tawanan berusia 60 tahun dan buta huruf meminta orang lain menulis jawaban ujian baginya. Dan ternyata bahkan dia pun lulus ujian! Aku punya jawaban ujian, ditambah lagi aku telah bersekolah selama 12 tahun sehingga tahu akan materi pertanyaan. Tapi ketika hasil ujian keluar, semuanya lulus kecuali aku sendiri. Satu²nya penjelasan yang bisa kupikirkan adalah mungkin Allâh tidak mau aku lulus dengan cara mencontek.

Maka ketika aku keluar dari penjara, aku mulai mengambil kelas malam di Al-Ahlia, sebuah sekolah Katolik di Ramallah. Kebanyakan muridnya adalah Muslim tradisional yang datang ke situ karena sekolah itu adalah yang terbaik di kota. Karena kelas berlangsung di malam hari, maka aku bisa kerja di siang hari di toko hamburger Checkers untuk mencari nafkah bagi keluargaku.

Aku hanya mendapat angka 64% dari ujian²ku, tapi ini sudah cukup untuk lulus. Aku tidak belajar dengan serius karena aku tidak terlalu suka dengan mata pelajarannya. Aku tidak peduli. Aku cukup senang bisa tamat SMA.

Bersambung – Jalan ke Damaskus – Seri 1

Leave a Reply

Your email address will not be published.