Isu-Isu Terkini,  Kesaksian Kristen,  Komparasi

Intifada Kedua Seri – 1

Pertemuan camp David antara Perdana Menteri Israel Ehud Barak, Presiden Amerika Bill Clinton dan pemimpin Palestina Yasser Arafat, di tanggal 25 Juli, 2000

Musim Panas – Musim Rontok 2000

Hamas – yang dulu merupakan kekuatan dominan di Palestina – sekarang mulai goyah. Saingan berat Hamas yang juga berusaha menarik simpati massa sudah berkuasa penuh.

Melalui intrik politik dan pembuatan perjanjian, Pemerintahan Palestina (Palestinian Authority = PA) telah berhasil mencapai apa yang tidak bisa dicapai Israel melalui kekuasaannya yang besar. PA telah menghancurkan sayap militer Hamas dan memasukkan pemimpin² dan pejuang²nya ke dalam penjara. Meskipun telah dibebaskan dari penjara, anggota² Hamas pulang dan tidak melakukan apapun terhadap PA dan kekuasaannya. Para feda’iyin muda kecapekan. Para pemimpin mereka terpecah-belah dan sangat curiga satu sama lain.

Ayahku juga hanya mengurus kepentingan keluarga saja, dan dia kembali bekerja di mesjid dan kamp² penampungan. Sekarang jika dia bicara, dia bicara dalam nama Allâh, dan bukan lagi sebagai pemimpin Hamas. Setelah bertahun-tahun berpisah karena dipenjara, aku menggunakan kesempatan sebaiknya untuk bepergian dan menghabiskan waktu bersamanya lagi. Aku rindu saat² kami ngobrol panjang lebar tentang kehidupan dan Islam.

Sewaktu aku terus melanjutkan membaca Alkitab dan belajar tentang agama Kristen, aku mendapatkan diriku tertarik sepenuhnya dalam kemuliaan, kasih sayang, dan sikap rendah hati yang disampaikan Yesus. Anehnya, sikap² seperti inilah yang membuat orang² datang pada ayahku – dia adalah salah satu Muslim yang paling berbakti yang pernah kukenal.

Tentang hubunganku dengan Shin Bet, karena sekarang Hamas tidak lagi berkuasa dan PA mengontrol keadaan agar tetap tenang, maka tampaknya tak ada yang harus kukerjakan bagi mereka. Kami hanya berteman baik saja. Mereka bisa mempersilakan aku pergi kapan pun mereka mau, atau aku pun bisa minta permisi pada mereka kapan pun aku mau.

Pertemuan Camp David antara Yasser Arafat, Presiden Amerika Bill Clinton, dan Perdana Menteri Israel Ehud Barak berakhir pada tanggal 25 Juli, 2000. Barak telah menawarkan Arafat kekuasaan 90% dari seluruh Jalur Gaza, dan bagian Timur Yerusalem sebagai ibukota negara Palestina. Selain itu, dana uang internasional akan dikumpulkan untuk membayar ganti rugi bagi masyarakat Palestina yang kehilangan harta benda saat bagian daerah itu dikuasai Israel. Tawaran “tanah suci” ini merupakan kesempatan bersejarah dan tawaran sangat langka yang tak terbayangkan sebelumnya bagi masyarakat Palestina yang telah lama menderita. Akan tetapi, tawaran bernilai sangat besar ini tidak juga memuaskan Arafat.

Yasser Arafat telah jadi sangat kaya raya karena posisinya sebagai simbol korban penindasan di mata internasional. Dia tidak mau kehilangan kedudukannya dan menanggung tanggung jawab untuk membangun sebuah negara yang benar² berfungsi dalam mengurus masyarakatnya.

Karena itulah, dia bersikeras meminta semua pengungsi diperbolehkan kembali ke tanah² yang dulu mereka miliki di tahun 1967 – persyaratan yang dia tahu betul akan ditolak oleh Israel.

Meskipun penolakan Arafat terhadap tawaran Barak merupakan kerugian sangat besar bersejarah bagi masyarakat Palestina, Arafat kembali pulang ke Palestina dengan dianggap sebagai pahlawan yang berani menantang Presiden AS dengan menolak mundur dan tetap pada keputusannya di hadapan seluruh dunia.

Arafat lalu muncul di TV dan seluruh dunia menonton sewaktu dia khotbah tentang betapa besar cintanya akan masyarakat Palestina dan kesedihannya akan jutaan keluarga yang hidup di kamp² penampungan.

Setelah aku ikut bepergian bersama ayah dan menghadiri pertemuan² dengan Arafat, aku mulai melihat sendiri bagaimana orang ini sangat senang jadi perhatian media massa. Dia tampaknya sangat menikmati dianggap sebagai Che Guevara Palestina dan sederajat dengan para raja, presiden, dan perdana menteri.

Yasser Arafat dengan jelas mengakui bahwa dia ingin jadi pahlawan yang ditulis di buku² sejarah. Tapi tatkala aku melihatnya, inilah yang kupikirkan: Ya, biarlah dia diingat dalam buku² sejarah kami, bukan sebagai pahlawan, tapi sebagai pengkhianat yang menggunakan bahu masyarakatnya untuk ditungganginya, sebagai Robin Hood terbalik yang mencuri dari masyarakatnya yang miskin untuk membuat dirinya kaya raya, sebagai sepotong daging babi murahan yang membeli ketenarannya dengan darah masyarakat Palestina.

Juga menarik untuk menilai Arafat melalui sudut pandang para agen rahasia Israel. “Gimana sih orang ini?” kata pembimbing Shin Bet-ku suatu hari. “Kami tidak pernah menyangka para pemimpin kami bisa rela mengajukan tawaran begitu besar pada Arafat. Tidak pernah! Dan lalu Arafat menolaknya?” Memang sesungguhnya Arafat telah ditawari kunci² perdamaian di Timur Tengah dan juga sebuah negara berdaulat utuh bagi masyarakat Palestina – dan dia membuang tawaran besar ini begitu saja.

Sebagai hasilnya, korupsi yang dilakukan diam² terus saja berlangsung. Tapi keadaan tidak tetap diam untuk waktu yang lama. Bagi Arafat, dirinya akan lebih banyak beruntung jika masyarakat Paletina terus berdarah. Sebuah intifada yang baru tentunya akan membuat darah terus mengalir dan kamera² media massa Barat akan berputar sekali lagi.

Pendapat para pemerintah dunia dan juga media massa menyatakan pada kita bahwa Intifada Kedua berdarah terjadi secara spontan karena kemarahan masyarakat Palestina terhadap kedatangan Jendral Ariel Sharon ke kompleks Temple Mount (Mesjid di Bukit atau Mesjid al-Aqsa yang berkubah emas). Tapi seperti biasanya, pendapat umum itu salah.

Di sore hari tanggal 27 September, ayahku mengetuk pintu kamarku dan bertanya apakah aku bisa mengantarkannya pakai mobil ke rumah Marwan Barghouti esok pagi setelah sholat fajar.

Bersambung ke Intifada Kedua Seri – 2

Leave a Reply

Your email address will not be published.