Isu-Isu Terkini,  Kesaksian Kristen,  Komparasi

Jalan ke Damaskus seri – 3

Maka sekarang siapakah musuhku sebenarnya?

Aku berbicara dengan Shin Bet tentang penyiksaan di Megiddo. Mereka berkata bahwa mereka mengetahui semua itu. Setiap gerakan tawanan², apapun yang mereka katakan, direkam diam². Mereka tahu tentang pesan² rahasia dalam bola² roti, dan penyiksaan² dalam tenda, dan juga lubang celah di pagar.
“Mengapa kalian tidak menghentikannya?”
“Pertama-tama, kami tidak bisa merubah mentalitas seperti itu.

Bukan tugas kami untuk mengajar Hamas mengasihi satu sama lain. Kami tidak bisa masuk ke kamp penjara dan berkata, ‘Hey, jangan siksa sesama orang; jangan saling siksa satu sama lain,’ dan membuat semua beres. Kedua, Hamas sendiri hancur lebih banyak dari dalam daripada serangan Israel dari luar.”

Duniaku yang dulu kukenal mulai lenyap dengan cepatnya, dan timbul dunia baru yang mulai kumengerti. Setiap kali aku bertemu Shin Bet, aku belajar sesuatu yang baru, sesuatu tentang hidupku, atau hidup orang lain. Semua proses ini bukanlah proses cuci otak melumpuhkan yang diulang-ulang terus-menerus, yang dilakukan dengan siksaan larangan makan atau tidur.

Apa yang diajarkan orang²Israel ini lebih masuk akal dan lebih nyata daripada apapun yang telah kudengar dari masyarakatku.

Ayahku tidak pernah mengajarku segalanya yang baru ini karena dia terus-menerus berada di penjara. Dan terus terang, aku menduga dia pun tidak bisa mengajarku tentang hal baru ini karena ayahku sendiri tidak tahu akan hal itu.

Dari tujuh buah pintu gerbang kuno yang menjadi jalan masuk ke Kota Tua Yerusalem, satu pintu gerbang dihiasi lebih dari yang lainnya. Pintu Gerbang Damaskus, didirikan oleh Raja Sulaimaan hampir 500 tahun yang lalu, terletak di dekat tengah tembok utara. Pintu gerbang ini penting karena merupakan pintu yang membawa orang masuk ke Kota Tua di perbatasan daerah di mana Lapangan Daerah Muslim (Muslim Quarter) bertemu dengan Lapangan Daerah Kristen (Christian Quarter).

Di abad pertama, seorang pria bernama Saulus dari Tarsus melewati versi asli dari pintu gerbang ini dalam perjalanannya ke Damaskus, di mana dia berencana untuk melakukan penindasan brutal terhadap sebuah aliran Yudaisme yang dianggapnya sesat. Target penindasannya adalah umat Kristen.

Sebuah pertemuan mengejutkan yang dialaminya tidak saja membatalkan perjalanannya, tapi juga merubah hidupnya untuk selamanya.

Dengan semua latar belakang sejarah yang berhubungan dengan tempat kuno ini, maka seharusnya aku tak perlu merasa heran jika mengalami kejadian di sana yang merubah diriku selamanya pula. Pada suatu hari, aku dan sahabatku Jamal sedang berjalan melalui Pintu Gerbang Damaskus. Tiba² aku mendengar suara menyapaku.

“Siapakah namamu?” seorang pria yang tampak berusia sekitar 30 tahun bertanya padaku dalam bahasa
Arab, meskipun jelas dia bukan orang Arab.
“Namaku Mosab.”
“Mau kemana kau, Mosab?”
“Kami mau pulang. Kami berasal dari Ramallah.”
“Aku dari Inggris,” katanya, kali ini dalam bahasa Inggris. Meskipun dia lalu terus bicara, aksennya sangat kental sehingga aku tidak mengerti perkataannya. Setelah sedikit menduga-duga, akhirnya aku bisa mengerti bahwa dia sedang bicara tentang agama Kristen dan kelompok Belajar Alkitab akan berkumpul di YMCA (Young Men’s Christian Association = Perkumpulan Pemuda Kristen) di Hotel King David di Yerusalem Barat.

Aku tahu tempat itu. Aku sedang sedikit bosan saat itu dan berpikir mungkin menarik juga untuk belajar tentang agama Kristen. Jika aku bisa belajar begitu banyak dari orang² Israel, mungkin “kafir” lain juga punya hal berharga untuk disampaikan padaku pula. Selain itu, setelah bergaul dengan berbagai orang seperti Muslim KTP, Muslim radikal, atheis, orang² yang terpelajar maupun yang tidak, pengikut sayap kiri atau kanan, Yahudi dan non-Yahudi, maka aku jadi tidak pilih² lagi.

Orang yang tampak sederhana ini mengundangku untuk datang dan bicara, bukan untuk memilih Yesus di Pemilu.

“Bagaimana menurutmu?” aku bertanya pada Jamal. “Apakah kita harus pergi ke sana?”

Jamal dan aku sudah saling kenal sejak kami masih sangat kecil. Kami pergi ke sekolah yang sama, melempar batu bersama, dan mengunjungi mesjid bersama pula. Jamal adalah pria tampan yang tingginya 182 cm, dan dia tidak banyak bicara. Dia jarang memulai percakapan, tapi dia adalah pendengar yang sabar. Kami tidak pernah bertengkar mulut, sekalipun tidak.

Bersambung Jalan ke Damaskus Seri – 4

Leave a Reply

Your email address will not be published.